Tuesday, 1 July 2014

MENGAPA ROH ALLAH MELAYANG-LAYANG DI ATAS AIR?

Kej 1:2  Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Bumi (erets) belum berbentuk dan kosong. Wenham (1987, 15) dan Waltke (2007, 179) berpendapat bahwa langit (shamayim) dan bumi (erets) di ayat pertama berarti “alam semesta” dalam ayat yang pertama dan “erets” berarti “bumi” dalam ayat kedua (1987, 15).

Belum berbentuk (tohu - nothingness) (Yes 29:21) bisa berarti kekacauan total (total chaos) atau padang belantara (Ul 32:10; Ayub 6:18) (Wenham, 15). Dan ketika kedua kata tersebut “tidak berbentuk” dan “kosong” (tohu wabohu) disatukan maka artinya adalah “kehampaan dalam keadaan menyeramkan” (Yes 34:11; Yer 4:23). “Gelap gulita” (khosek) bisa berarti “jalan orang jahat” (Ams 2:13), “penghakiman” (Kel 10:21) atau “kematian” (Mzm 88:13) (Wenham, 16). “Samudera raya” (tehom) berarti “dalam” (deep) atau air yang dalam (deep waters). Jadi ketika kita memadukan semua kata tersebut “belum berbentuk, kosong, gelap gulita dan samudera raya” maka kita memperoleh sebuah gambaran “kekacauan dan kehampaan yang menyeramkan”Void (kehampaan), Eerie (menyeramkan), Chaotic (kekacauan), Desolation (reruntuhan), Zombie-ness (tanpa kehidupan)

Dalam keadaan yang kacau, hampa, gelap gulita yang menyeramkan ini, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (mayim: air yang dalam). Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air mendemonstrasikan bahwa Allah berada di atas kekacauan. Allah yang melihat dari atas bagaikan burung rajawali. Allah yang mengetahui keadaan yang hampa, gelap dan kacau. Allah yang mengetahui persoalan dan pergumulan Anda dan saya. Roh Allah melayang-layang di atas air merupakan momen di mana Allah berpikir, berencana dan menciptakan atau dalam bahasa Bonhoeffer “God is thinking, planning and bringing forth form” (Bonhoeffer, 38). Jadi, Roh Allah (juga dapat diterjemahkan dengan kata “Angin Allah”) yang melayang-layang merupakan gambaran Allah yang berproaktif merencanakan, berkreasi dan memelihara ciptaan-Nya. Allah bergerak dengan dinamis dan secara terus-menerus berkuasa atas kekacauan.

Roh TUHAN melayang-layang (rahap)[1] di atas kekacauan, kehampaan dan gelap gulita dan Ia dengan rapi dan teratur menata alam semesta dan bumi. Keteraturan di dalam sebuah sistem yang tidak kelihatan merupakan karakteristik penciptaan. TUHAN menciptakan alam yang memiliki kemampuan untuk mengimbangi. Namun manusia yang dipercayakan untuk mengurus dan mengelola alam malah telah merusak alam ini dengan serius. Dulu ketika berada di atas pesawat, pulau Batam masih kelihatan hijau, akan tetapi jika kita melihat Batam dari jendela pesawat saat ini kita akan menemukan Batam yang semakin tandus. Di saat pesawat mendekati langit Jakarta sebelum mendarat, kita dapat menyaksikan lapisan tebal berwarna abu-abu melapisi langit ibu kota Indonesia.

Dari sudut pandang penebusan dan restorasi ciptaan-Nya, Roh Allah yang melayang-layang di atas kekacauan dan gelap gulita yang menyeramkan secara proaktif memikirkan dan merencanakan karya-Nya secara progresif yang terlihat apabila kita membandingkannya dengan pemulihan ciptaan yang didepiksi di dalam kitab Wahyu.


Kejadian 1-3
Wahyu 21-22
Kekacauan
Samudera raya
Tiada lautan
Sumber terang
Cahaya matahari
Cahaya Allah Sendiri
Pembagian terang
Siang dan Malam
Tiada malam
Penciptaan
Berada di dalam kutukan
Kutukan diangkat
Keadaan moralitas manusia
Berpotensi jatuh ke dalam dosa
(able to sin dan not able not to sin)
Tidak dikuasai dosa (unable to sin)
Keadaan fisik manusia
Terbatas dan penuh penderitaan
Abadi dan tidak menderita
Keadaan politis manusia
Terbagi-bagi
Secara menyuruh tunduk pada Allah, Raja atas segala raja
Keadaan spiritual manusia
Diusir dari hadapan Allah
Bersama dengan Allah
Pengudusan
Hari ketujuh
Universal
Allah
Tidak kelihatan
Kelihatan
Anak Allah
Tersembunyi
Menyatakan Diri
Air
Memenuhi kebutuhan fisik
Memenuhi kebutuhan spiritual



Dari sudut pandang spiritual, tanpa perjumpaan dengan Tuhan dan kehadiran-Nya dalam hidup kita maka hidup kita berada dalam kondisi “kosong” dan “gelap gulita” yang artinya hidup kita dalam keadaan hampa. Kehampaan spiritual bagaikan lubang hitam yang menyedot segala sesuatu untuk mengisinya tetapi tetap saja merasa hampa. Bagi saya, kehampaan (void) yang memicu hasrat (longing) tidak selalu berkonotasi negatif. Kehampaan dapat menjadi motivasi dan dorongan (driving force) yang mendorong manusia untuk terus mengingini (longings) yang kemudian tercurah dalam berbagai karya manusia seperti membangun kota, mengembangkan musik, lukisan, teknologi yang kemudian melahirkan peradaban dan budaya (civilizations and cultures).

Namun tanpa Perintis sejarah umat manusia, Sang Sumber Kehidupan, kehidupan manusia menjadi tidak berarti, hampa, sepi dan melelahkan. Dinamisme kehidupan terblokir dan kreativitas tidak berkembang. Kehampaan tersebut menjadi dorongan negatif - “rasa tidak aman dan rasa takut”. Misalnya, kiasuisme (kiasu adalah bahasa Hokkien untuk takut kalah) menggerogoti hati manusia.

Kehampaan (deep emptiness) dan kerinduan (deep longings) yang mendalam tersebut juga mendorong manusia untuk berjumpa dengan yang transenden (Higher Power) yang kerapkali diinterpretasikan ke dalam berbagai hal seperti supernatural power, kekuatan magis, takhyul dan lain sebagainya. Tidak heran apabila manusia selalu merasa hampa dan tidak terpenuhi. Sebab kehampaan di dalam diri manusia hanya bisa dipenuhi dengan terpenuhinya kebutuhan spiritual dari Sang Pencipta jika tidak manusia akan selalu berada dalam keadaan tidak terpuaskan.

Jika kita mengkontraskan “belum berbentuk, kosong dan gelap gulita” dengan perkataan Yesus, “Aku adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan kita akan menemukan bahwa jika kehidupan didorong oleh motivasi yang salah dan memiliki tujuan yang salah maka hidup ini hanya menjadi tidak berarti dan sangat melelahkan. Perkataan Yesus telah diurut sedemikian rupa yaitu “Jalan, Kebenaran dan tujuan akhir “Hidup”.  Langkah pertama adalah “Jalan”, Yesus adalah Jalan sehingga kita harus menempuh jalan tersebut dengan iman. Sebab kita hanya bisa menempuh sebuah perjalanan ketika kita percaya akan destinasi akhir dari perjalanan yang kita tempuh. Banyak yang gagal di tahap pertama dan kemudian beralih ke jalan yang lain. Tetapi permasalahannya adalah tidak ada jalan lain menuju Bapa. Dan yang kedua adalah “Kebenaran”. Kebenaran perlu digali, didalami dan direnungkan. Pemahaman firman TUHAN sangat penting karena firman TUHAN adalah kunci kehidupan (Baca Roma 10:1-3). Jadi untuk memperoleh kehidupan yang berkelimpahan di dalam TUHAN kita harus menempuh Jalan dengan iman dan mendalami Kebenaran dengan hikmat.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari dapat dipandang dari sudut kebenaran firman TUHAN. Roh TUHAN melayang-layang di atas permukaan air  menunjukkan bahwa Roh TUHAN selalu siap untuk menolong manusia yang bersedia berseru kepada nama TUHAN (Roma 10:13). Karena TUHANlah yang memulai kehidupan manusia, sehingga manusia tidak mungkin bisa menjalani hidup yang berkelimpahan terpisah dari Sang Pencipta. Interelasi manusia dan TUHAN merupakan kunci kehidupan. Iman memampukan kita untuk tetap yakin bahwa TUHAN mengasihi kita di dalam kondisi apa pun. Kondisi terberat di dalam kehidupan sekalipun tidak memisahkan kita dari kasih-Nya. Pengharapan memampukan kita untuk bertahan hingga akhir mengingat destinasi yang mulia dalam hidup ini – Kehidupan Sorgawi. Dan kasih mengisi kehidupan yang gelap gulita, kosong dan tidak berarti ini dengan terang dan kehangatan.

Roh Allah yang juga dikenal dengan Roh Kebenaran dan Roh Hikmat ini senantiasa secara proaktif memulihkan kondisi yang rusak (eerie chaos) menjadi kondisi yang penuh damai yang nantinya berpuncak pada Kota Damai seperti yang digambarkan di dalam kitab Wahyu. Gereja Tuhan dipanggil untuk menjadi agen pembaruan yang berperan sebagai “Repairers of the broken walls” and the “Restorers of streets with dwellings” (Yes 48:12).

Referensi
Bonhoeffer, Dietrich. 2004. Creation and Fall: A Theological Exposition of Genesis 1-3. Fortress Press: Minneapolis.
Waltke, Bruce K. 2007. An Old Testament Theology: an exegetical, canonical and thematic approach. Grand Rapids; Michigan: Zondervan.
Wenham, Gordon J. 1987. Genesis 1-15. In Word Biblical Commentary Vol. 1. Waco, Texas: Word Books.
Wolters, Albert M. 2010. Pemulihaan Ciptaan. Surabaya: Momentum.

Batam, 1 Juli 2014

[1] Kata melayang-layang (rahap) berarti gemetar/goyah (Yer 23:9) yang juga bisa berarti bergerak dengan tenang.

Monday, 30 June 2014

TULANG YUSUF

Manusia merupakan makhluk yang memiliki memori. Saudara pasti memiliki kenangan-kenangan indah berupa sebuah tempat pertama Anda berpacaran, tempat Anda propose pada pasangan Anda, momen Anda wisuda dan momen-momen lainnya. Di dalam memori terkandung berbagai kenangan. Setiap kenangan bisa mengandung penyesalan, dukacita, sukacita, pembelajaran sehingga seseorang mungkin mengategorikan kenangan menjadi kenangan manis, kenangan pahit, kenangan sedih, kenangan penyesalan dan lain sebagainya. Kenangan-kenangan pahit, sedih dan penuh penyesalan tidak dapat dihilangan tetapi dapat diedit dengan memberikan perspektif baru ke dalam memori tersebut.

Apa yang kita kenang dari seseorang yang terlebih dahulu meninggalkan kita? Senyumannya, perkataannya, kebiasaannya? Mengenang “kawan lama” maupun “anggota keluarga” merupakan hal yang sangat indah. Memori-memori indah tersimpan dan diputar setiap kali kita mengenang mereka. Selain mengenang masa lalu, manusia juga mampu memvisualisasi masa depan. Sebelum ada telepon genggam manusia sudah terlebih dahulu memvisualisasi penggunakan handphone di dalam film-film animasi. Manusia juga memvisualisasi mobil tanpa supir, bedah robot, cloning manusia, komputer sadar diri dan lain sebagainya di dalam film-film yang bertema futuristik. Kemampuan manusia untuk mengenang masa lalu dan mempikturisasi masa depan mendemonstrasikan bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu menerobos waktu. Keabadian sudah tertanam di dalam diri manusia. Singkat kata, manusia bisa mengenang masa lalu juga bisa mengharapkan masa depan.

Alkitab Perjanjian Lama menyebut dua orang yang dirempah-rempahi setelah kematian mereka yakni Yakub (Kej 50:2) dan Yusuf (Kej 50:26). Menurut Gordon Wenham, mumifikasi merupakan sebuah proses rumit, yang pada umumnya termasuk mengeluarkan otak dan organ tubuh dan digantikan dengan rempah-rempah. Biasanya proses ini memakan memerlukan waktu selama 70 hari (1994, 488).

Yusuf meninggal pada umur 110 tahun. Sebelum meninggal, Yusuf meminta agar tubuhnya tidak dimakamkan di Mesir. Yusuf berpesan kepada anak-anaknya,
“Tidak lama lagi aku akan mati, tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: "Tentu Allah akan memperhatikan kamu; pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." (Kej 50:24).

Kitab Ibrani memberitahukan bahwa permintaan Yusuf merupakan ekspresi dari imannya kepada Yahweh. Ibrani 11:22 mencatat, “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya. Yusuf menolak untuk dimakamkan di dalam piramida Mesir. Yusuf berpegang pada janji Yahweh yang akan membawa umat-Nya keluar dari Mesir, sehingga ia memerintahkan kepada anak cucunya untuk membawa tulangnya bersama dengan mereka. Oleh sebab itu, pada saat bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa membawa tulang Yusuf (Kel 13:19). Kemudian setelah mereka memasuki Tanah Perjanjian, tulang Yusuf dikuburkan di tanah yang dibeli ayahnya, Yakub di Sikhem.

Yusuf adalah satu-satunya orang yang tulangnya dibawa ke mana-mana. Tulang Yusuf di sini merupakan simbol pengharapan. Yusuf mengharapkan kunjungan TUHAN, pembebasan, Tanah Perjanjian dan kebangkitan orang mati. Apabila kita memasuki gereja-gereja tua di Eropa, kita akan melalui halaman depan yang dipenuhi dengan kuburan. Ketika saya mengunjungi sebuah gereja Presbyterian tua di Malaka (Christ Church), saya menemukan banyak anggota jemaatnya yang dikubur di lantai dan di kuburkan dalam dinding gereja. Karena Kristus telah mengalahkan maut sehingga kematian tidak lagi menakutkan. Kematian telah berubah menjadi “tidur”, sesuatu yang bersifat terminasi abadi telah berubah menjadi peristirahatan sementara. Dengan kata lain, mati bukan berarti “game over”. Sebab kebangkitan dengan tubuh yang mulai telah memberikan pembaharuan pada tubuh yang fana. Kebangkitan menegaskan kembali bahwa TUHAN adalah Pencipta Yang Maha Kuasa yang bahkan menciptakan kembali yang fana melalui kebangkitan.

Benar bahwa kematian memisahkan manusia dengan orang-orang yang mereka cintai yang telah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Tetapi perpisahan ini bersifat sementara sebab Kristus telah membuka jalan bagi manusia ke dalam dimensi keabadian. Kita dapat bertemu dengan orang yang kita cintai. Ketika bertemu kembali, kita akan bertemu di dalam kemuliaan, sebuah fenomena yang sangat menakjubkan. Untuk itu, di dalam pandangan orang Kristen tidak mencakup perkataan “人死不能复生” yang artinya manusia yang mati tidak dapat hidup kembali. Karena di dalam wawasan teologis orang-orang Kristen memiliki pandangan mengenai kebangkitan orang mati.

Bagaimana kita akan dikenang? Kita mungkin dikenang sebagai seorang pekerja keras, pencapai, teratur, tegas, sabar, penuh cinta dan lain sebagainya. Apakah kita mau dikenang sebagai seorang yang hebat dan sukses? Atau mau dikenang sebagai seorang yang banyak berbuat baik? Seorang yang sabar? Kitab Ibrani tidak menyimpulkan kehidupan Yusuf sebagai seorang hebat di Mesir, sebagai orang nomor dua di Mesir, atau sebagai ahli mimpi yang hebat. Tetapi Yusuf dikenang sebagai seorang yang percaya bahwa TUHAN akan mengunjungi, seorang yang percaya pada kasih setia TUHAN. Bagamana kita mau dikenang?

Referensi

Wenham, Gordon. 1994. Genesis 16-50: Word Biblical Commentary. USA: Word, Incorporated.


Batam, 30 June 2014

MENGAPA TUHAN BERISTIRAHAT?

Dalam kehidupan yang bertekanan tinggi, spesialis jantung akan menasihati orang yang memiliki tekanan darah tinggi untuk memperlambat gerakan dan beristirahat. Setiap orang memiliki pola istirahat masing-masing sehingga istirahat bisa memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Istirahat bisa berarti tidur, nonton, berbelanja, bepergian, berenang, gym, jogging, yoga, meditasi, balapan, merokok, minum alcohol, konsumsi obat tidur dan lain sebagainya. Ketika seorang jemaat ditanya oleh pendetanya mengapa ia tidak ibadah Minggu, ia menjawab, “Lebih baik saya berada di tempat tidur memikirkan gereja pada hari Minggu daripada berada di dalam gereja dan memikirkan tempat tidurku. Paling tidak pikiranku berada pada tempat yang tepat.” Benar bahwa manusia memilih tempat tidur, mobil, restoran, lapangan futsal, bioskop, mall, pantai sebagai sanctuary.

Apa yang dimaksud dengan istirahat? Alkitab mencatat bahwa Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej 2:2). Kata “berhenti” (Sabat) juga bisa diterjemahkan dengan kata “istirahat”. Allah “berhenti” atau “beristirahat” karena Ia menyelesaikan karya penciptaan-Nya. “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej 2:3). Ia berhenti bukan karena Ia merasa lelah tetapi karena Ia telah “menyelesaikan” karya penciptaan.

Yesus memulai pelayanannya pada Sabat dengan membacakan gulungan kitab Yesaya (61:1-2) (Lukas 4:16-21). Dia juga melakukan penyembuhan pada hari Sabat (Luk 13:16; Mat 12:5-6; Yoh 5:17; 7:22-23). Dengan kata lain, Ia berkarya, menyelamatkan, memulihkan, memperbaharui. Kemudian setelah semuanya selesai yakni ketika Ia berada di atas kayu salib dan hendak menghembuskan nafas terakhirnya, Ia berkata “Sudah selesai” (Yoh 19:30). Setelah itu Ia beristirahat di dalam kuburan (Luk 23:54-56). Jadi, mengapa Yesus mati pada hari Jumat? Karena besoknya adalah hari “Sabat”, Yesus menyelesaikan karya keselamatan sebelum “Hari Istirahat”. Pada hari Sabat, tubuh Yesus terbaring di dalam kuburan dan setelah hari Sabat, Yesus bangkit (keluar dari peristirahatan) yakni pemulihan dan pembaruan terjadi setelah Sabat. Sangat indah bukan?

Istirahat merupakan sebuah proses pemulihan yang menyegarkan, misalnya di saat kita tidur di malam hari, tubuh kita melakukan proses maintenance berupa reparasi sel-sel yang rusak, membuang racun dan lain sebagainya. Istirahat itu melegakan, tidak heran toilet juga dikenal dengan istilah restroom. Dr. Bacchiocchi menjelaskan bahwa sabat adalah istirahat ilahi bagi keletihan manusia (Divine rest for human restlessness). Yesus memberikan peristirahatan yang abadi seperti yang didemonstrasikan melalui pengalaman murid-murid bersama Dia di tengah laut Galilea ketika Ia meredahkan angin rebut (Mat 8:23-27). Yesus mengatakan, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh 6:54). Dengan kata lain, Yesus memberikan peristirahatan abadi bagi orang-orang yang menerima perjamuan kudus.

Jadi, pertanyaan kita adalah apakah hari Sabat (istirahat) masih relevan bagi manusia modern? Apakah Sabat masih berperan penting dalam pertumbuhan iman kristiani? Mari kita memperhatikan Ibrani 4:8-11…
Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga (Ibr 4:8-11)

Peristirahatan yang Tuhan berikan mengarahkan kita dari relaksasi egosentris kepada pelayanan heterosentris. Kita merayakan penciptaan, kebaikan, keselamatan, penebusan, restorasi, pembaharuan yang TUHAN karuniakan bagi kita. Allah mengundang kita untuk masuk ke dalam perhentian itu setelah kita menyelesaikan tugas-tugas kita. Dalam kehidupan ibadah kita, kita datang kepada TUHAN untuk memuliakan TUHAN karena atas pertolongan TUHAN kita telah menyelesaikan tugas-tugas dalam seminggu, kita disegarkan, diperbaharui, diberkati dan diutus untuk melanjutkan misi kita untuk seminggu berikutnya. Dalam hal ini, sabat bagaikan sebuah progresif-cyclical menuju “perhentian abadi” setelah kita menggenapi tugas dan panggilan kita. Kiranya Allah menolong kita!

"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." (Mark 2:27-28)


Batam, 30 Juni 2014

Teen Camp 2014


Teen Camp 2014 received much enthusiasm from both teenagers and their parents as it focused on having an overview of the future as well as preparing teenagers for future professions. Reverend Willy suggested "Flashing into the Future" as the theme for this year's camp. Ms Marina Chan and Ms Linayanti had given much help in taking care of the teens during the camp at Bintan Sayang Resort. Yohanes had spent much time and effort in producing the handbook for the camp. Sisilia had prepared the menus for the day with much headache :) and received help from Seanne. Mr. Satrio's paprika chicken and Ms Ale's brownies were amazingly delicious. Ms. Mettawaty had provided so much help in booking the resorts, meals as well as transportation. Ellen and Seanne commenced the Camp with their happy, smiley and funny style of leading fellowship. Zowy's smiley, encouraging and serene personality sparked the atmosphere of the camp. Ina's wonderful voice filled the room with awe and splendor. Howard and Fernando's comical character added much laughter and joy during the camp. Amelia was a very responsible treasurer so basically "no Amelia, no camp" :) Hendry's creativity, helpfulness and "bodyguard-ness" served the group well. Ms. Linayanti, Kaila, Verdian and Willy provided a brief sharing on their studies and professions which helped broaden our perspectives. Well, what a long name list if I have to mention everyone in this writing!

One interesting yet so-true response is when the boys played soccer "bola kaki" without wearing shoes (barefoot). When asked why, they said, "Kan namanya bola kaki bukan bola sepatu". Good point! Besides learning, sharing, games, the teens also swam, canoed, cycled etc. Some of them also enjoyed watching romantic shooting stars..... What an experiencing! Some enjoyed walking by the sea whereas I enjoyed the sunset and the sunrise as well as birds that I have never seen before. Interestingly, Willy's group became the earliest sleeping team during the second day of the camp. Some members sacrificed themselves by sleeping on small sofa such as Zowy whilst others slept outside such as Joel Hamenda. What a sacrifice! Amelia also tried to sleep outside but Hana called her in. Hana is a quiet and very caring person. She is a very good friend to be.

I do hope they had a wonderful learning experience. May the Camp inspire them to prepare themselves for the future. May they live according to God's calling within His Kingdom! All the best for you all! 


Tuesday, 4 February 2014

MENUJU 2014




Pada setiap pergantian tahun, kita berharap kita dapat meninggalkan yang lama dan memulai yang baru. Pergantian tahun memberikan kita pengharapan untuk meninggalkan kepedihan di tahun yang lama dan memasuki pembaharuan di tahun yang baru. Sepertinya di dalam diri kita sudah tertanam “chip” yang mengharapkan “pembaharuan, pemulihan dan perbaikan”. Seolah-olah chip di dalam diri kita memanggil kita untuk mengharapkan yang “lebih baik”. Kita pun tidak memikirkan siapa yang telah menanamkan “chip” tersebut di dalam diri kita. Yang penting kita selalu mengharapkan yang lebih baik.

Dalam film Mr. Morgan’s Last Love (2012), mengisahkan seorang professor filsafat emeritus yang tidak sanggup menjalani hidup setelah istrinya meninggal. Ia bahkan mencoba untuk membunuh diri tetapi tidak berhasil. Dan ia mengatakan secara medis ia telah kebanyakan mengkonsumsi obat tidur kemudian ia menambahkan sebenarnya tergantung sudut pandang kita. Sebab bagi dirinya, ia terlalu sedikit mengkonsumi obat tidur sehingga ia tidak berhasil membunuh diri.

Ia menempatkan seluruh orientasi hidupnya pada istrinya. Bagi dia bagian lain dalam hidup ini hanyalah “gangguan”. Jadi ketika istrinya meninggal dunia, hidupnya bagaikan gedung yang runtuh. Dia kehilangan motivasi untuk hidup dan dia tidak mampu menemukan kembali hidupnya yang telah hilang bersama kepergian istrinya. Dengan kata lain, kehidupannya mati (berakhir) bersama dengan kematian istrinya. Di satu sisi, kita mungkin diperlihatkan betapa dalamnya cinta Mr. Morgan terhadap istrinya. Tetapi di sisi lain kita juga diperhadapkan seorang yang kehilangan tujuan dan makna hidup karena ia membangun tujuan dan makna hidup pada yang sementara (contemporary). Dia menggambarkan hidup ini dipenuhi dengan kegelapan sehingga dibutuhkan retakkan dalam hidup ini agar cahaya dapat menembus ke dalam hidup yang gelap. Benar bahwa hidup ini penuh dengan kekelaman dan benar juga bahwa hidup ini terdapat banyak retakan. Tetapi kita tidak membutuhkan retakan sebab kehidupan kita memang sudah penuh dengan retakan. Cahaya TUHAN bagaikan “silver lining” yang menembus retakan-retakan dalam hidup kita.

Mr. Morgan kemudian bertemu dengan seorang gadis, seorang guru tari yang bernama Pauline. Ia mengatakan bahwa Pauline merupakan retakan bagi hidupnya. Dua orang ini sama-sama adalah orang yang kehilangan. Mr. Morgan kehilangan istrinya sedangkan Pauline kehilangan ayahnya. Persoalannya adalah Mr. Morgan tidak mengetahui apakah ia menjadikan Pauline sebagai pengganti istrinya sedangkan Pauline juga tidak jelas apakah Mr. Morgan dijadikan sebagai pengganti ayahnya. Singkat cerita, akhirnya Mr. Morgan kembali mengakhiri hidupnya sebab hidupnya sudah berakhir bersama dengan kematian istrinya.

Kita butuh menemukan titik temu antara setiap bagian dalam hidup ini dengan keabadian. Setiap pengalaman di dalam hidup kita bukan merupakan pengalaman-pengalaman yang tidak berarti. Setiap peristiwa dalam hidup kita, sekecil apa pun itu mengandung makna. Kehidupan kita selalu terhubung dengan orang lain, perkataan kita, sikap kita, perbuatan kita berdampak pada orang lain dan alam. Misi Allah adalah untuk merestorasi ciptaan-Nya dan hidup kita dapat terhubung dengan keabadian dengan ikut serta di dalam misi Allah di dalam memulihkan ciptaaan-Nya. Penderitaan, kepahitan, kehilangan, kepedihan merupakan pemulihan. Mari kita terlebih menyimak beberapa ayat di bawah ini:

Rut 1:21  Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku."
Rut 1:22  Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

Naomi memutuskan untuk meninggalkan Moab (penderitaannya) dan kembali ke Betlehem (pengharapan baru). Kepahitan Naomi (manis) begitu mendalam sehingga ia memasuki Betlehem dengan kepedihan (Mara). Kepahitan Naomi sangat mendalam sebab suaminya dan kedua putranya meninggal di Moab. Naomi memasuki Betlehem di saat permulaan musim menuai. Secerca cahaya menyinari kehidupan Naomi. Ada silver lining yang menyinari kehidupan Naomi yang kelam. Naomi tenggelam di dalam kepedihan dan penderitaannya yang pahit. Kehadiran Naomi dalam kehidupan Rut merupakan pemulihan bagi dirinya sehingga akhirnya ia juga mengenal dan beriman kepada Yahweh. Dan kini sebaliknya, kehadiran Rut dalam masa penderitaan Naomi merupakan pemulihan bagi Naomi di saat yang penuh penderitaan.

Sebagai seorang Moab, Betlehem merupakan masa depan yang berat bagi dirinya. Ia bakal dibenci, diremehkan dan ditolak oleh masyarakat Betlehem. Hanya dengan memikirkan kemungkinan kebencian sosial pada dirinya saja sudah cukup berat bagi dirinya. Akankah dia dianggap sebagai “pembawa sial”? Akankah dia akan disalahkan untuk kematian kedua anak Naomi? Seringkali, memikirkan masa depan membuat kita merasa gentar. Memikirkan masa depan bisa sangat menakuti kita. Seringkali kita mengalami dikotomi di dalam memasuki tahun yang baru. Kita berharap tahun yang baru merupakan tahun yang lebih baik tetapi kita juga takut karena tahun yang baru juga penuh dengan ketidakpastian.

Naomi berpartisipasi di dalam merestorasi kehidupan Rut di Moab. Rut berpartisipasi di dalam memulihkan hidup Naomi dalam perjalanan menuju Betlehem. Dan Boas berpartisipasi di dalam memulihkan Betlehem dengan menciptakan sebuah budaya yang aman dan penuh damai sejahtera. Ketiga orang ini sama-sama terlibat di dalam merestorasi ciptaan Allah. Tanpa mereka sadari mereka memasuki Misi Allah.

Saya yakin dampak iman Naomi dalam diri Rut sangat besar sehingga ia memutuskan untuk mengikuti TUHAN Naomi. Dan saya juga yakin dampak keputusan Rut untuk kembali ke Betlehem bersama Naomi sangat besar dalam kehidupan Naomi. Iman, sikap dan tindakan Rut juga memulihkan image buruk tentang orang Moab. Boas dan para karyawannya memiliki persepsi yang baik tentang Rut. Bahkan kemudian, image orang-orang Betlehem terhadap Rut juga positif karena ia dikenal sebagai menantu yang mengasihi mertuanya. Dampak Boas dalam membangun budaya shalom di ladangnya juga luar biasa. Nah, orang-orang yang ikut serta dalam Misi Allah ini tanpa mereka sadari Allah melibatkan mereka di dalam Misi-Nya yang besar yakni menjadi nenek moyang Sang Mesias.

Mungkin kita seperti Naomi yang meninggalkan “Moab” yakni tahun 2013 bagi kita. Dan kita memasuki “Betlehem”, tahun 2014. Kita berharap “Betlehem” yang berarti “kota roti” yakni tahun 2014 kita merupakan tahun yang lebih baik bagi kita. Apakah kita bersedia ikut serta di dalam Misi Allah yakni memulihkan ciptaan-Nya?

Jakarta Selatan, 4 Februari 2014

Friday, 3 January 2014

About Time (2013)




About Time (2013) – Time Travel is probably the wish of many. How people wish to travel to the future to see what they future might be like and to travel to the past to fix their lives. Wrong decisions, stupid responses and regrets are so common in life. It will be very nice if we can return to the last winter to remake our decision. After learning that he can travel to his past, Tim makes lots of travel to remake his decisions. In the end, Tim realizes that traveling through time to fix things will also make him lose many things in life. The point of life is not to keep on returning to the past to fix lives but to cherish every moment and to look at the bright side in every moment of life. Well, it is true that we err, we also do have many unhappy moments but above all, life can be meaningful. To be honest, we have lost much of our precious and enriching time. We can never gain back the precious moment we have lost. We will lose much more time if we do not live our presence fully. You can look at the barista and smile at the person or you may also miss that opportunity to create joy. You can do your work whilst enjoying a wonderful cup of coffee yet also smile at a kid who sits next to you cheerfully. You can give a hand to someone who has difficulty to open the door and let her experience that the world is not all bad after all. Small thoughts and small acts at time makes much differences. If you live life to the fullness despite its imperfectness, you don’t have to travel to the past.

3 Januari 2014, Jakarta Selatan











Kekuatan Kelemahlembutan - Bilangan 12