Showing posts with label Spiritual Reflection. Show all posts
Showing posts with label Spiritual Reflection. Show all posts

Monday, 11 July 2016

AGAPISME SEBAGAI KEHIDUPAN YANG BAIK!

有爱的美好生命!
Ulangan 30:9-14; Mazmur 25:1-10; Kolose 1:1-14; Lukas 10:25-37



Apakah Saudara merasa kehidupan Saudara sudah baik? Menurut Saudara kehidupan yang baik bagi Saudara itu seperti apa? Kira-kira apa yang masih kurang dalam kehidupan Saudara sehingga kehidupan Saudara baru dapat dikategorikan sebagai kehidupan yang baik? Saya percaya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini sangat beragam. 

Berikut ini beberapa konsep yang berbeda soal kehidupan yang baik.
Egoisme - kehidupan yang baik didorong oleh kasih terhadap diri sendiri (self-indulgence). Apapun yang seseorang lakukan adalah buat kebaikan dirinya. Memotong antrian, mengambil makanan, memarkir mobil, merebut tempat duduk, apapun itu, yang jelas segala sesuatu yang dilakukan adalah demi kebaikan dirinya. Segala sesuatu dilakukan dengan satu pertanyaan dasar, “Apa untungnya bagiku?”

Narsisme - Membutuhkan perhatian yang sangat besar. Hidup yang baik adalah memperoleh perhatian yang besar. Pujian dan sanjungan merupakan makanan pokok dan sumber kekuatan. Orang yang narsis tidak mencintai diri sendiri dengan benar. Mereka tidak mempunyai proper self-love, melainkan dipenuhi dengan distorted self-love.

Konsumerisme - I shop therefore I am. Hidup yang baik diperoleh dengan berbelanja dan berbelanja. Berbelanja memberikan kepuasan dan kesenangan.

Eudaimonisme - Menitikberatkan prinsip-prinsip dan perbuatan. Kehidupan yang baik diwujudkan hanya melalui aktivitas. Hidup yang baik dicapai melalui penerapan prinsip-prinsip atau nilai-nilai kebajikan yang dianutnya. Non-aktivitas berpotensi menyebabkan dirinya merasa tidak bahagia.

Agapisme - Hidup yang dipenuhi dan digerakkan oleh cinta kasih seperti yang dicerminkan dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati.

Mendengarkan suara Tuhan dan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat merupakan kunci kepada kehidupan yang dilimpahkan dengan kebaikan (Ul. 30:9-10). Berpeganglah pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya (Mzm. 25:10). Kehidupan yang baik terjadi karena Kristus memindahkan kita dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan-Nya (Kol. 1:13). Cinta kasih merupakan karakteristik Kerajaan Kristus. Cinta kasih merupakan kunci untuk mewujudkan kehidupan yang berkelimpahan (flourishing life). 

Dalam kaitannya dengan kehidupan yang baik, kita dapat menyorotinya dari dua aspek yakni yang seseorang kerjakan (life that is lived-well) dan apa yang terjadi pada diri seseorang (life that goes well). Misalnya, sambil berdiri, Saudara sedang membaca sebuah buku di MRT dimana tulisannya sangat memberkati kehidupan Saudara (life that is lived-well). Kemudian ada seorang berbaik hati memberikan tempat duduknya kepadamu (life that goes well). Satu contoh lagi, demi kesehatan, Saudara memutuskan untuk tidur lebih awal (kehidupan dijalani dengan baik) tetapi tetangga Saudara mengeraskan volume musik hingga subuh sehingga Saudara tidur Saudara sangat terganggu (kehidupan tidak berlangsung baik).

Ahli Taurat yang datang kepada Yesus berfokus pada apa yang dapat ia lakukan untuk memperoleh kehidupan yang baik (life that is lived-well). Dia bertanya, “Guru, apa yang harus KUPERBUAT untuk memperoleh hidup yang kekal? (Luk. 10:25). Yesus pun bertanya kepadanya apa yang ia baca di kitab Taurat. Sebagai ahli Taurat, ia pun mengutip dari Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18. Yesus berespon, “Jawabmu itu benar, PERBUATLAH DEMIKIAN MAKA ENGKAU AKAN HIDUP” (Luk. 10:28). Yesus tidak mengatakan, “Maka engkau akan memperoleh hidup yang kekal.” Hidup yang kekal adalah anugerah TUHAN, bukan hasil jerih payah seseorang. Sebaliknya, Yesus menegaskan kepada ahli Taurat tersebut bahwa apabila ia mengasihi, ia akan benar-benar hidup. Ketika seseorang benar-benar HIDUP, dia berbahagia karena ia akan memaknai setiap momen dalam hidupnya. Cinta kasih menuntun seseorang untuk hidup dalam kebahagiaan dan kelimpahan. Cinta kasih memampukan kita menikmati kehidupan dengan benar. Tanpa cinta kasih, kehidupan seseorang akan kering bagaikan zombie.

Imam dan orang Lewi merupakan orang yang menjalani hidup mereka dengan baik yakni dengan menuruti hukum Taurat. Mereka adalah orang-orang yang menerapkan prinsip-prinsip kehidupan secara kaku. Namun mereka memalingkan pandangan mereka dari kehidupan yang tidak berlangsung dengan baik yakni orang yang jatuh ke tangan penyamun tersebut. Mereka adalah kaum profesional yang menekuni bidang mereka. Agenda mereka yang padat mematikan kemurahan hati dalam diri mereka. Kemanusiaan mereka dipadamkan oleh profesionalisme mereka. Dan profesionalisme mereka dikelabui oleh ego mereka. Mereka tidak mau mengotori jas mereka yang mahal. Mereka tidak mau mengotori mobil mewah mereka. Mereka tidak mau agenda mereka yang padat terganggu. Mereka menutup mata hati terhadap kehidupan yang tidak berlangsung dengan baik. Keadilan primer (citra Allah yang terluka) tidak menjadi perhatian mereka.

Orang Samaria memperhatikan kehidupan yang tidak berlangsung dengan baik. Ia memperhatikan keadilan primer yang dirusak. Ia memperhatikan citra Allah yang terluka oleh kejahatan. Agenda dan perjalanan bisnisnya tidak menjauhkan dia dari memberikan perhatikan kepada kehidupan yang tidak berlangsung dengan baik (life that does not go well) dalam diri orang yang tergeletak, dan dibiarkan dalam kondisi setengah mati. Karena ia memperhatikan keberhargaan dalam diri sesama (human worth). Hatinya tergerak oleh belas kasihan. Agapisme dalam dirinya bekerja, mendorong dirinya untuk memulihkan orang yang terluka tersebut. Dia terpanggil untuk memulihkan kehidupan yang tidak berlangsung baik ini menjadi kehidupan yang berlangsung dengan baik melalui kehidupan yang ia jalani dengan baik. Padangan orang lain yang meremehkan dirinya tidak merusak citra dirinya. Pandangan yang penuh penghinaan oleh orang lain tidak merusak kemanusiaannya. Pandangan yang penuh kebencian oleh orang lain tidak merampas cinta kasih dalam dirinya. Daripada mencari-cari siapa adalah sesama atau sahabat baginya, ia menjadi sesama atau sahabat bagi orang lain. 

Cinta kasih mendorong kita untuk menjadi sahabat bagi sesama. Cinta kasih mengarahkan kita untuk memperhatikan keberhargaan dalam diri sesama. Sebagai sahabat, kita memulihkan sesama yang terluka. Memulihkan sesama bukanlah hal yang mudah sebab seseorang yang telah terluka akan cenderung mengelilingi dirinya dengan duri-duri yang sangat tajam. Seseorang yang terluka cenderung melakukan tindakan pembalasan dendam. Seseorang yang terluka cenderung melukai. Orang yang terluka tidak berproaktif, sebaliknya sikapnya cenderung reaktif. Hanya dengan cinta kasih kita dapat mematahkan rantai reaksi orang yang terluka. Memulihkan sahabat yang terluka membutuhkan cinta kasih yang mencakup keadilan primer (menghargai ‘sense of worthiness’ sahabat), kerendahan hati, pengampunan dan kesiapan hati untuk kembali di lukai. Sahabat yang terluka, pada umumnya mengalami krisis kepercayaan diri. Merekonstruksi kepercayaan diri sahabat yang terluka membutuhkan kelapangan dalam memberikan ruang agar sahabat dapat membangun kembali keyakinan dirinya, termasuk kebutuhan untuk ‘perform’ agar meningkatkan sense of worthiness dalam dirinya.

Agapisme sebagai kehidupan yang baik akan mewujudkan kehidupan yang madani. Dengan cinta kasih kehidupan dijalani dengan baik (life that is lived-well). Cinta kasih mengarahkan pandangan kita dalam menciptakan kehidupan yang berlangsung dengan baik (life that goes well). Ciptakanlah kehidupan yang baik dengan cinta kasih!


Batam, 10 Juli 2016


Lan Yong Xing

Wednesday, 15 June 2016

TUHAN MELAWAT!

1 Raj. 17:8-24; Mzm. 146; Gal. 1:11-24; Luk. 7:11-17


Ketika kupu-kupu masuk ke ruang tamu rumah, orang akan berkata, “nanti pasti kita akan kedatangan tamu”. Sehingga tiap kali ketika ada kupu-kupu berkunjung ke rumah, tuan rumah akan membersihkan rumah dan menantikan kedatangan tamu. Setiap orang mengharapkan pelawatan, hanya pelawatan dengan pemahaman yang berbeda-beda. Kalau Saudara buka toko atau restoran, sudah tentu saudara ingin didatangi tamu yang banyak dan berbelanja yang banyak. Tidak heran apabila ada banyak orang, bahkan ada orang Kristen yang masih menggunakan kucing (maneki-neko) pajangan yang salah satu tangannya bergerak memanggil-manggil tamu. Pernahkah Saudara memperhatikan, tangan kiri atau tangan kanan kucing yang bergerak? Menurut kepercayaan Jepang, tangan kiri (pelanggan) dan tangan kanan (keberuntungan dan kekayaan). Tetapi ada tafsiran lain yang mengatakan tangan kanan (keluarga) tangan kiri (bisnis). Atau Saudara ingin dilawat oleh God of Fortune, mengundang dia tinggal di rumah? Setiap orang percaya pada sesuatu dan kepercayaan-Nya membentuk dirinya. Sehingga menaruh kepercayaan secara tepat menjadi sangat penting.

Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada manusia (Mazmur 118:8)
It is better to take refuge in the LORD than to trust in humans.

Juga dapat kita katakan bahwa lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya pada paradigma manusia. Izebel, istri Ahab juga memiliki kepercayaan sendiri. Dia percaya Baal memberikan hujan dan Asyera memberikan kesuburan. Dia percaya dengan keberadaan Baal dan Asyera maka kerajaannya akan berkembang dan makmur. Menurut Izebel, menyembah Yahweh adalah kebodohan sebab Yahweh adalah Tuhan yang tidak efektif sehingga ia ingin menyingkirkan penyembahan Yahweh di Israel. Ia meminta suaminya untuk mendirikan sebuah rumah buat dewa Baal di Samaria. Kemudian dia mengimpor 450 nabi Baal dan 400 nabi Asyera dari kampung halamannya dan menempatkan mereka di dalam istana, memberikan mereka perjamuan kerajaan. Dewa Baal disembah bersamaan dengan dewi Asyera. Baal adalah dewa lahan dan Asyera adalah dewi kesuburan. Biasanya kedua dewa ini disembah secara bersamaan, karena diletakkan bersebelahan di dalam kuil. Untuk memperoleh berkat dari dewa-dewi ini, para penyembah harus menari telanjang dan kemudian berhubungan intim di hadapan dewa-dewi tersebut. Mereka percaya apabila dewa-dewi ini terangsang maka mereka akan diberkati. Dewa Baal juga senang dengan persembahan anak bayi yang bakar atau dimasak hidup-hidup.

Melalui kehadiran para nabi ini, dia ingin mempromosikan dewa Baal dan dewi Asyera. Dia juga membunuh setiap nabi-nabi Yahweh. Obaja, seorang pejabat kerajaan Israel, menyembunyikan 100 nabi Yahweh di dalam sebuah gua dan selalu memberikan mereka makanan. Nabi Elia adalah nabi yang menentang Izebel secara terbuka sehingga Izebel ingin melenyapkan dia. Izebel adalah seorang keras kepala dan perusak. 

Siapakah Izebel, yang nyebelin tersebut? Dia adalah istri Ahab. Ahab dikenal sebagai raja yang paling jahat di Israel. Dia adalah anak Omri, seorang raja yang jahat.
Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan ia melakukan kejahatan LEBIH daripada segala orang yang mendahuluinya (1 Raj. 16:25).
Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN LEBIH daripada semua orang yang mendahuluinya (1 Raj. 16:30).

Ahab mengimprovisasi atau meningkatkan kejahatan ayahnya. Mengapa Ahab menikahi Izebel? Ahab takut dengan ancaman kerajaan Asyur. Maka dia ingin menjalin kekuatan dengan kerajaan Fenisia (3200 - 883 SM) (baca Kis. 11:19) sehingga ia menikahi Izebel, putri raja Fenisia (Ethbaal - imam Baal). Kemudian raja Ahab mengikuti istrinya beribadah kepada Baal (1 Raj. 16:31). Orang Tionghoa mengatakan, wanita takut salah menikahi suami, sebaliknya laki-laki juga mesti takut menikahi istri yang salah.

Ahab ingin mendapatkan sebidang tanah (1 Raj. 21:1) namun karena ia tidak berhasil maka ia tidak mau makan. Istrinya melihat dia tidak makan dan bertanya mengapa (1 Raj. 21:5). Kemudian istrinya berkata, “Bukankah engkau seorang raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarkanlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot” (1 Raj. 21:7). Kalau dalam bahasa masa kini, mungkin istri Ahab berkata, “Bukankah engkau laki-laki? Bukankah engkau manager? Bukankah engkau bos perusahaan? Masa engkau tidak bisa mendapatkan apa yang engkau inginkan? Masa engkau tidak bisa mendapatkan tas kesukaanku? Masa engkau tidak bisa mendapatkan mobil baru? Engkau pria tidak berguna! Izebel memanggil dua orang untuk menjadi saksi dan menuduh Nabot telah mengutuk Allah dan raja di depan para tua-tua dan pemuka-pemuka. Nabot kemudian dihukum mati dengan dilempari batu (1 Raj. 21:10). Maka Ahab mendapatkan tanah Nabot. Setelah itu, Ahab membangun istana gading dan taman (1 Raj. 22:39).

TUHAN menentang Ahab dan Izebel. TUHAN sedang menyatakan bahwa Baal dan Asyera itu tidak ada. Sarfat berada di dalam wilayah Fenisia yang merupakan pusat dewa Baal. TUHAN mengutus Elia ke Sarfat untuk melakukan perlawanan terhadap Baal di wilayah Baal itu sendiri. Perlawanan ini bagaikan Yahweh mengalahkan Poseidon dengan air di dalam laut dan mengalahkan Zeus dengan petir di dalam awan. TUHAN menantang Baal yang adalah dewa yang mengendalikan hujan, seperti yang telah dinubuatkan dalam Ulangan 11:16-17…
Hati-hatilah supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu.

TUHAN berkata, kepada Elia, “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon (Lebanon hari ini), dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah MEMERINTAHKAN seorang janda untuk memberi engkau makan” (1 Raj. 17:9). Janda pada masa itu, umumnya sangat miskin. Mereka hidup dengan memungut gandum yang jatuh dan tertinggal di ladang. Mereka hidup dengan mengandalkan pemberian orang-orang. Dia terjebak di tengah peperangan TUHAN dengan Ahab dan Izebel. Tetapi TUHAN tidak tinggal diam. Saya tidak tahu apa pikiran Elia saat mendengarkan perkataan TUHAN. “TUHAN, engkau sedang bercanda? Bukankah janda miskin dan hidupnya susah? Kenapa masih mau menyusahkan orang susah untuk memberi aku makan? TUHAN, mengapa engkau melakukan hal yang bodoh seperti ini? Yang pasti, Elia berangkat walaupun dia pasti tidak mengerti apa yang sedang TUHAN lakukan. Setiba di Sarfat, Elia melihat seorang janda sedang mengumpulkan kayu bakar.

Janda tersebut sudah sangat hemat dalam mengonsumsi makanan sisanya. Hatinya pasti terasa sangat berat melihat makanannya makin hari makin tipis. Saudara yang kehilangan pekerjaan dan memiliki sedikit tabungan akan lebih memahami. Ketika penghasilan berhenti, uang tabungan ditarik dari ATM, hati semakin gelisah ketika angka yang tampil di layar mesin ATM semakin sedikit. Bagi Saudara yang terima gaji bulanan juga pasti memiliki pergumulan yang sama ketika menjelang akhir bulan dan uang semakin menipis. Dalam film-film zombie, kita bisa menyaksikan bagaimana orang-orang yang bertahan hidup mengumpulkan makanan kaleng yang disusun berdasarkan tanggal kadaluwarsa dan kemungkin mengonsumsinya dengan sangat irit. Dengan sangat irit, janda tersebut sudah berada dalam titik akhir. Dia hanya tinggal segenggam tepung dan sedikit minyak. Dia mungkin berkata pada anaknya, “Nak, kita makan lalu kita tunggu mati”

Dalam keadaan kekurangan, datanglah seorang yang bukan memberikan pertolongan malah meminta minuman dan makanan. Apakah Saudara tidak kesal? Bukannya menolong malah membebani. Bukannya meringankan malah memberatkan. Walaupun dengan sangat berat hati, janda tersebut tetap memberikan minuman dan makanan kepada Elia. Janda tersebut harus menahan sedih melihat makanan yang seharusnya anaknya bisa makan lebih banyak malah harus berbagi dengan seorang asing yang dari entah belantara. Memberi dari kekurangan tidaklah mudah. Hati terasa teriris ketika memberikan persembahan kepada TUHAN sedangkan kita merasa sangat sayang sebab uang tersebut dapat digunakan untuk membeli sebuah buku, sebuah dompet, menikmati makanan enak di mal. Sebuah pemberian yang menyakitkan. Pemberian yang menyakitkan ini berubah menjadi sebuah berkat yang tidak kering. Baik tepung dan minyak tidak habis. Janda tersebut bukan orang Yahudi juga bukan orang Tionghoa. Kalau tidak mereka akan menggunakan kesempatan tersebut untuk berbisnis dan menjadi orang kaya di tengah kesesakan. Dimanakah Baal saat janda dan anaknya kelaparan? Bukankah Baal dewa lawan, mengapa lahan malah menjadi kering dan tandus? Dengan melawat janda tersebut, TUHAN sedang mengubah paradigma janda ini.

Namun satu krisis selesai, krisis lain berkunjung. Kali ini, krisis yang jauh lebih menyakitkan. Anaknya mati. Penderitaan yang paling berat dalam dunia ini adalah anak meninggal terlebih dulu dari orangtuanya. Jauh lebih mudah bagi anak kehilangan orangtuanya dibanding dengan orangtua kehilangan anaknya. Karena orangtua meninggal mendahului anaknya adalah hal yang wajar dan lumrah. Tetapi anak meninggal mendahului orangtuanya adalah hal yang tidak wajar. Tidak bisa diterima oleh orangtuanya. Kali ini, dimanakah Asyera yang mengaruniakan anak? Mengapa Asyera diam saja? TUHAN kembali melawat janda tersebut. TUHAN membangkitkan anaknya. TUHAN menyatakan kuasanya.

Melalui pelawatan kepada janda ini, TUHAN telah menegaskan bahwa Baal tidak dapat memberkati ladang dan Asyera tidak dapat memberkati dan menyelamatkan anak. Tetapi TUHAN memelihara dengan ajaib, tepung yang tidak habis dan minyak yang tidak kering. Bahkan anak yang mati pun dibangkitkan.

Setiap orang mengingini kebahagiaan di rumah. Tidak ada orang yang mengingini terjadi krisis dalam kehidupan keluarganya. Setiap orang ingin hidupnya lancar, oleh sebab itu setiap imlek, orang-orang Chinese suka akan memakan ikan, lao yu sheng dan memajang shun. Ketika pindah rumah baru, orang Tionghoa punya kebiasaan seperti berikut. Tuan rumah masuk ke rumah dengan kiri membawa ikan segar dan tangan kanan memegang tahu. Tuan rumah harus masuk ke dalam rumah dengan kaki kiri. Dipercayakan, mamasuki rumah baru dengan demikian mendatangkan berkat yang berkelimpahan.Tetapi hidup ini tidak selalu lancar. Orang Tionghoa mengatakan, jia jia you ben nan nian de jing (dalam setiap rumah ada sebuah kitab yang sulit dibaca) artinya, dalam setiap rumah pasti ada pergumulan tersendiri. Sejujurnya, ada banyak persoalan dalam hidup ini disebabkan oleh paradigma yang salah. 

Bersediakah Saudara menerima pelawatan TUHAN dan mengubah paradigma Saudara yang mengekang, memperbudak, menyesatkan dan membuat hidup Saudara sengsara? Mari menawan dan menaklukkan segala pikiran (paradigma) kita kepada Kristus!


Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus (2 Kor. 10:5)

SAHABAT BUMI


Hari ini, 5 Juni 2016 adalah Hari Lingkungan Hidup Se-dunia alias World Environment Day. Tujuan dari penetapan Hari Lingkungan Hidup oleh PBB adalah untuk meningkatkan kesadaran global dalam memelihara alam di planet bumi ini. TUHAN Sang Pencipta memiliki relasi yang sangat dekat dengan ciptaan-Nya (Mazmur 104). Pemazmur mengatakan, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membarui muka bumi” (Mzm. 104: 30). Dalam bukunya, The Space Between, Eric O. Jacobsen (2012, 32) memaparkan bahwa kita hidup di antara Taman Eden dan kota Yerusalem Baru. Kehidupan manusia merupakan sebuah perjalanan dari Taman Eden menuju kota Yerusalem Baru. Perjalanan tersebut tidak sebatas melewati waktu, tetapi sebuah kehidupan yang semestinya bahagia dan berkelimpahan (The good and flourishing life).

Inner City Christian Federation (ICCF) di Grand Rapids, Michigan memiliki misi dalam menciptakan lingkungan tempat tinggal yang manusiawi. Mereka menganut nilai bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan patut dihargai dan memperoleh kesempatan untuk hidup di lingkungan tempat tinggal yang layak, dan keindahan merupakan hadiah dari Allah untuk memperkaya kehidupan manusia. Wolterstorff (2013, Kindle Edition: Location 3376) dalam karyanya, Journey toward justice, menyatakan bahwa kesempatan untuk tinggal di lingkungan yang indah dan nyaman bukanlah sebuah pilihan kemewahan melainkan karena keadilan menuntutnya. Ciptaan TUHAN tidak sekadar untuk memenuhi kebutuhan fisik kita tetapi juga untuk kesenangan kita (Yes. 25:6).

Melelehnya es di kutub akibat pemanasan global telah menenggelamkan beberapa pulau dan telah memaksa sebagian penghuni berpindah dari pulau-pulau tersebut ataupun berpindah ke dataran yang lebih tinggi. Bagaimana apabila persoalan ini terus dibiarkan? Bukankah dampaknya akan semakin parah? Sebagian orang mungkin beragumen, bukankah dengan merusak alam dapat mempercepat kedatangan Kristus. Dalam tulisan pendek ini, saya tidak bisa mendiskusikan perdebatan pandangan dua-kerajaan dengan pandangan Neo- Calvinisme Kuyper soal penebusan kerajaan (common kingdom). Yang pasti, TUHAN telah mempercayakan manusia untuk memelihara bumi ini, namun justru manusia merusaknya demi mengejar keuntungan. Apabila kita mengasihi generasi berikutnya, semestinya kita mempertimbangkan kelanjutan lingkungan hidup dan bukannya menghancurkannya demi keuntungan di depan mata kita. Hukum Taurat juga mengajarkan akan pentingnya memperhatikan kelangsungan atau kelanjutan alam (sustainability). Misalnya, Ulangan 22:6 yang mengajar tentang melindungi induk burung apabila kita mengambil telurnya dan Ulangan 20:19 yang mengajar tentang melindungi lingkungan hidup demi kelangsungan hidup manusia. Sebagai ciptaan TUHAN, kita adalah sahabat bumi ciptaan-Nya.

Dosa telah menyebabkan segala makhluk menderita (Roma 8:22). Di dalam Kristus, segala sesuatu diciptakan dan Kristus adalah Kepala segala sesuatu (Kol. 1:15-16). Kristus adalah yang mempersatukan seluruh ciptaan (Ef. 1:10). Sebagai Kepala, Kristus tidak meninggalkan ciptaan-Nya tetapi justru Ia memperdamaikan segala sesuatu oleh darah salib-Nya (Kol. 1:20). Terlebih lagi, inkarnasi Kristus dan kebangkitan tubuh, mengimplikasikan perhatian TUHAN terhadap penebusan dan pemulihan ciptaan-Nya. Kita dipanggil untuk melaksanakan mandat budaya (Kej. 1:28) dalam memulihkan dan memperbarui ciptaan Tuhan. Puncak dari pemulihan dilambangkan oleh daun pohon-pohon kehidupan di kota Yerusalem Baru (Wahyu 22:2) sehingga The Green Leaf menjadi simbol pemulihan. Melalui artikel ini saya mengajak Saudara untuk menjadi Sahabat Bumi ciptaan TUHAN! 

PERSAHABATAN YANG MENYENANGKAN

Menurut C. S. Lewis, persahabatan adalah hal yang tidak dibutuhkan sehingga persahabatan bisa ditolak. Seseorang tidak bisa hidup tanpa makanan dan minuman tetapi seseorang bisa tetap bertahan hidup tanpa persahabatan. Persahabatan tidak bisa direncanakan, diagendakan atau dipaksakan. Seseorang tidak wajib menjadi sahabat kita. Persamaan menyatukan sahabat, perbedaan tidak memisahkan sahabat. Bagi Aristoteles, persahabatan adalah yang paling dibutuhkan dan paling agung dalam diri manusia atau dalam ekspresinya, “to take friendship out of life is to take the sun away from the world” (Vanier 2011, Kindle Electronic Edition, Location 2721). Persahabatan memberikan kesenangan dan makna hidup. 

Tradisi perayaan persahabatan telah dimulai sejak tahun 1935 ketika kongres Amerika Serikat  menetapkan Hari Minggu Pertama bulan Agustus sebagai Hari Persahabatan (Friendship Day). Secara bertahap, Hari Persahabatan menjadi semakin populer, terutama di kalangan kawula muda. Namun Minggu Pertama Agustus bukanlah satu-satunya momen perayaan persahabatan. Misalnya, persahabatan wanita dirayakan pada Minggu Ketiga Agustus, Persahabatan Lama (Old Friendship) dirayakan pada Minggu Ketiga Mei, Persahabatan Baru (New Friendship) dirayakan di bulan Februari. Sehingga perayaan persahabatan menjadi semakin beragam. Hal ini mendemonstrasikan betapa dunia mencintai dan menghargai persahabatan. Atas prakarsa Dr. Ramon Artemio Bracho, yang mengusulkan Hari Persahabatan Dunia, lahirlah World Friendship Crusade. Maka mulai tahun 1958, tanggal 30 Juli, dipromosi sebagai Hari Persahabatan Dunia. Kemudian pada tahun 2011, PBB menetapkan 30 Juli  sebagai World Friendship Day. Pada tahun 1998, Kofi Annan menetapkan Winnie the Pooh sebagai World’s Ambassador of Friendship PBB. Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB mengatakan, “I had the opportunity, earlier this year in Paraguay, to commend that pioneer, Dr. Ramon Bracho, for his conviction that just as friendship builds bridges between people, it can also inspire peace in our world”. PBB mendorong pemerintah, organisasi internasional dan masyarakat untuk menyelenggarakan acara-acara yang berkontribusi bagi komunitas internasional dalam rangka mempromosi dialog peradaban, solidaritas, sikap saling memahami dan rekonsiliasi.

Manusia dirancang untuk hidup dalam persahabatan. Gambaran Alkitab terhadap Allah Tritunggal juga mendemonstrasikan persahabatan (perichoresis). Kejadian 3:8 menggambarkan persahabatan Tuhan dan manusia yang menyenangkan - berjalan bersama di taman Eden. Henokh (Kej. 5), Nuh (Kej. 6:9), Ayub (29:4), Abraham (Yak. 2:23), Musa (Kel. 33:11) dikenal sebagai orang-orang yang bersahabat dengan Allah. Bahkan Yesus menegaskan, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh. 5:14).
Amsal 27:9 menulis, “minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa”. Dalam terjemahan Mandarin dan Inggris, kalimat “penderitaan merobek jiwa” diterjemahkan sebagai “nasihat seorang sahabat, menyenangkan jiwa”. Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari menerjemahkan, “Sebagaimana minyak harum dan wangi-wangian menyenangkan hati, demikian juga kebaikan kawan menyegarkan jiwa”. Terjemahan NIV menggunakan istilah “pleasantness of a friend”. Nasihat seorang sahabat yang baik bagaikan minyak dan wangi-wangian yang menyegarkan jiwa. 
Dalam bahasa Latin, kata companion terdiri dari kata com (bersama) dan panis (roti). Dalam bahasa Perancis kuno, compaignon berarti seseorang yang memecahkan roti bersama. Jadi, spiritual companion (sahabat rohani) adalah seseorang yang memecahkan roti besama atau menikmati roti bersama. Kerapuhan merupakan bagian dari persahabatan. Sahabat tidak memaksakan kehendak dan tidak mengorek-ngorek (kepo). Sahabat mendengarkan, memahami dan mengayomi dalam kerapuhan. Persahabatan diuji pada masa krisis. Sebab seorang sahabat tidak bersifat ego-sentris (berpusat pada diri sendiri). Persahabatan yang sehat membangun dan tidak meruntuhkan. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu” (Amsal 17:17). Seorang sahabat tidak menghina, meremehkan, merendahkan, menjatuhkan, mengeksploitasi, memanipulasi, memanfaatkan, mendominasi sahabatnya. Seorang sahabat tidak kepo dan tidak bossy terhadap sahabatnya. Seorang sahabat tidak memperlakukan sahabatnya sebagai competitor alias pesaing. Persahabatan tidak bersifat komersial. Seorang sahabat tidak sok tahu dan menawarkan berbagai solusi bagi sahabatnya melainkan mendampingi dan mendoakannya. Ia peduli pada kehidupan sahabatnya dan mengharapkan kehidupan yang baik (the good life) bagi sahabatnya. Kebaikan (Latin: benevolentia) berarti mengharapkan kebaikan (wish well). Persahabatan mencakup otensitas (keaslian). Persahabatan menyingkirkan kepura-puraan dan topeng, sebaliknya, persahabatan melahirkan otensitas.
Persahabatan yang sehat menyegarkan jiwa dan tidak mengeringkan tulang. Persahabatan dalam Kristus menyatukan dan memulihkan. Persahabatan dalam Kristus memperbarui imago dei (gambar Allah) dalam diri sahabat. Dalam persahabatan rohani, seseorang melihat keindahan dalam diri sahabatnya. Seorang sahabat melihat “excellence” dan “worth” dalam diri sahabatnya. Seorang sahabat memperindah kehidupan sahabatnya. Kita dapat menyimpulkan bahwa “tiada spiritualitas tanpa persahabatan” dan “tiada gereja tanpa persahabatan”. Saya sangat mengharapkan GKI Duta Mas menjadi jemaat yang bersahabat. Kiranya setiap anggota GKI Duta Mas menjalin PERSAHABATAN YANG MENYENANGKAN! 
Soli Deo Gloria!


Lan Yong Xing

Monday, 9 November 2015

PENTINGKAH TEMPAT BAGI MANUSIA?

Dalam Acara Kebaktian Syukur Penempatan Rumah Baru Dkn. Sudiono
Batam, 8 November 2015 - Lan Yong Xing



Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni” (Yes. 58:12)

Di manakah engkau? Inilah pertanyaan pertama yang diajukan oleh Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya (Adam dan Hawa yang bersembunyi di antara pohon-pohon dalam taman karena ketakutan). “Di mana” menunjukkan sebuah tempat, lokasi, lingkungan, gedung, daerah, wilayah… Pertanyaannya adalah apakah tempat berperan penting dalam kehidupan manusia? Ada orang-orang yang menganut pandangan bahwa “tempat” atau lingkungan yang dibangun manusia (built-environment) adalah bagian yang tidak penting karena yang terpenting adalah spiritualitas, relasi dan komunikasi antar manusia. Dengan kata lain, tempat dipandang tidak berperan penting dalam kehidupan manusia. Sehingga teknologi komunikasi dianggap bisa menggantikan peran sebuah tempat dalam relasi manusia. Karena peran tempat dipandang tidak signifikan maka muncullah pemikiran bahwa sebenarnya gedung gereja tidak diperlukan, toh yang penting adalah pertemuannya sehingga cukup beribadah di tempat-tempat umum seperti di ruang-ruang pertemuan atau cukup beribadah di rumah masing-masing menggunakan teknologi komunikasi. 

Apabila tempat tidak terlalu signifikan bagi kehidupan manusia maka menjadi “yang memperbaiki tembok yang tembus” dan “yang membetulkan jalan” juga menjadi tidak terlalu penting. Maka tidak penting di mana kita memilih tempat tinggal, di mana lokasi perusahaan maupun gudang kita. Menjadi tidak penting pula untuk memilih tempat tinggal yang kondusif untuk pertumbuhan anak maupun kondusif demi “ramah lingkungan” (jarak rumah ke kantor, sekolah, rumah ibadah). Namun, benarkah demikian? Kisah ibu Mencius (Mengzi) tiga kali pindah rumah mendemonstrasikan peran lingkungan terhadap seseorang. Pertama, karena tinggal dekat kuburan, ibunya memperhatikan Mengzi sering bermain mempraktekkan upacara penguburan. Maka ibu Mencius memutuskan untuk pindah ke pasar. Mencius yang masih kecil bermain memotong babi dan berjualan makanan bersama teman-temannya. Maka ibunya memutuskan untuk berpindah lagi ke lingkungan dekat sekolah. Melihat Mencius menghafal ajaran Confucius, maka ibunya yakin dia memilih lokasi tempat tinggal yang tepat buat putranya. Mencius bertumbuh dewasa menjadi seorang filsuf yang terkenal di China bahkan hingga seluruh dunia. Lingkungan tempat tinggal (built-environment) berperan dalam membentuk diri kita. Pada mulanya kita membentuk lingkungan tempat tinggal kita dan kemudian lingkungan membentuk diri kita. Ketika kita tinggal di sebuah lingkungan tertentu, arsitektur, sejarah, budaya setempat dan pemaknaan ingatan kolektitf (collective memories) ikut berdampak dalam hidup kita. 

Perintah TUHAN kepada manusia untuk “memenuhi bumi” dan “menaklukkan ciptaannya” mengandung arti mengembangkan dan menatalayani atau mengurus dengan penuh tanggungjawab. Sayangnya, bagian perintah TUHAN ini sering dipahami sebagai legalisasi untuk mengeksploitasi dan merusak ciptaan Allah. Sejarah keselamatan Allah yang dimulai di taman Eden (pakaian dari kulit binatang yang dibuat Tuhan untuk Adam dan Hawa) dan berakhir di Yerusalem Baru - The Garden City menggambarkan akan pentingnya tempat lingkungan bagi manusia sehingga Tuhan mendesain The Garden City bagi kebahagiaan manusia yang diselamatkan-Nya.   

Sekarang, kita perlu memikirkan satu pertanyaan lagi yakni apakah kita menganut konsept dua kota atau tiga kota?

Kota Allah (City of God)
Kota Dunia (City of the World)
Ibadah
Bisnis
Pembelajaran Alkitab
Pendidikan
Persekutuan
Seni
Pelayanan Sosial
Arsitektur
Penginjilan
Politik


Dalam konsep dua kota, dua bagian ini saling bertentangan yang satu mencari kemuliaan Allah dan yang satu lagi mencari kemuliaan manusia. 









Kemuliaan Allah
Soli Deo Gloria
Kota Ketiga 
(Coram Deo - Di hadapan Allah)




Kemuliaan Manusia

Ego manusia
Self-entitlement
Self-glorification
Self-deification
Ibadah
Persekutuan
Pemahaman Alkitab
Pelayanan Sosial
Pertanian
Ekonomi
Seni
Pendidikan
Politik


Menurut konsep tiga kota, ada dua orientasi yang saling tarik-menarik yaitu orientasi terhadap kemuliaan Allah dan terhadap kemuliaan manusia. Sebuah ibadah bisa memuliakan Allah juga bisa memuliakan manusia misalnya ketika pendetanya diagung-agungkan karena talentanya atau musik ibadahnya, tata ruang ibadah menjadi sanjungan, segala sesuatu dalam ibadah diaggungkan kecuali Tuhan Sang Pencipta. Pelayanan sosial bisa memberkati sesama tetapi juga bisa digunakan untuk praktek korupsi maupun kemuliaan tokoh tertentu. 

Peran serta manusia dalam menghadirkan Kerajaan Allah bagaikan menyumbang paku, pasir, semen, besi, kayu, papan. Namun Arsitek, Designer dan Insinyurnya adalah Tuhan sendiri. Yesus mengajarkan akan pentingnya mendoakan kehadiran Kerajaan Allah. Yesus juga mengajarkan kita untuk mencari dahulu Kerajaan-Nya. Kerajaan Allah berkarakteristikan damai sejahtera, keindahan, harmonis, sejuk, nyaman, adil, bahagia, ramah…yang tercakup dalam kata Shalom

Kiranya Shalom TUHAN juga dihadiahkan kepada Bapak Ho (ayah dari ibu Fikian) yang berusia 70 tahun. Saya ucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepada Bapak Ho. Tuhan bersabda, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yes. 46:4).



Menu sedap siap dimakan
Dipersiapkan Pak Sudiono dan Nyonya
Doa berkat kami panjatkan
Berbahagia kini dan selamanya

















Tuesday, 17 February 2015

KEKUATAN BARU BAGI YANG LETIH LESU


Suatu kali ketika saya melewati remaja yang sedang bermain gitar bersama dengan beberapa temannya, mereka memberitahu saya bahwa teman mereka yang sedang bermain gitar ini sedang mengalami “galau-ing” (kacau tidak keruan). Apa yang Saudara lakukan di kala galau? Setiap orang menghadapi kegalauan dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang yang saat galau memilih untuk bermain gitar, ada yang menatap ke luar jendela, ada yang berdiri di depan pintu, ada yang menonton televisi tanpa menyadari apa yang mereka tonton sebab lebih tepatnya, TV menonton mereka, ada yang nonton ke bioskop, berjalan ke mall tanpa berbelanja, ada yang berbelanja banyak, makan banyak dan ada juga yang memilih untuk tidur di rumah. 

Media mendikte kita mengenai persepsi kecantikan secara terus-menerus.Karena kecemasan tidak memperoleh pacar, kini semakin banyak orang menggunakan aplikasi foto untuk mengedit foto dirinya menjadi cantik, langsing, singsat dan menawan saat berkenalan di media sosial. Ada yang membunuh diri karena kecewa melihat pacar yang selama ini dia kecani di media sosial tidak sesuai harapan. Ada juga yang memukuli temannya saat pertama kali bertemu karena kecewa melihat penampilannya. Tuntutan sosial terhadap penampilan diri seseorang kini menjadi hal yang penuh beban dan mencemaskan. Kita juga dipacu untuk berkompetisi karena hidup ini adalah sebuah kompetisi untuk menang. Tidak heran, hidup menjadi semakin penuh dengan tekanan. 
Siapa Penolong kita di tengah berbagai pergumulan yang melelahkan diri kita? Siapa Penolong Saudara di saat Saudara tidak bisa tidur di malam hari karena beratnya persoalan yang Saudara hadapi? Siapa Penolong Saudara di kala Saudara bersedih sendirian dan tidak ada orang yang memahami kesulitan Saudara? Sang Pencipta langit dan bumi adalah Penolong kita. Dia menciptakan bumi dari ujung ke ujung (Yes 40:28). Dia adalah Allah yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada. Dia adalah Allah yang kekal (Yes 40:28).  Dia tidak dibatasi waktu, tidak ada jam dinding maupun jam weker di sorga. TUHAN tidak dibatasi waktu, Dia melihat seluruh sejarah kehidupan manusia sekaligus. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan Dia (Yes 40:25). Dia adalah satu-satu-Nya Pencipta. Tidak ada yang bisa menandingi kekuasaan Dia. Tidak ada suatu apa pun dapat mengalahkan Dia. Tidak ada satupun kekejian dan kelicikan manusia yang tidak Dia ketahui. Tidak ada satupun rancangan dan siasat manusia yang berada di luar pengetahuan Dia. Sebaliknya, Dia berada di luar pengertian manusia (Yes 40:28).

Dia adalah Allah yang Maha Kuasa dan Maha Kuat (Yes 40:26). Dia adalah Allah yang tidak menjadi lelah dan lesu (Yes 40:28). Dia tidak pernah lelah mendengarkan keluh kesah Saudara. Dia tidak pernah lelah memandang Saudara dengan penuh cinta kasih. Dia tidak pernah lelah untuk memeluk Saudara. Di Amerika Serikat, ada seorang yang menawarkan jasa pelukan dengan tarif 35 USD per 30 menit untuk menguatkan orang-orang yang sedih. Pelukan dilakukan dengan kesepakatan dimana pelanggan tidak boleh meraba, dan pelukan dilakukan di ruangan yang ada CCTV. Ternyata, banyak sekali peminatnya. Walaupun kita tidak dapat menyentuh TUHAN, tetapi TUHAN dapat memberikan pelukan yang nyaman bagi Saudara. TUHAN memberikan penghiburan bagi Saudara di kala hati Saudara sedang sedih berat. Dia tidak memasang tarif. Dia tidak pernah lelah menolong Saudara. Dia adalah Allah yang tidak pernah tidur. Dia adalah Allah yang senantiasa memperhatikan Saudara.

Dia mengumpulkan yang cerai-berai (Mzm 147:2). Umat TUHAN yang terpencar dikumpulkan TUHAN. Ketidakharmonisan yang mencerai-berai dipadukan TUHAN karena Allah mencintai keharmonisan. Bahasa Mandarin memiliki istilah 魂飞魄散 yang berarti roh terbang dan berserakan. Ketika seseorang mengalami kecemasan atau kegalauan seseorang bisa mengalami 魂飞魄散 sehingga dirinya perlu dikumpulkan kembali. Ketika jiwa, roh dan pikiran kita berserakan maka jiwa, roh dan pikiran perlu dikumpulkan dan dipersatukan kembali.

Dia juga adalah Allah yang menyembuhkan (Mzm 147:3) dan membalut luka (Mzm 147:3). Mungkin Saudara mengatakan, “Sakitnya tuch di sini, di sana di mana-mana”. TUHAN membalut luka dan menyembuhkan Saudara. TUHAN membalut dan menyembuhkan sakit Saudara yang ada di sini, di sana dan di mana-mana. TUHAN menyembuhkan kesedihan dan kepedihan Saudara. TUHAN menegakkan kembali yang tertindas (Mzm 147:6). Saudara, yang mengalami penindasan hingga tidak sanggup bangkit berdiri akan ditegakkan kembali oleh TUHAN. 

Dia adalah TUHAN yang merendahkan orang fasik, orang jahat, keji (Mzm 147:6) dan Dia adalah TUHAN yang tidak suka kegagahan kuda dan tidak senang kepada kaki laki-laki (Mzm 147:10). Dia tidak suka orang yang membanggakan diri dengan mobil Ferari, Ford, Mercedez mereka. Dia tidak suka orang yang membanggakan diri dengan kehebatan dan keterampilannya. Dia tidak suka orang yang memegahkan diri. Dia tidak suka orang yang suka menonjolkan diri. Dia tidak suka orang yang suka membuktikan kehebatan dirinya. Suatu kali, seorang profesor berlayar bersama dengan seorang pelaut. Di tengah perjalanan, profesor tersebut bertanya, “Apakah bapak mengerti sosiologi, psikologi, biologi dan ekologi? Pelaut tersebut menjawab “tidak” untuk semua pertanyaan yang diajukan profesor. Profesor tersebut berkata, “Karena kamu tidak memahami banyak hal penting di dunia ini, kamu akan mati sebagai seorang yang tidak terpelajar.” Tiba-tiba kapal akan tenggelam, di saat itu, pelaut tersebut bertanya kepada pak profesor, “Apakah kamu mengerti berenang-ologi, menyelamatkan diri dari hiu-logi? Jika tidak kamu hiu-logi dan tenggelam-ologi akan membuat kamu mengalami kematian-ologi akibat mulutmu-logi. Orang yang merasa serba bisa, serba pintar selain memposisikan diri mereka di atas semua orang juga memposisikan diri mereka di atas TUHAN. Seolah-olah mereka menjadi TUHAN dan tidak membutuhkan pertolongan dari TUHAN. TUHAN tidak suka orang demikian, sebaliknya TUHAN suka orang yang takut pada-Nya. Takut pada TUHAN bukan ketakutan tetapi hormat kepada TUHAN. TUHAN juga suka pada orang yang berharap pada kasih setia-Nya (Mzm 147:11).


Mari kita berhenti menganggungkan diri, mencari pujian dan memegahkan diri. Mari kita miliki hati yang takut dan penuh hormat kepada TUHAN. Jangan kita merampas kemuliaan Allah. Tetapi berharaplah pada Dia walaupun jalan di depan Saudara tampak suram. Bersandarlah pada TUHAN dan berserulah kepada Dia sebab mata TUHAN selalu tertuju pada orang-orang yang tertindas. Mata TUHAN selalu tertuju pada orang-orang yang lemah. TUHAN akan memberikan KEKUATAN BARU bagi Saudara yang letih lesu sehingga Saudara memperoleh kekuatan baru dan naik terbang membentangkan sayap bagaikan rajawali (Yes 40:31). Saudara berlari dan tidak lesu. Saudara berjalan dan tidak lelah (Yes 40:31).

Batam, 17 Januari 2015

Wednesday, 2 July 2014

DOA SIAPA YANG DIBENARKAN?

Tadkala manusia merasa dirinya benar atau bahkan paling benar. Dan tidak jarang ketika seseorang merasa dirinya paling benar dia akan cenderung merendahkan semua orang. Dia akan memandang segala sesuatu yang dilakukan orang lain itu tidak baik. Segala sesuatu yang dilakukan orang lain itu salah. Seorang yang merasa dirinya paling benar akan selalu mengomentari sikap dan perbuatan orang lain, menjelekkan orang lain seolah-olah dirinya sendiri paling berpengetahuan, paling berhikmat, paling pintar dan lain sebagainya. Khusus orang-orang yang berkaliber seperti ini atau orang yang paling hebat ini, Yesus memberikan sebuah cerita yang dicatat oleh dokter Lukas.

Ada dua orang datang menghadap TUHAN. Yang seorang adalah Farisi, seorang pemimpin spiritual yang menaati hukum Taurat. Seorang yang hidup kudus dan memelihara kekayaan tradisi dan ajaran Musa. Seorang yang saleh dan sangat dihormati oleh masyarakat. Dia adalah seorang yang menggali dan mendalami firman TUHAN, seorang yang taat kepada firman TUHAN. Seorang yang mempraktekkan hidup kudus. Sedangkan yang seorang lagi adalah seorang pemungut cukai. Seorang petugas pajak, seorang pajabat pemerintah yang korup. Seorang yang sering menindas yang lemah, mendenda orang lain demi meraup keuntungan pribadi. Singkat kata, yang satu adalah seorang yang mulia, teladan bagi masyarakat sedangkan yang satu lagi adalah sampah masyarakat atau virus masyarakat.

Sejujurnya kita pasti memilih orang Farisi yang saleh daripada si pemungut cukai. Namun cerita yang disampaikan oleh Yesus selalu berakhir dengan sebuah kejutan atau dalam bahasa perfilman cerita Yesus memiliki ending dengan twist yang mengejutkan. Sebab “ending” cerita Yesus berada di luar logika, pemahaman dan bahkan norma sosial masyarakat. Sekarang pertanyaan kita adalah apa yang membedakan dua orang tersebut? Kenapa doa pemungut cukai diterima sedangkan doa orang Farisi hanya bagaikan uap saja?

Yang dilakukan orang Farisi adalah “pembenaran diri”. Dia seolah-olah sedang memuji TUHAN tetapi sebenarnya dia sedang memuji dirinya sendiri. Ia berdoa, “Aku mengucap syukur pada-Mu ya TUHAN, aku rajin berdoa, rajin membaca firman, banyak menghafal ayat-ayat Alkitab, rajin berpuasa, banyak memberi persembahan, hebat berkhotbah, pintar menulis, jago mengajar, memiliki gelar Ph.D, TIDAK SEPERTI PEMUNGUT CUKAI INI, saya sangat berhikmat, serba tahu, serba bisa, tidak berzinah, tidak merokok, tidak melakukan kejahatan, tidak mengintip ke dalam rok mini perempuan dan jujur mengelola uang”. Sebenarnya, memuji TUHAN dan memuji diri sendiri kerapkali hanya berbeda tipis. Orang Farisi ini merasa baik pada dirinya sendiri, ia merasa sudah melakukan banyak, sudah melayani dengan baik, sudah hidup benar. Dia menaruh percaya pada keselamatan atas hasil perbuatan baiknya. Tidak hanya itu, dia memandang rendah pemungut cukai, menurut dia, dirinya jauh lebih baik daripada pemungut cukai. Bukankah kita juga sering menganggap diri kita sendiri lebih baik dari orang lain?

Sebaliknya, pemungut cukai tidak merasa dirinya lebih baik dari orang Farisi. Ia merasa sudah tidak memiliki pengharapan. Dia merasa sebagai seorang yang sangat berdosa, ia tidak berani menengadah ke atas, ia memukul dirinya sendiri. Ia berdoa, “ya TUHAN, aku telah menindas, mengeksploitasi, mencuri, menipu, mencurangi, merampas, serba tidak mampu, serba tidak bisa, serba tidak tahu, memiliki motivasi jahat, tidak berhikmat, bodoh, berpikiran kotor, YA TUHAN, KASIHANILAH AKU ORANG BERDOSA INI”. Dia hanya mengharapkan belas kasihan TUHAN. Dia tidak berani menuntut apa-apa dari TUHAN, dia merasa tidak layak, tidak pantas, tidak berkompetensi. Dia hanya berharap, kiranya TUHAN berbelas kasihan pada dirinya.

Yesus menegaskan, pemungut cukai pulang ke rumah sebagai orang yang dibenarkan Allah. Kisah yang diceritakan Yesus ini menegur setiap kita. Kita diundang untuk mengevaluasi diri, apakah kita dimotivasi oleh pembenaran diri, mencari pengakuan dan gila hormat. Apakah setiap kali kita memuji TUHAN sebenarnya kita sedang memuji kehebatan dan pencapaian diri? Apakah setiap kali ketika kita memuliakan TUHAN sebenarnya kita sedang memuliakan keharuman reputasi diri? Setiap kali ketika kita mengomentari, menjelekkan dan meremehkan orang lain, apakah kita sedang membuktikan kompetensi, pengetahuan, kecerdasan dan kehebatan diri? Apakah kehidupan rohani kita dijadikan sebagai panggung pertunjukkan? Kita diingatkan Yesus untuk tidak mengagungkan diri, tidak membenarkan diri dan tidak meremehkan orang lain. Kiranya TUHAN menolong kita!

 Batam, 2 Juli 2014










Kekuatan Kelemahlembutan - Bilangan 12