Wednesday, 15 June 2016

SAHABAT BUMI


Hari ini, 5 Juni 2016 adalah Hari Lingkungan Hidup Se-dunia alias World Environment Day. Tujuan dari penetapan Hari Lingkungan Hidup oleh PBB adalah untuk meningkatkan kesadaran global dalam memelihara alam di planet bumi ini. TUHAN Sang Pencipta memiliki relasi yang sangat dekat dengan ciptaan-Nya (Mazmur 104). Pemazmur mengatakan, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membarui muka bumi” (Mzm. 104: 30). Dalam bukunya, The Space Between, Eric O. Jacobsen (2012, 32) memaparkan bahwa kita hidup di antara Taman Eden dan kota Yerusalem Baru. Kehidupan manusia merupakan sebuah perjalanan dari Taman Eden menuju kota Yerusalem Baru. Perjalanan tersebut tidak sebatas melewati waktu, tetapi sebuah kehidupan yang semestinya bahagia dan berkelimpahan (The good and flourishing life).

Inner City Christian Federation (ICCF) di Grand Rapids, Michigan memiliki misi dalam menciptakan lingkungan tempat tinggal yang manusiawi. Mereka menganut nilai bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan patut dihargai dan memperoleh kesempatan untuk hidup di lingkungan tempat tinggal yang layak, dan keindahan merupakan hadiah dari Allah untuk memperkaya kehidupan manusia. Wolterstorff (2013, Kindle Edition: Location 3376) dalam karyanya, Journey toward justice, menyatakan bahwa kesempatan untuk tinggal di lingkungan yang indah dan nyaman bukanlah sebuah pilihan kemewahan melainkan karena keadilan menuntutnya. Ciptaan TUHAN tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik kita tetapi juga untuk kesenangan kita (Yes. 25:6).

Melelehnya es di kutub akibat pemanasan global telah menenggelamkan beberapa pulau dan telah memaksa sebagian penghuni berpindah dari pulau-pulau tersebut ataupun berpindah ke dataran yang lebih tinggi. Bagaimana apabila persoalan ini terus dibiarkan? Bukankah dampaknya akan semakin parah? Sebagian orang mungkin beragumen, bukankah dengan merusak alam dapat mempercepat kedatangan Kristus. Dalam tulisan pendek ini, saya tidak bisa mendiskusikan perdebatan pandangan dua-kerajaan dengan pandangan Neo- Calvinisme Kuyper soal penebusan kerajaan (common kingdom). Yang pasti, TUHAN telah mempercayakan manusia untuk memelihara bumi ini, namun justru manusia merusaknya demi mengejar keuntungan. Apabila kita mengasihi generasi berikutnya, semestinya kita mempertimbangkan kelanjutan lingkungan hidup dan bukannya menghancurkannya demi keuntungan di depan mata kita. Hukum Taurat juga mengajarkan akan pentingnya memperhatikan kelangsungan atau kelanjutan alam (sustainability). Misalnya, Ulangan 22:6 yang mengajar tentang melindungi induk burung apabila kita mengambil telurnya dan Ulangan 20:19 yang mengajar tentang melindungi lingkungan hidup demi kelangsungan hidup manusia. Sebagai ciptaan TUHAN, kita adalah sahabat bumi ciptaan-Nya.

Dosa telah menyebabkan segala makhluk menderita (Roma 8:22). Di dalam Kristus, segala sesuatu diciptakan dan Kristus adalah Kepala segala sesuatu (Kol. 1:15-16). Kristus adalah yang mempersatukan seluruh ciptaan (Ef. 1:10). Sebagai Kepala, Kristus tidak meninggalkan ciptaan-Nya tetapi justru Ia memperdamaikan segala sesuatu oleh darah salib-Nya (Kol. 1:20). Terlebih lagi, inkarnasi Kristus dan kebangkitan tubuh, mengimplikasikan perhatian TUHAN terhadap penebusan dan pemulihan ciptaan-Nya. Kita dipanggil untuk melaksanakan mandat budaya (Kej. 1:28) dalam memulihkan dan memperbarui ciptaan Tuhan. Puncak dari pemulihan dilambangkan oleh daun pohon-pohon kehidupan di kota Yerusalem Baru (Wahyu 22:2) sehingga The Green Leaf menjadi simbol pemulihan. Melalui artikel ini saya mengajak Saudara untuk menjadi Sahabat Bumi ciptaan TUHAN! 

PERSAHABATAN YANG MENYENANGKAN

Menurut C. S. Lewis, persahabatan adalah hal yang tidak dibutuhkan sehingga persahabatan bisa ditolak. Seseorang tidak bisa hidup tanpa makanan dan minuman tetapi seseorang bisa tetap bertahan hidup tanpa persahabatan. Persahabatan tidak bisa direncanakan, diagendakan atau dipaksakan. Seseorang tidak wajib menjadi sahabat kita. Persamaan menyatukan sahabat, perbedaan tidak memisahkan sahabat. Bagi Aristoteles, persahabatan adalah yang paling dibutuhkan dan paling agung dalam diri manusia atau dalam ekspresinya, “to take friendship out of life is to take the sun away from the world” (Vanier 2011, Kindle Electronic Edition, Location 2721). Persahabatan memberikan kesenangan dan makna hidup. 

Tradisi perayaan persahabatan telah dimulai sejak tahun 1935 ketika kongres Amerika Serikat  menetapkan Hari Minggu Pertama bulan Agustus sebagai Hari Persahabatan (Friendship Day). Secara bertahap, Hari Persahabatan menjadi semakin populer, terutama di kalangan kawula muda. Namun Minggu Pertama Agustus bukanlah satu-satunya momen perayaan persahabatan. Misalnya, persahabatan wanita dirayakan pada Minggu Ketiga Agustus, Persahabatan Lama (Old Friendship) dirayakan pada Minggu Ketiga Mei, Persahabatan Baru (New Friendship) dirayakan di bulan Februari. Sehingga perayaan persahabatan menjadi semakin beragam. Hal ini mendemonstrasikan betapa dunia mencintai dan menghargai persahabatan. Atas prakarsa Dr. Ramon Artemio Bracho, yang mengusulkan Hari Persahabatan Dunia, lahirlah World Friendship Crusade. Maka mulai tahun 1958, tanggal 30 Juli, dipromosi sebagai Hari Persahabatan Dunia. Kemudian pada tahun 2011, PBB menetapkan 30 Juli  sebagai World Friendship Day. Pada tahun 1998, Kofi Annan menetapkan Winnie the Pooh sebagai World’s Ambassador of Friendship PBB. Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB mengatakan, “I had the opportunity, earlier this year in Paraguay, to commend that pioneer, Dr. Ramon Bracho, for his conviction that just as friendship builds bridges between people, it can also inspire peace in our world”. PBB mendorong pemerintah, organisasi internasional dan masyarakat untuk menyelenggarakan acara-acara yang berkontribusi bagi komunitas internasional dalam rangka mempromosi dialog peradaban, solidaritas, sikap saling memahami dan rekonsiliasi.

Manusia dirancang untuk hidup dalam persahabatan. Gambaran Alkitab terhadap Allah Tritunggal juga mendemonstrasikan persahabatan (perichoresis). Kejadian 3:8 menggambarkan persahabatan Tuhan dan manusia yang menyenangkan - berjalan bersama di taman Eden. Henokh (Kej. 5), Nuh (Kej. 6:9), Ayub (29:4), Abraham (Yak. 2:23), Musa (Kel. 33:11) dikenal sebagai orang-orang yang bersahabat dengan Allah. Bahkan Yesus menegaskan, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh. 5:14).
Amsal 27:9 menulis, “minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa”. Dalam terjemahan Mandarin dan Inggris, kalimat “penderitaan merobek jiwa” diterjemahkan sebagai “nasihat seorang sahabat, menyenangkan jiwa”. Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari menerjemahkan, “Sebagaimana minyak harum dan wangi-wangian menyenangkan hati, demikian juga kebaikan kawan menyegarkan jiwa”. Terjemahan NIV menggunakan istilah “pleasantness of a friend”. Nasihat seorang sahabat yang baik bagaikan minyak dan wangi-wangian yang menyegarkan jiwa. 
Dalam bahasa Latin, kata companion terdiri dari kata com (bersama) dan panis (roti). Dalam bahasa Perancis kuno, compaignon berarti seseorang yang memecahkan roti bersama. Jadi, spiritual companion (sahabat rohani) adalah seseorang yang memecahkan roti besama atau menikmati roti bersama. Kerapuhan merupakan bagian dari persahabatan. Sahabat tidak memaksakan kehendak dan tidak mengorek-ngorek (kepo). Sahabat mendengarkan, memahami dan mengayomi dalam kerapuhan. Persahabatan diuji pada masa krisis. Sebab seorang sahabat tidak bersifat ego-sentris (berpusat pada diri sendiri). Persahabatan yang sehat membangun dan tidak meruntuhkan. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu” (Amsal 17:17). Seorang sahabat tidak menghina, meremehkan, merendahkan, menjatuhkan, mengeksploitasi, memanipulasi, memanfaatkan, mendominasi sahabatnya. Seorang sahabat tidak kepo dan tidak bossy terhadap sahabatnya. Seorang sahabat tidak memperlakukan sahabatnya sebagai competitor alias pesaing. Persahabatan tidak bersifat komersial. Seorang sahabat tidak sok tahu dan menawarkan berbagai solusi bagi sahabatnya melainkan mendampingi dan mendoakannya. Ia peduli pada kehidupan sahabatnya dan mengharapkan kehidupan yang baik (the good life) bagi sahabatnya. Kebaikan (Latin: benevolentia) berarti mengharapkan kebaikan (wish well). Persahabatan mencakup otensitas (keaslian). Persahabatan menyingkirkan kepura-puraan dan topeng, sebaliknya, persahabatan melahirkan otensitas.
Persahabatan yang sehat menyegarkan jiwa dan tidak mengeringkan tulang. Persahabatan dalam Kristus menyatukan dan memulihkan. Persahabatan dalam Kristus memperbarui imago dei (gambar Allah) dalam diri sahabat. Dalam persahabatan rohani, seseorang melihat keindahan dalam diri sahabatnya. Seorang sahabat melihat “excellence” dan “worth” dalam diri sahabatnya. Seorang sahabat memperindah kehidupan sahabatnya. Kita dapat menyimpulkan bahwa “tiada spiritualitas tanpa persahabatan” dan “tiada gereja tanpa persahabatan”. Saya sangat mengharapkan GKI Duta Mas menjadi jemaat yang bersahabat. Kiranya setiap anggota GKI Duta Mas menjalin PERSAHABATAN YANG MENYENANGKAN! 
Soli Deo Gloria!


Lan Yong Xing

Monday, 28 March 2016

Membangkitkan Cinta Kasih

Jumat Agung - Paskah menggambarkan transformasi dari perbudakan Mesir ke Paskah pertama. Perbudakan di Mesir adalah gambaran perlakuan yang me-nonmanusiakan manusia di mana manusia diperbudak sebagai mesin pereknomian dan dieksploitasi untuk mencapai target yang didinginkan Firaun. Tidak ada harga diri selain kuk perbudakan. Tidak ada cinta-kasih, selain cambuk perbudakan. Makanan diberikan hanya agar si budak memiliki tenaga untuk berproduksi. Ia tidak dihargai sebab ia tidak dipandang memiliki martabat sebagai manusia sebab manusia hanya dinilai dari segi “kegunaannya”. Hidup hanya untuk memenuhi kuota dan mengejar target. Manusia diperlakukan sebagai mesin ekonomi untuk membangun kerajaan sang Firaun. Hidup hanya sebatas sebagai mesin produksi. Manusia menjadi budak rasa takut, budak rasa bersalah, budak kebencian, budak kemarahan, budak tidak berpengharapan.

Di Jumat Agung, Kristus menempatkan diri sebagai budak, sebagai yang tidak berharga di hadapan Imam Besar, sang pemimpin rohani, di hadapan Herodes, sang politikus dan di hadapan Pilatus, sang hakim. Imam besar, Herodes dan Pilatus mengira bahwa Yesus ada di genggaman tangan mereka. Orang yang menindas, mengeksploitasi, memperbudak mengira mereka berada di atas orang-orang, mereka merasa dirinya sudah menang dengan menundukkan orang, namun yang sebenarnya tidaklah demikian. Mereka dikelabui oleh “pride” mereka sendiri sehingga tidak lagi melihat persoalan dengan jernih. Jumat Agung tidak mengakhiri hidup Kristus. Tali kekang, cambuk, paku dan kayu salib tidak berhasil memperbudak Yesus. Di Minggu pagi yang gelap itu, Kristus bangkit. Paskah adalah pembaruan ciptaan. Paskah adalah pembebasan dari perbudakan. Paskah memanusiakan manusia. Momen Paskah menyatakan bahwa manusia disayang TUHAN dan tidak lagi diperlakukan sebagai budak. Manusia tidak lagi diperlakukan sebagai alat yang tidak memiliki kebebasan tetapi manusia disebut sebagai anak, sahabat, dan ahli waris. Tuhan bersabda, “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung” (Kel. 4:22-23). TUHAN tidak mengatakan, “Izinkan budakmu pergi” tetapi Ia mengatakan, “biarkan anak-Ku pergi”. TUHAN sedang menegaskan kepada Firaun bahwa manusia yang ia perlakukan sebagai budak adalah anak-Nya. Firaun telah melakukan kesalahan besar. Manusia adalah manusia, bukan budak untuk dieksploitasi.

Pada perjamuan terakhir, Kristus memberikan perintah baru untuk mengasihi yang berbunyi, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Cinta tidak memperbudak. Cinta tidak mengeksploitasi. Sebaliknya, cinta memulihkan, memperbarui, membebaskan dan memanusiakan manusia. Perintah Terutama yang berbunyi, “kasihilah sesamamu seperti mengasihi dirimu sendiri” menegaskan bahwa pada dasarnya manusia mengasihi dirinya sendiri. Kita perlu membedakan mengasihi diri sendiri dengan Narsisme atau egois. Mengasihi diri sendiri bukan egois atau Narsis. Tuhan ingin kita mengasihi sesama dengan kasih yang dipulihkan. Kasih yang dipulihkan adalah kasih yang memulihkan. Kasih adalah kekuatan Paskah. Melalui Kasih, Paskah memulihkan manusia yang berstatus sebagai budak menjadi anak. 

Paskah membangkitkan cinta kasih! Paskah mengubah sikap kita dalam memperlakukan sesama manusia. Mahkota duri yang menghina berubah menjadi mahkota kerajaan yang memuliakan. Cambuk yang menghajar berubah menjadi dialog yang merangkul. Kuk yang memperbudak berubah menjadi kuk yang ringan. Makanan lezat yang memberikan energi bagi si budak berubah menjadi roti yang memberikan hidup. Minuman sebatas penghilang rasa haus berubah menjadi minuman penyegaran jiwa. Paskah membangkitkan Cinta Kasih!

Batam, 28 Maret 2016

Yongxing


Saturday, 5 March 2016

THE TRUE COST - FASHION

Film dokumenter yang disutradari oleh Andrew Morgan membawa kita untuk menyaksikan proses pakaian-pakaian branded di Amerika Serikat di mana perusahan-perusahaan Fashion bermerek, demi penghasilan yang besar, mengeksploitasi pekerja-pekerja murah, merusak lingkungan alam dan tidak peduli dengan polusi yang merusak kesehatan para petani kapas di India maupun kesehatan dan kesejahteraan para penjahit di Bangladesh. Film ini mengisahkan bagaimana bos-bos besar seperti pemilik Zara dan H&M meraup kekayaan. Kita bisa dengan mudah membeli celana jean seharga Rp. 70,000  atau T-Shirt berharga Rp. 50,000. “Siapa yang membayar harga mahal sehingga kita bisa memperoleh fashion murah?”, tanya Morgan. Film dokumenter tersebut mengungkapkan bagaimana pakaian-pakaian murah tersebut mengubah paradigma kita sehingga kita tidak lagi menghargai pakaian melainkan menganggap pakaian sebagai barang yang bisa kita buang kapan saja.

Pakaian merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Pakaian tidak sebatas untuk menutupi aurat, maupun untuk melindungi tubuh kita.Pakaian juga mengkomunikasikan siapa kita, kepribadian kita. Pakaian dipilih berdasarkan style dan harga. Beberapa tahun terakhir, harga pakaian turun secara drastis karena ketatnya persaingan pabrik garmen. Begitu cepatnya proses pembuatan pakaian sehingga setiap minggu akan ada pakaian-pakaian baru yang muncul di pasar.

Beberapa hal yang diusut dalam film tersebut, di antaranya:
Promosi pakaian mengandalkan model-model yang sangat kurus. Bagaimana dengan dampak sosialnya terutama terhadap remaja?

Setiap pabrik harus menghemat dana agar dapat tetap bertahan dalam persaingan yang ketat. Demi bertahan hidup dalam persaingan para pengelola pabrik menindas karyawan-karyawatinya. Hal ini menjadi rantai yang membelenggu.

Salah satu pabrik di Bangladesh - Para karyawati mengajukan sebuah daftar permohonan kepada pihak manajemen. Kemudian pihak Manajemen mengunci pintu pabrik dan mengutus 30-40 pria untuk memukuli para pekerja wanita dengan kayu dan kursi.

Bangladesh - Para pekerja sudah memberitahu pihak manajemen bahwa gedung tersebut tidak aman karena retaknya yang parah tetapi pihak manajemen tetap memaksa mereka untuk bekerja. Akibatnya, 1000 orang meninggal dalam bencana akibat ulah (ketamakan) manusia tersebut. Mengapa perusahaan tidak bisa menjamin keselamatan pekerjanya?

Perusahaan mengambil keuntungan dengan alasan kita menyediakan kesempatan bagi para pekerja. Tetapi bukankah mereka butuh tempat pekerjaan dan penghargaan yang layak.

Monopoli tanah pertanian juga salah satu aspek yang sangat memprihatikan. Para petani dibuat agar mereka dililit untuk untuk memperoleh bahan peptisida sehingga akhirnya mereka harus menjual tanah mereka demi kelangsungan hidup.



Bagaimana dengan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan? 
Penggunaan peptisida yang berlebihan pada tanaman. 
Penanganan zat pewarna pakaian yang merusak pakaian.
Dr. Pritpal Singh - Orang-orang yang tinggal di lingkungan produksi peptisida dan zat pewarna pada menderita penyakit seperti kecacatan fisik, kanker bahkan keterbatasan mental.
Dalam satu desa ada 60 anak yang cacat dan penurunan kemampuan mental. Orangtua hanya menanti kemantian anak-anak mereka.
Ternyata, perusahaan yang membuat peptisida juga adalah perusahaan yang membuat yang membuat obat. Jadi makin banyak yang sakit, omzet mereka semakin tinggi.

Proses pembuatan pakaian melibatkan “air, tanah, bahan kimia dan banyak orang“. Dan semoga tidak mengejutkan bahwa Fashion berada di dalam posisi kedua setelah minyak bumi sebagai sumber polusi terbesar di dunia.

Hargailah pakaian Saudara sebab ia telah melalui proses yang panjang. Dengan susah payah, para petani dan penjahit menghasilkan pakaian yang Saudara kenakan. Sehingga kita tidak semestinya bersikap tidak peduli karena merasa bahwa pakaian dapat kita peroleh dengan mudah.

Bagaimana dengan dampak psikologis?
Tim Kasser Ph.D berpendapat bahwa semakin seseorang berfokus pada material dan mengejarnya sebagai kepuasan mereka semakin depresi dan semakin tidak bahagia. Iklan bagaikan sebuah “propoganda” yang mengubah hidup seseorang. Kesuksesan periklanan dibangun atas dasar bahwa produk yang Anda beli dikaitkan dengan kepercayaan diri pembeli. Periklanan secara berulang-ulang menyuntikkan pesan kepada konsumen “Aku berkompetensi karena mengendarai mobil ini. Aku hebat dan tampak smart karena mengenakan pakaian tertentu”. “Anda sedang dalam masalah? Anda sedang sedih dan tidak bahagia? Berbelanjalah!

Rumah, pendidikan, kesehatan semakin mahal, semakin tidak terjangkau.Tetapi pakaian semakin murah sehingga pakaian (fashion) menjadi penghibur bagi kita terutama ketika kita tidak mampu membiayai rumah, pendidikan, kesehatan yang kian hari kian mahal.

Dua jenis produk:
Barang yang dipakai dan digunakan dalam waktu yang panjang
Barang yang kita pakai dan kemudian habis seperti makanan dan tisu.

Persoalannya, pakaian digunakan seolah-olah sebagai barang sekali pakai-buang. Dan akibatnya, Sampah pakaian yang semakin menumpuk (landfill). Misalnya, di kota Heiti menumpuk pakaian yang dijual kiloan dari organisasi-organisasi sosial dari berbagai negara. Pakaian semestinya bukan menjadi produk yang disposable


INGATLAH! Careless production and endless consumption!


Jadilah konsumen yang bijak! Barang tidak menambah nilai diri (inherent-worth), barang hanyalah alat (instrumental-goods) untuk Saudara gunakan demi kebaikan bersama (common good). Pergunakanlah setiap barang (perlengkapan) yang Tuhan karuniakan bagi Saudara sebagai agent of human flourishing! (Agen Shalom).

Batam, 5 Maret 2016
Lan Yong Xing

Monday, 9 November 2015

PENTINGKAH TEMPAT BAGI MANUSIA?

Dalam Acara Kebaktian Syukur Penempatan Rumah Baru Dkn. Sudiono
Batam, 8 November 2015 - Lan Yong Xing



Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni” (Yes. 58:12)

Di manakah engkau? Inilah pertanyaan pertama yang diajukan oleh Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya (Adam dan Hawa yang bersembunyi di antara pohon-pohon dalam taman karena ketakutan). “Di mana” menunjukkan sebuah tempat, lokasi, lingkungan, gedung, daerah, wilayah… Pertanyaannya adalah apakah tempat berperan penting dalam kehidupan manusia? Ada orang-orang yang menganut pandangan bahwa “tempat” atau lingkungan yang dibangun manusia (built-environment) adalah bagian yang tidak penting karena yang terpenting adalah spiritualitas, relasi dan komunikasi antar manusia. Dengan kata lain, tempat dipandang tidak berperan penting dalam kehidupan manusia. Sehingga teknologi komunikasi dianggap bisa menggantikan peran sebuah tempat dalam relasi manusia. Karena peran tempat dipandang tidak signifikan maka muncullah pemikiran bahwa sebenarnya gedung gereja tidak diperlukan, toh yang penting adalah pertemuannya sehingga cukup beribadah di tempat-tempat umum seperti di ruang-ruang pertemuan atau cukup beribadah di rumah masing-masing menggunakan teknologi komunikasi. 

Apabila tempat tidak terlalu signifikan bagi kehidupan manusia maka menjadi “yang memperbaiki tembok yang tembus” dan “yang membetulkan jalan” juga menjadi tidak terlalu penting. Maka tidak penting di mana kita memilih tempat tinggal, di mana lokasi perusahaan maupun gudang kita. Menjadi tidak penting pula untuk memilih tempat tinggal yang kondusif untuk pertumbuhan anak maupun kondusif demi “ramah lingkungan” (jarak rumah ke kantor, sekolah, rumah ibadah). Namun, benarkah demikian? Kisah ibu Mencius (Mengzi) tiga kali pindah rumah mendemonstrasikan peran lingkungan terhadap seseorang. Pertama, karena tinggal dekat kuburan, ibunya memperhatikan Mengzi sering bermain mempraktekkan upacara penguburan. Maka ibu Mencius memutuskan untuk pindah ke pasar. Mencius yang masih kecil bermain memotong babi dan berjualan makanan bersama teman-temannya. Maka ibunya memutuskan untuk berpindah lagi ke lingkungan dekat sekolah. Melihat Mencius menghafal ajaran Confucius, maka ibunya yakin dia memilih lokasi tempat tinggal yang tepat buat putranya. Mencius bertumbuh dewasa menjadi seorang filsuf yang terkenal di China bahkan hingga seluruh dunia. Lingkungan tempat tinggal (built-environment) berperan dalam membentuk diri kita. Pada mulanya kita membentuk lingkungan tempat tinggal kita dan kemudian lingkungan membentuk diri kita. Ketika kita tinggal di sebuah lingkungan tertentu, arsitektur, sejarah, budaya setempat dan pemaknaan ingatan kolektitf (collective memories) ikut berdampak dalam hidup kita. 

Perintah TUHAN kepada manusia untuk “memenuhi bumi” dan “menaklukkan ciptaannya” mengandung arti mengembangkan dan menatalayani atau mengurus dengan penuh tanggungjawab. Sayangnya, bagian perintah TUHAN ini sering dipahami sebagai legalisasi untuk mengeksploitasi dan merusak ciptaan Allah. Sejarah keselamatan Allah yang dimulai di taman Eden (pakaian dari kulit binatang yang dibuat Tuhan untuk Adam dan Hawa) dan berakhir di Yerusalem Baru - The Garden City menggambarkan akan pentingnya tempat lingkungan bagi manusia sehingga Tuhan mendesain The Garden City bagi kebahagiaan manusia yang diselamatkan-Nya.   

Sekarang, kita perlu memikirkan satu pertanyaan lagi yakni apakah kita menganut konsept dua kota atau tiga kota?

Kota Allah (City of God)
Kota Dunia (City of the World)
Ibadah
Bisnis
Pembelajaran Alkitab
Pendidikan
Persekutuan
Seni
Pelayanan Sosial
Arsitektur
Penginjilan
Politik


Dalam konsep dua kota, dua bagian ini saling bertentangan yang satu mencari kemuliaan Allah dan yang satu lagi mencari kemuliaan manusia. 









Kemuliaan Allah
Soli Deo Gloria
Kota Ketiga 
(Coram Deo - Di hadapan Allah)




Kemuliaan Manusia

Ego manusia
Self-entitlement
Self-glorification
Self-deification
Ibadah
Persekutuan
Pemahaman Alkitab
Pelayanan Sosial
Pertanian
Ekonomi
Seni
Pendidikan
Politik


Menurut konsep tiga kota, ada dua orientasi yang saling tarik-menarik yaitu orientasi terhadap kemuliaan Allah dan terhadap kemuliaan manusia. Sebuah ibadah bisa memuliakan Allah juga bisa memuliakan manusia misalnya ketika pendetanya diagung-agungkan karena talentanya atau musik ibadahnya, tata ruang ibadah menjadi sanjungan, segala sesuatu dalam ibadah diaggungkan kecuali Tuhan Sang Pencipta. Pelayanan sosial bisa memberkati sesama tetapi juga bisa digunakan untuk praktek korupsi maupun kemuliaan tokoh tertentu. 

Peran serta manusia dalam menghadirkan Kerajaan Allah bagaikan menyumbang paku, pasir, semen, besi, kayu, papan. Namun Arsitek, Designer dan Insinyurnya adalah Tuhan sendiri. Yesus mengajarkan akan pentingnya mendoakan kehadiran Kerajaan Allah. Yesus juga mengajarkan kita untuk mencari dahulu Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah berkarakteristikan damai sejahtera, keindahan, harmonis, sejuk, nyaman, adil, bahagia, ramah…yang tercakup dalam kata Shalom

Kiranya Shalom TUHAN juga dihadiahkan kepada Bapak Ho (ayah dari ibu Fikian) yang berusia 70 tahun. Saya ucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada Bapak Ho. Tuhan bersabda, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yes. 46:4).



Menu sedap siap dimakan
Dipersiapkan Pak Sudiono dan Nyonya
Doa berkat kami panjatkan
Berbahagia kini dan selamanya

















LEMAH, NAMUN BERKENAN DI HADAPAN ALLAH

Pendahuluan
Kita berada di dunia yang menggunakan kompetensi dan kemewahan sebagai standar kesuksesan. Seseorang dinyatakan berhasil apabila ia mampu meraih prestasi tertentu, studi di sekolah tertentu, beralamat di lokasi tertentu, mengendarai kendaraan tertentu, menggunakan merek tertentu, berlibur ke negara tertentu…Orang-orang yang tidak berhasil mencapai standar-standar tersebut maka dia dianggap belum berhasil atau bahkan gagal. Seseorang yang berhasil memiliki banyak fans, pengkagum, duduk di posisi terdepan dan memperoleh hak keistimewaan. Kisah-kisah Alkitab justru memberikan sudut pandang yang berbeda, yang kerapkali bertolak belakang dengan standarisasi tersebut. Yesus mengkritik orang-orang Farisi yang suka memberikan pertunjukkan rohani - “jubah panjang, suka berada di depan, di tempat terhormat dan doa yang panjang-panjang” (Mark. 12:38-39). Standarisasi demikian bermotto “I am seen therefore I am” (aku dilihat maka aku ada). Tidak heran, apabila manusia melakukan segala sesuatu agar dapat dilihat dan diterima. Begitu juga dengan orang-orang yang memberikan persembahan. Karena persembahan menggunakan koin, persembahan yang banyak yang sangat terkesan karena bunyi “ting…ting…ting…ting…ting” (berulang kali) di saat memasukan uang ke dalam kotak persembahan. Sedangkan persembahan seorang janda yang dipuji Yesus hanya berbunyi, “ting… ting” (nada pelan). Walaupun pemberiannya kecil, tetapi dia memberikan dari kekurangannya (Mark. 12:44). Yesus bahkan menegaskan bahwa janda tersebut memberikan terbanyak dari semua yang memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Alkitab jelas tidak memberikan pengaguman kepada orang-orang yang dipandang hebat, berprestasi dan penuh pencapaian di dunia. Sebaliknya Alkitab menggambarkan bahwa TUHAN memberikan perhatian khusus kepada orang-orang yang lemah, sengsara, diremehkan, diperlakukan secara tidak adil, ditindas, miskin…


Identitas Rut yang lemah
Rut adalah seorang perempuan Moab. Siapa itu Moab? Moab merupakan anak dari Lot  dengan putri sulungnya(Kej. 19:37). 

Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab, dialah bapa orang Moab yang sekarang. Yang lebih mudah pun melahirkan…. Ben-Ami… Amon

Sehingga ketika penulis mengatakan perempuan Moab, hal ini untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang keturunan haram, seorang yang tidak terhomat. Orang Moab juga dikenal sebagai penggoda lelaki. Mereka mengajak bangsa Israel untuk berzinah (Bil. 25:1). Hal tersebut membangkitkan amarah TUHAN yang mengakibatkan 24.000 orang meninggal pada hari itu. Orang-orang Moab termasuk orang-orang yang dilarang untuk beribadah, atau memasuki jemaah Yahweh  - “Seorang Amon atau seorang Moab, janganlah masuk jemaat TUHAN…sampai selama-lamanya” (Ul. 23:3).

Apakah Saudara memandang remeh diri sendiri atau bahkan membenci diri sendiri oleh karena suku Saudara atau karena lahir di dalam keluarga miskin atau karena cacat fisik? Apakah Saudara meremehkan diri sendiri karena kurang tinggi, kurang kurus, kurang berbobot, kurang cantik? Apakah Saudara membenci diri sendiri karena kurang berkemampuan, kurang berprestasi? Saudara, Rut tidak meremehkan dirinya sendiri sebagai perempuan Moab. Ingatlah, tidak ada orang yang bisa meremehkan diri Saudara kecuali Saudara meremehkan diri sendiri.

Status Rut yang lemah
Suami Rut, Mahlon meninggal dunia. Walaupun didesak oleh mertuanya untuk tetap tinggal di Moab dan menikah lagi, karena dia masih muda, namun dia bersikeras untuk mengikuti mertuanya ke Betlehem. Persoalannya, sebagai orang Moab, dia akan sangat menderita di Betlehem dengan budaya yang berbeda, apalagi sesuai hukum Taurat dia dilarang memasuki jemaah Yahweh. Hal ini ditambah, dia adalah seorang janda miskin. Setiba di Betlehem, dia mengambil status sebagai seorang pengemis untuk memunguti jelai-jelai gandum yang berjatuhan di tanah (Im. 19:9-10; 23:22; Ul. 24:19). 

Sebagai orang lemah, dia tidak bertindak semena-mena maupun merusak ladang orang lain. Dia tidak membenci orang kaya karena dirinya miskin. Dia tidak barang milik orang lain karena iri. Dia tidak iri hati dengan orang-orang yang “lebih beruntung” daripada dirinya.


Sikap Rut
Rut tidak meninggikan diri juga tidak meremehkan dirinya. Walaupun identitas Rut menyebabkan dia sebagai masyarakat kelas dua - pribadi kelas ekonomi, pribadi rendahan, pribadi yang diremehkan dan pribadi yang lemah. Identitas Rut bagaikan orang yang tidak sanggup mengangkat kepalanya. Namun demikian, Rut merupakan seorang yang terhormat. Boaz, sang pemilik ladang menghormati karakter Rut. 

Rut memiliki karakter yang indah, dia meminta izin dari pengurus ladang sebelum mulai memunguti jelas. Rut adalah seorang yang sopan, di zaman kini, sopan santun bagaikan hal yang semakin hari semakin langka. Tidak menyapa dengan nama, memotong antrian, bersikap kasar semakin lazim. Ucapan terima kasih, maaf, permisi juga semakin langka. Dan Rut juga merupakan seorang pekerja keras, dia bekerja tanpa berhenti memunguti jelai gandum. Saudara, apabila kita berada di posisi lemah, dan kita berkarakter malas, maka tidak mungkin ada kesempatan bagi kita untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Dalam nilai kekristenan, kemalasan termasuk dosa.

Intervensi TUHAN dan Peranserta manusia 
Seperti janda yang memperoleh perhatian Yesus dari sekian banyak orang yang memberikan persembahan, Rut memperoleh perhatian Tuhan. Nah, dari sekitar 7 miliar penduduk bumi,  apakah Saudara ingin memperoleh perhatian khusus dari TUHAN? TUHAN tidak tinggal diam. TUHAN memelihara perjalanan Rut dari Moab menuju Betlehem - perjalanan yang panjang dan berbahaya terutama bagi perempuan di mana perampokan, penculikan dan pemerkosaan sering terjadi. TUHAN menuntun Rut ke ladang Boas. Tanpa ia sadari, ia berjumpa dan diperhatikan oleh Boas, seorang pria gentlemen. Hati Naomi pasti tergerak oleh cinta kasih Rut yang bagaikan sahabat setianya. Naomi meminta Rut untuk mencari Boas di tempat pengirikan pada malam hari. Nah, ini bagian sulit bagi pembaca. Tempat pengirikan memiliki konotasi negatif. Pada masa panen, bos ladang akan menginap di tempat pengirikan. Para Pekerja Seks Komersial akan mengunjungi tempat pengirikan di malam hari.  
“Janganlah bersukacita, hai Israel! Janganlah bersorak-sorak seperti bangsa-bangsa! Sebab engkau telah berzinah dengan meninggalkan Allahmu, engkau telah mencintai upah sundal di segala tempat pengirikan gandum” (Hosea 9:1). 

Naomi meminta Rut untuk “mandi, berurap dan mengenakan pakaian bagus” (Rut 3:3). Permintaan Naomi menjadi ambigu apabila dikaitkan dengan tempat pengirikan dan terlebih lagi jika ditambah identitas Rut, seorang Moab. Nah, yang menarik adalah pertemuan Boas dan Rut menggambarkan relasi dalam kesucian. Boas menghormati Rut. Boas tidak menggunakan kesempatan itu untuk merampas kehormatan Rut. Berdandan, menggunakan perfume, mengenakan pakaian bagus merupakan hal yang positif. Manusia menyukai keindahan, laki-laki menyukai perempuan-perempuan yang berpenampilan bersih, rapi sebaliknya perempuan menyukai laki-laki yang rapi dan bersih juga.

Rut melakukan semua yang diperintahkan Naomi walaupun perintahnya tidak masuk akal dan terkesan di luar normal umum. Rut mandi, menggunakan perfume dan mengenakan pakaian bagus. Dia berangkat ke tempat pengirikan dan bersembunyi menunggu Boas tidur. Setelah Boas tidur, Rut menyingkapi selimut hingga ke pahanya. Mungkin karena kedinginan di tengah malam, Boas terbangun dan kaget menemukan seorang perempuan berbaring di sisinya. Rut memperkenalkan diri dan kemudian meminta Boas untuk menikahi dirinya.

Penutup

Benar bahwa Rut memiliki identitas yang lemah dan tidak dihargai oleh kaum Israel tetapi Rut tidak meremehkan dirinya sendiri. Benar bahwa Rut berstatus lemah sebagai seorang janda tetapi Rut tidak memandang rendah dirinya sebagai seorang janda. Karakter Rut yang penuh kasih, setia, teguh, sopan, rajin dan penuh hormat menarik perhatian orang-orang. Rut yang menunjukkan kasih sayang kepada Naomi, memperoleh kasih sayang dari Boas dan Naomi. Rut memperoleh kasih sayang dari TUHAN sehingga dirinya yang lemah dan penuh penderitaan dipulihkan oleh TUHAN. Paulus berkata, “Jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Kor. 12:10). Saudara, arahkanlah perhatian Saudara dan bersandarlah pada TUHAN.

Batam, 8 November 2015
Lan Yong Xing

Tuesday, 16 June 2015

PERISTIWA KENAIKAN YESUS MENGANGKAT HARKAT DAN MARTABAT MANUSIA

Mazmur 47 merupakan nyanyian Israel di Perjanjian Lama. Kemungkinan nyanyian Mazmur 47 ini dinyanyikan dalam ibadah-ibadah mereka. Di masa itu, umat TUHAN bernyanyi sambil berjalan menurut Bait Suci. Saya tidak tahu apakah di masa sekarang masih ada orang yang bernyanyi dalam perjalanan untuk beribadah di gereja. Yang pasti kita mayoritas orang Kristen hanya bernyanyi ketika berada di dalam gereja itupun ber-NKB - Bernyanyi Kalau Bisa.

Mazmur 47 menganggungkan Yahweh sebagai Raja semesta alam. Nyanyian tersebut menyerukan Yahweh Yang Mahatinggi dan dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (ayat 3). Raja yang menaklukkan bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa (ayat 4). Raja yang naik ke tempat yang tinggi (ayat 6), Raja atas seluruh bumi (ayat 8), Raja atas bangsa-bangsa dan bersemayam di takhta kudus (ayat 9). Bermazmurlah bagi Dia (ayat 7). Nyanyian ini dinyanyikan bukan dalam keadaan di mana bangsa Israel sebagai kerajaan yang terkuat. Kerajaan Mesir, Asyur, Babel, Persia jauh lebih kuat baik secara politik, ekonomi dan militer dibanding dengan Israel yang hanya sebuah kerajaan kecil. Ketika kita melihat permasalahan-permasalahan di dunia ini, kita merasa sangat kecil karena tidak mampu memperbaiki kondisi yang ada.

Tadkala kita merenungkan kehidupan kita dan menyaksikan penderitaan di sekitar kita, kita menyimpulkan bahwa hidup ini penuh dengan kesengsaraan. Hidup ini sepertinya bagaikan sebuah perlombaan dengan waktu. Tidak jarang juga, manusia memperlakukan sesama sebagai “objek” atau “alat” demi mencapai tujuan pribadi. Tidak sedikit juga keadaan dimana ketika Saudara berpenampilan “berduit” Saudara dihargai dan dihormati tetapi kalau berpenampilan “tidak berduit” Saudara diremehkan dan tidak dianggap. Kita hidup di dunia yang menegaskan kebebasan beragama tetapi dalam prakteknya melarang kebebasan beragama, membongkar simbol-simbol agama, menghina dan melakukan kekerasan terhadap pemeluk agama yang berbeda. Kita hidup di masa kebebasan individu digembar-gembor tetapi toleransi terhadap perbedaan menipis.

Sejak kecil saya belajar di sekolah negeri dan tidak jarang saya merupakan satu-satunya orang suku Tionghoa di kelas. Ketika SMP saya senang karena terpilih sebagai anggota PKS, bukan Partai Keadilan Sosial tetapi Patroli Keamanan Sekolah. Di PKS bisa belajar ilmu bela diri, pengibaran bendera merah putih dan gerak jalan. Namun bagaimanapun, karena saya bersuku Tionghoa tetap dianggap sebagai masyarakat “kelas rendah” seolah-olah tidak berbangsa Indonesia. Dalam Perjanjian Lama, penataan kemah suci terdiri dari:
  1. Pelataran (untuk semua orang)
  2. Ruang Kudus (untuk sebagian orang)
  3. Ruang Mahakudus (untuk satu orang)

Pemisahan tersebut untuk mengingatkan bahwa dosa itu memisahkan. Kematian Kristus di atas kayu salib telah menyatukan kembali keterpisahan tersebut sehingga setelah karya penebusan Yesus, keterpisahan 3 area ini sudah tidak lagi dibutuhkan, setiap orang dapat langsung mengakses kepada Yahweh. Dalam kehidupan nyata, apakah ketiga area ini masih berlaku? Ya, masih. Di Rumah Sakit terdapat ruang kelas I, ruang kelas II dan ruang kelas III dengan biaya dan service yang berbeda. Begitu juga dengan pesawat dan kereta api yang terdapat kelas Executive, Business dan Economy. Kristus telah menyatukan, Di dalam Kristus tidak ada perbedaan orang Yahudi dan Yunani, pribumi dan non-pribumi, Barat dan Asia. 

Ketika melihat banyaknya pasien penyakit kanker di sekeliling kita, kita juga getar-getir jangan-jangan kita juga mendapatkan piala bergilir tersebut. Sampai kita berpikir, “kapan tiba giliran gue, kalau bisa janganlah”. Dalam kehidupan yang semakin konsumtif, obesitas juga menjadi persoalan. Ada orang bijak yang mengatakan, kita tidak perlu ikut seminar diet, cukup rajin-rajin berkunjung ke rumah sakit maka secara otomatis kita akan belajar untuk menjaga kesehatan. Baik diri kita maupun saudara kita juga bisa dalam keadaan dimana kita terus berdoa memohon penyembuhan, bagaimana jika Tuhan tidak berkehendak memberikan kita kesembuhan dan ingin kita menerima kondisi tersebut? Kita hidup di dunia dimana hak orang miskin diperkosa dan keadilan ditinggalkan. Saat ini orang-orang berteriak, “semua naik, semua mahal! Harga barang kalau sudah naik, tidak bakal turun.” Kita hidup di dunia yang mengumumkan “Tuhan sudah mati!”

Dalam kondisi seperti ini kita hanya bisa menatap ke langit dan bertanya, “Kapan ini semua akan berakhir?” Kapan kondisi kehidupan manusia bisa membaik? Kapan masyarakat yang madani bisa terwujud?” Kepada murid-murid yang menatap langit, malaikat sorgawi bertanya, “Mengapakah kamu sendiri melihat ke langit?” (Kis 1:11). Yesus naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa? Pertanyaan kita adalah dimanakah sorga itu? Ketika para astronot tidak melihat sorga di luar angkasa maka orang-orang menyimpulkan bahwa sorga itu tidak ada dan begitu juga dengan Tuhan, Dia tidak ada. Sebenarnya pertanyaan yang lebih tepat adalah apa sorga itu? Jurgen Moltmann mengatakan, “Heaven is the sphere of creation which already totally corresponds to God because it is totally pervaded by his glory”. Karl Barth mengatakan, “He (Jesus) returns to heaven, which is the dwlling of God in His creation.” Singkat kata, sorga merupakan dimensi Allah, kediaman Allah dalam kemuliaan-Nya (shekinah glory). Dan apa yang dimaksud dengan Yesus duduk di sebelah kanan Allah? Yesus bersama dengan Bapa dan Yesus merupakan tangan kanan Allah yang bekerja. Sorga merupakan sebuah dimensi yang berbeda. Hidup kita tidak sebatas rindu naik ke sorga tetapi juga menghadirkan sorga di bumi.

Kenaikan Yesus ke Sorga berkaitan dengan Kerajaan Allah (Kis 1:3) yakni kepenuhan Kerajaan Allah di bumi pada saat kedatangan Yesus kembali. Peristiwa kenaikan Yesus juga tidak terlepas dengan kedatangan Roh Kudus yang akan kita rayakan 10 hari kemudian. Kita diperlengkapi dengan Roh Kudus - kekuatan dari tempat tinggi (Luk 24:49). Roh Kudus merupakan Roh Hikmat yang memampukan kita untuk mengenal Kristus dengan benar (Efesus 1:17). Mengenal Kristus dalam tubuh kebangkitan-Nya, tubuh yang mulia. Mengenal Kristus sebagai Raja semesta alam. Mengenal Kristus yang peduli pada manusia, mengasihi yang lemah dalam memulihkan harkat dan martabat manusia.


Dalam hal ini, peristiwa kenaikan Yesus mengimplikasikan bahwa kehidupan manusia bukanlah tidak berpengharapan. Suatu hari kelak, kita akan menjadi sama seperti Kristus dengan tubuh yang mulia. Peristiwa kenaikan Yesus memanggil kita untuk melihat dunia ini dengan “kacamata” yang berharap pada pemerintahan Yahweh, Raja semesta alam. Peristiwa kenaikan Yesus mengangkat harkat dan martabat manusia yang terpuruk kepada kemuliaan. Dengan penuh pengharapan kita menantikan kedatangan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Amin.

TAMAN BAHAGIA


Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka dan Aku akan meniadakan binatang buas dari tanah itu, sehingga mereka dapat diam di padang gurun dengan aman tenteram dan dapat tidur di hutan-hutan.
Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat.
Pohon-pohon di ladang akan memberi buahnya dan tanah itu akan memberi hasilnya. Mereka akan hidup aman tenteram di tanahnya. Mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, pada saat Aku mematahkan kayu kuk mereka dan melepaskan mereka dari tangan orang yang memperbudak mereka.
Mereka tidak lagi menjadi jarahan bagi bangsa-bangsa dan binatang liar tidak akan menerkam mereka, sehingga mereka akan diam dengan aman tenteram dengan tidak dikejutkan oleh apapun.
Aku akan mendirikan bagi mereka suatu taman kebahagiaan, sehingga di tanah itu tidak seorangpun akan mati kelaparan dan mereka tidak lagi menanggung noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa.
Dan mereka akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka dan mereka, kaum Israel, adalah umat-Ku, demikianlah firman Tuhan ALLAH.
Kamu adalah domba-domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah Allahmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Yehezkiel 34:25-31).

Manusia merupakan “mahkota" dari seluruh ciptaan TUHAN sebab manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang diciptakan dalam rupa dan gambar Allah dan diberikan roh. Manusia merupakan makluk hidup dengan satu keutuhan tubuh, jiwa dan roh. Manusia juga diberikan kebebasan sehingga dirinya dapat berpikir, bertindak, berinovasi, berjuang, bereksplorasi dan terus berkembang. Kemudian manusia mendesain kalender, jam, membuat berbagai alat dan mendesain sistem penataan untuk mendukung kehidupan di planet bumi ini. 
Alkitab menggambarkan bahwa manusia secara terus-menerus ingin menyamakan diri dengan TUHAN atau ingin mentuhankan diri sendiri. Manusia ingin berjuang sendiri dan melepaskan diri dari TUHAN. Manusia berjuang untuk memegahkan diri. Jika kita bertanya, apa yang sebenarnya dicari manusia? Sebenarnya manusia mencari kebahagiaan dan makna hidup. Namun keegoisan dan kebobrokan manusia mengarahkan manusia untuk saling menindas, saling menjatuhkan, saling merusak dan saling menyakiti. Raja Salomo mengatakan, “Ada lagi yang kulihat di bawah matahari; di tempat pengadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidakadilan” (Pengkhotbah 3:16). Ada orang yang bekerja, menghimpun, menimbun kekayaan namun orang lain yang menikmatinya (Pengkhotbah 2:26). Ada orang yang mengumpulkan harta kekayaan cukup untuk beberapa generasi keturunan, namun harta kekayaan mereka pun dirampas oleh orang lain.  

TUHAN mengadakan Perjanjian Shalom” untuk memulihkan kondisi manusia. TUHAN ingin menghadirkan Damai Sejahtera di tengah gejolak manusia dalam ketidakpuasan, kekuatiran, ketakutan, kegelisahan dan keresahan. TUHAN ingin menjadikan kita “berkat” bagi sesama. TUHAN ingin memberikan kita berkat dan mengaruniakan kita kesempatan untuk menikmati berkat tersebut. TUHAN ingin membuat hidup kita aman tenteram. TUHAN ingin menyediakan Taman Kebahagiaan bagi kita sebab kita adalah domba gembalaan-Nya. Dan TUHAN mengundang kita untuk menerima penggembalaan-Nya di Taman Kebahagiaan. Bersediakah Saudara menerima undangan TUHAN sehingga jerih payah kita di dunia ini tidak sia-sia? Kiranya berkat yang kita terima tidak masuk ke dalam dompet yang berlubang. Kita dapat memaknai penderitaan kita sebab sekalipun di masa-masa sulit dalam hidup kita, TUHAN senantiasa menyertai, menguatkan dan menghibur kita. Amin.



APAKAH SAYA ISTIMEWA?

“Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia” (2 Kor 5:16).

Dalam tulisan C. S. Lewis yang berjudul The Chronicles of Narnia, yang pertama menemukan dunia Narnia di balik lemari pakaian bukanlah tiga kakaknya yang pintar-pintar tetapi Lucy yang polos dan paling muda. Lucy kemudian diteguhkan sebagai ratu di dunia Narnia oleh Aslan, Sang Singa Yehuda. Lucy juga mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Aslan. Menjadi istimewa dan diperlakukan dengan istimewa menjadi keinginan banyak orang. Untuk memenuhi keinginan orang-orang merasakan pelayanan istimewa maka ditawarkan VIP Lounge, Business Class, Executive Class, VIP Pass. Bahkan menu sederhana seperti mie goreng dan nasi goreng juga tidak mau kalah sehingga ada mie goreng spesial, nasi goreng biasa dengan nasi goreng spesial.
Keinginan untuk menjadi istimewa pun menjadi ideologi banyak orang. Tidak heran, apabila banyak orangtua yang menginvestasi banyak waktu dan dana mengharapkan anak-anak mereka menjadi istimewa. Guru-guru bekerja keras membekali murid-murid mereka berharap menghasilkan murid-murid yang istimewa. Hidup menjadi tidak lengkap, atau ada yang kurang jika hidup ini tidak istimewa. Hidup menjadi hampa dan tidak berarti jika hidup ini tidak istimewa. Karena ingin menjadi spesial manusia mengenakan topeng - topeng profesi, topeng berpacaran, topeng keluarga, topeng media sosial dan seterusnya. Kita merasa ada yang kurang apabila kita tidak istimewa. Kita merasa hampa apabila hidup kita tidak istimewa. Karena tekanan dari berbagai pihak, tidak mengherankan apabila anak-anak berteriak, kami tidak mau menjadi istimewa, kami hanya mau menjadi manusia biasa-biasa saja karena lelah menjadi istimewa.
Saul termasuk orang yang istimewa…
  • Paling elok (tampan) di Israel (1 Sam 9:2)
  • Paling tinggi di Israel (1 Sam 9:2)
  • Dipilih oleh TUHAN untuk menjadi raja (1 Sam 9:17; 10:24) 
  • Dipenuhi oleh Roh Allah (1 Sam 10:10)
  • Bernubat seperti nabi-nabi (1 Sam 10:11)
  • Berwibawa dan diikuti oleh orang-orang gagah perkasa (1 Sam 10:26)
  • Memahami strategi perang (1 Sam 11:11).

Yahweh menolak raja Saul bukan karena dia istimewa tetapi karena dia tidak menghormati Yahweh dengan memberikan persembahan menggantikan Samuel (1 Sam 13). Yahweh menyesal karena Saul tidak melakukan firman-Nya (1 Sam 15:10). Saul tidak menaati perintah Yahweh (1 Sam 13:13). Keistimewaan Saul menjadi tidak berarti karena dia tidak menaati Yahweh. Kita tidak perlu berjuang untuk menjadi istimewa untuk menarik perhatian TUHAN. Kita tidak bisa berjuang untuk menjadi istimewa untuk memperoleh kasih sayang TUHAN. Mendengarkan dan memelihara firman TUHAN dalam hidup kita menarik perhatian TUHAN.
Setelah menolak Saul, Yahweh memerintahkan nabi Samuel untuk mencari pengganti Saul. Namun Samuel takut kalau hal ini diketahui oleh raja Saul maka dia akan dibunuh (1 Sam 16:2). Maka Yahweh memberitahu Samuel untuk mengatakan kalau dia akan menyelenggarakan upacara pengorbanan (1 Sam 16:3). Yahweh berpesan agar Samuel mengundang Isai (keturuan Boas dan Rut) ke acara tersebut. 
Ketika Samuel melihat Eliab, Samuel merasa inilah orangnya sebab Eliab tampan dan tinggi. Tampaknya Samuel mencari pengganti raja Saul yang mirip dengan Saul yaitu orang yang tampan dan tinggi. Samuel melihat yang menurut dia istimewa, tetapi ternyata apa yang menurut Samuel istimewa tidak demikian bagi TUHAN. Anak-anak Isai satu per satu melewati depan Samuel namun tidak satupun yang dipilih TUHAN. Mungkin waktu itu, Samuel mulai merasa galau, “TUHAN, gimana sich, kok ga satupun terpilih. Bukankah mereka ini hebat-hebat” 
Ternyata Isai masih mempunyai seorang anak lagi. Dia masih kecil dan adalah seorang gembala. Umumnya, setiap keluarga mempunyai beberapa ekor domba, dan anak kecil dipercayakan untuk menggembalakan domba-domba tersebut. Pekerjaan sebagai gembala adalah pekerjaan rendah yang tidak berarti. Kakak-kakaknya pasti bertanya-tanya di dalam hati, kenapa adik bungsu mereka yang terpilih? Samuel juga pasti bertanya-tanya mengapa Daud yang terpilih? 
Daud menurut pandangan manusia:
  • Bagi kakak-kakaknya, Daud hanyalah seorang anak yang pemalas dan bandel (1 Sam 17:28)
  • Bagi Samuel, Daud hanyalah seorang anak kecil yang tampan (1 Sam 16:12)
  • Bagi Saul, Daud hanyalah seorang pelayan (1 Sam 16:22)
  • Bagi ayahnya, Daud hanyalah seorang gembala, pembawa makanan dan pencari kabar tentang kakak-kakaknya (1 Sam 17:15-18)
Daud mengerjakan tugasnya dengan setia. Setelah diurapi sebagai raja, Daud melayani sebagai seorang musikus bagi raja Saul untuk menenangkan hati Saul yang sangat bergejolak dan tidak stabil. Pekerjaan Daud sangat berbahaya karena dia melayani raja yang sakit jiwa, berkali-kali raja Saul ingin membunuh Daud tetapi tidak berhasil. Dan Daud masih menggembalakan kambing domba ayahnya (1 Sam 16:19). Daud tidak berjuang untuk menjadi istimewa melainkan dia menjalani tugas yang dipercayakan kepadanya sebagai gembala kambing domba ayahnya dan musikus bagi raja Saul. Daud tidak berjuang untuk menjadi signifikan tetapi dia setia pada tugasnya.
Daud menunggu. Daud tidak langsung memerintah sebagai raja walaupun dia sudah diurapi menjadi raja. Daud menjadi raja pada umur 30 (2 Sam 5:4). Berapa tahun Daud harus menunggu hingga dia menjadi raja, 10 tahun, 15 tahun? Daud tidak berambisi menjadi raja. TUHAN yang memilih dia menjadi raja. Dia tidak mengeluh mengapa dia sudah diurapi sebagai raja tetapi dia tidak memerintah sebagai raja. Setahun, dua tahun berlalu. 10 tahun dan bahkan mungkin 15 tahun berlalu dan masih saja dia belum menjadi raja. Apabila Daud diurapi di usia 15 tahun maka dia harus menunggu 15 tahun baru memerintah sebagai raja. Dia tidak marah sama TUHAN dan dia juga tidak marah kepada nabi Samuel. Karena dia tidak berambisi menjadi raja. Dia menunggu.
Daud menolong sesama walau dirinya menderita. Dan selama 10-15 tahun ini Daud hidup dalam pelarian, bersembunyi di dalam gua-gua dan mencari makanan untuk dirinya dan para pengikutnya. Karena bahaya dan letihnya hidup dalam pelarian, Daud kemudian menitipkan orangtuanya kepada raja Moab (1 Sam 22:3). Daud tidak sendirian, dia diikuti oleh 600 pria (1 Sam 27:2; 30:9). Daud menyediakan peristirahatan dan keteduhan bagi 600 pria yang sedih dan kehilangan. Setelah Daud menjadi raja, orang-orang ini dia angkat menjadi kepala pasukan (1 Taw 12). Selama pelarian, Daud juga memberikan bantuan kepada kota-kota yang membutuhkan bantuan - Daud menyelamatkan kota Kehilia (1 Sam 23).
Ketika Brenda McLain mendaki sebuah tebing gunung Santa Monica pada bulan Nopember 2006. Pada saat dia sedang istirahat sambil bergantung di tali, tiba-tiba salah satu tali menghempas wajahnya sehingga lensa matanya terlepas dan terjatuh. Dia merasa sangat sedih karena dia sedang berada di pertengahan tebing, sulit untuk naik dan juga sulit untuk turun karena tidak dapat melihat dengan jelas tanpa lensa matanya. Dia berdoa memohon ketenangan hati sambil berharap bisa menemukan lensa matanya. Dengan susah payah, akhirnya dia berhasil manjat ke atas. Di tempat perhentian, teman Brenda membantu mencari lensa matanya tetapi tidak menemukannya. 
Sore hari itu, dengan bantuan teman-temannya, Brenda berhasil turun ke bawah dan bertemu dengan tim pemanjat yang lain. Tiba-tiba ada seorang yang berseru, siapa yang kehilangan lensa  kontak mata pada hari ini? Ternyata orang tersebut melihat sebuah lensa mata yang bergerak karena diangkat oleh semut. Brenda menceritakan pengalaman tersebut kepada ayahnya dan ayahnya yang adalah seorang cartoonist menggambar semut mengangkat lensa dan mengucapkan, “Lord, I don’t know why in the world You want me to carry this thing. I can’t eat it. build with it and its awfully heavy. but if this is what You want me to do, I’ll carry it - as long as You want me to…
Daud tidak mengerti mengapa Dia dipilih oleh TUHAN untuk menjadi raja atas Israel dan Yehuda sebab tugas tersebut merupakan beban yang sangat berat. Dia dibenci oleh kakak-kakaknya yang cemburu. Dia harus melayani raja Saul yang ingin membunuhnya. Dia harus berada dalam pelarian selama mungkin 10 hingga 15 tahun. Daud tidak spesial di hadapan saudara-saudaranya. Dia tidak spesial di hadapan Samuel. Dia juga tidak spesial di hadapan raja Saul maupun ayahnya. Dia hanya seorang yang biasa-biasa saja. 

Saudara tidak perlu menjadi spesial dalam pandangan orang lain sebab jauh lebih penting apabila bila Saudara istimewa dalam pandangan TUHAN. Orang lain menilai Saudara dari kemampuanmu, kehebatanmu, daya gunamu sedangkan TUHAN melihat dirimu dari hatimu. TUHAN menghargaimu bukan karena prestasimu tetapi karena ketulusan hatimu. Jadilah istimewa di hadapan TUHAN. Kiranya TUHAN menolong kita!




Kekuatan Kelemahlembutan - Bilangan 12