EMPEROR (2012) mengisahkan peristiwa
setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Komandan Tinggi (Supreme Commander)
Jenderal Douglas MacArthur (Tommy Lee Jones) menugaskan Brigadir Jenderal Bonner
Fellers (Matthew Fox) untuk menginvestigasi keterlibatan kaisar Jepang dalam Perang
Dunia II. Bagaimana nasib Kaisar Jepang? Apakah Kaisar Hirohito terlibat? Apakah
beliau akan diadili dan dihukum gantung? Dan apakah kaisar Jepang mengumumkan
penyerahan mereka? Bagaimana pandangan masyarakat Jepang mengenai kaisar mereka?
Thursday, 22 August 2013
Monday, 22 July 2013
MENGAPA SIBUK?
Kini kesibukan sudah
menjadi karakteristik kehidupan metropolis. Berjalan dengan cepat, berbicara
dengan cepat dan makan dengan cepat merupakan upaya untuk menghemat waktu. Berada
di dalam gerbong MRT yang padat, terjebak kemacetan dan terjebak kesibukan
sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak heran apabila seseorang
ditanya apa kabarnya dia menjawab “Saya sibuk sekali”. Dan respondernya menjawab,
“wah baik sekali.” Kesibukan sudah menjadi simbol dan status keberhasilan.
Mungkin sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah seseorang berespon,
“waduh, kasihan sekali kamu sampai sibuk sekali”. Hal ini menunjukkan bahwa
manusia kagum pada orang yang sibuk.
Marta merupakan
gambaran orang yang penuh inisiatif, perfeksionis, gesit dan giat. Sedangkan
Maria merupakan gambaran seorang pemikir, perancang, visioner dan penuh
inspirasi. Baik Marta dan Maria merupakan karakter yang penting dan sangat
dibutuhkan baik di organisasi, perusahaan maupun gereja. Kita selalu
membutuhkan pemikir, perencana strategi dan pengembang. Dan kita juga
membutuhkan ekskusioner atau pelaksana. Sebenarnya perpaduan Maria (being) dan Marta (doing) merupakan kombinasi yang penting di dalam kehidupan
spiritualitas seseorang dan being harus
menjadi fondasi doing.
Marta menerima (NIV: open her house) Yesus di rumahnya
dan melayani Yesus sesuai dengan keramahtamahan Timur Tengah. Apa yang Marta
lakukan sesuai dengan aturan umum, dia melakukan apa yang dilakukan setiap
orang di dalam budayanya. Dia menjalani apa yang disebut dengan “kebiasaan”. Umumnya,
orang bertanya, “Biasanya seperti bagaimana?” “Biasanya atau kebiasaan”
dijadikan parameter untuk mengukur apakah sesuatu pantas untuk dilakukan. Menurut
Michael Foley pengulangan dan kebiasaan membunuh persepsi dan mengurangi
pengalaman (Foley 2010, 130). Kebiasaan dan pengulangan akan membunuh
inspirasi. Sebenarnya dengan menginternalisir kebenaran seseorang akan keluar
dari jalur “kebiasaan” oleh karena kebenaran tidak bisa dikurung dengan ”kebiasaan”.
Mungkin Marta adalah
seorang yang perfeksionis dan seorang yang bekerja dengan cepat. Anggap saja
dia menyediakan yogurt, roti bundar dan daging sapi panggang. Yang jelas, Marta
melayani Yesus hingga “sibuk sekali” (ayat 40). Persoalannya adalah “sibuk”
seringkali tidak sebatas menyelesaikan tugas yang banyak. Sibuk selalu disertai
dengan beban jiwa, beban pikiran, perasaan lelah, kesal, marah dan bingung. Penting
bagi kita untuk bertanya, “Mengapa saya sibuk?” Apakah kesibukan saya bisa
menjadi berarti? Apakah saya bisa sibuk tanpa merasa sibuk?
Marta melayani Yesus
dengan mengerjakan banyak hal. Dia marah karena Maria tidak menolong dia.
Amarah tersebut terpendam dan mungkin semakin berat di saat dia memotong roti,
menuang yogurt dan di saat menyajikan makanan. Karena tidak dapat menahan
luapan “zat kimia” di dalam dirinya maka meledaklah “tenaga nuklir” di dalam
hatinya. Ia berteriak, “Tuhan,
tidakkah engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”
Amarahnya tidak hanya tertuju pada Maria tetapi juga terhadap TUHAN. Tidak
jarang kita menemukan orang Kristen yang marah pada TUHAN karena terlalu sibuk
menjadi panitia penyambut, panitia natal maupun melayani di berbagai bidang pelayanan.
Marta kemudian memberikan perintah kepada Yesus, tamu yang ia jamu di rumahnya,
“Suruhlah dia membantu aku!”. Di satu sisi, Marta sangat ramah pada tamunya tetapi di sisi lain Marta bersikap kasar (baca: tidak sopan) pada tamunya. Sedemikian besar luapan emosi di dalam
diri Marta. Persoalan Marta merupakan gambaran “jiwa yang sibuk”, “jiwa yang
tidak tenang” atau “jiwa yang bertahan dan bersembunyi di balik banyaknya
aktivitas”. Persoalan Marta juga
merupakan gambaran gereja yang “sangat sibuk sekali”. Gereja yang menyusahkan
diri dengan banyaknya aktivitas. Gereja yang tidak mampu menentukan prioritas.
Gereja yang mengaburkan core business
dan prioritas.
Kesibukan telah menjadi
karakterikstik manusia teknologi oleh karena manusia semakin efektif. Foley mengkritik manusia modern mengatakan
bahwa manusia tidak merasa hidup secara penuh apabila tidak mengerjakan 3 hal dalam
waktu yang bersamaan (Foley 2010, 95). Analisa Foley sangat tepat sebab dalam
kehidupan yang terkoneksi (hyperlink) manusia diharuskan untuk
“ber-multi-tasking”. Apabila kita mampu memprioritaskan maka kita dapat berada
di dalam kondisi “sibuk tanpa hati yang sibuk” atau lebih tepatnya
“mengerjakan banyak hal tanpa menjadi sibuk”.
Yesus menegur Marta, “Marta,
Marta”. “Marta… Marta..” merupakan ekspresi yang mengasihani. Yesus menunjukkan bahwa Marta “kuatir dan
menyusahkan diri dengan banyak perkara”.
Jadi kondisi jiwa Martalah yang sebenarnya menjadi persoalan di sini.
Bukan keramahtamahannya juga bukan pelayanannya melainkan “kekuatiran” dan
tindakan “menyusahkan diri”. Pepatah
bahasa Inggris mengatakan, “Don’t just sit there, do something! Adakalanya
pepatah ini perlu dibalik menjadi, “Don’t just do something, sit there!”
Maria merupakan
gambaran, “Don’t just do something, sit there!” Maria “memilih bagian yang
terbaik”. Maria tidak menyusahkan dirinya. Ia memahami prinsip “first things first”. Dia bisa “memprioritaskan”. Tidak ada yang bisa merampas apa yang Maria
prioritaskan. Jiwanya memperoleh ketenangan. Sedangkan Marta telah dirampas
oleh kekuatiran dan penyusahan diri. Memilih yang terbaik bukan tidak disertai
konsekuensi yang buruk. Maria dicap sebagai, “pemalas, dingin dan tidak
peduli”. Pada saat memberikan minyak narwastu yang mahal kepada Yesus, Maria
dicap sebagai “narsis, mencari perhatian, boros dan tidak peduli pada orang
miskin”. Di saat memprioritaskan, seseorang bisa disalahpahami. Yesus sendiri
ditegur oleh Petrus saat Ia menarik diri ketika orang-orang sakit
berbondong-bondong mendatangi Dia untuk memohon kesembuhan. Tetapi Yesus pergi
begitu saja. Bukankah perbuatan Yesus akan menimbulkan amarah pada orang-orang
yang sudah datang mencari-Nya? Yesus
akan dicap sebagai guru yang tidak memiliki kasih, tidak peduli pada yang lemah
dan tidak bertanggungjawab. Karena selalu ada orang yang bukan Maria juga bukan
Marta. Siapakah mereka? Mereka adalah para spectator (penonton) dan komentator.
Mereka adalah para ahli di dalam mengemukakan pendapat tetapi menolak untuk
melayani sebagai perancang maupun pelaksana.
Mungkin kita perlu
memikirkan bagaimana memadukan keramahtamahan dengan pekerjaan kita.
Mengerjakan dengan hospitalitas akan menambah sukacita. Memprioritaskan dan
memilih yang terbaik semestinya menjadi
landasan kita di dalam bekerja. Kiranya kita bisa bekerja tanpa merasa sibuk.
Kiranya kita memandang pekerjaan kita sebagai karya dan bukan beban. Pilihlah
yang terbaik!
"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!
Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"
(Mazmur 46:11)
Referensi
Foley, Michael. 2010. The Age of Absurdity: Why Modern Life
Makes It Hard to be Happy. UK: CBS
Company.
Batam, 22 Juli 2013
Johan Newton Crystal
Thursday, 18 July 2013
LOGIC OF THE SPIRIT
James
Loder presents his Logic of the Spirit by
intermarrying psychology and theology in order to redefine “the meaning and
purpose of human development” (p. ix). Loder’s writing is an exploration on the
spiritual dimension of human development by looking at the very purpose of life
– the meaning of life. Loder attempts to answer the perennial questions of
human beings – “What is a life time?” and “Why do I live it?” Quoting Camus’s
surly and ironic question, “Does life deserve to be lived?” Loder believes this
is “an outcry of the human spirit” meant to call someone or someplace beyond
the self. Also quoting Miguel de Unamuno, the great philosopher who says, “what
distinguishes human beings from other creatures is that human beings have a
unique practice of burying their dead” (p. 4). Loder is trying to demonstrate
the uniqueness of human beings should make us aware or lead us to the study of
the human spirit.
Loder
offers two approaches to look at the human spirit. First approach is what he
calls “from below” meaning from the standpoint of science and experience and
the second approach “from above”, viewing from the standpoint of God through
His self-revelation in Jesus Christ as well as His relation to His creation.
In
his first view, Loder delineates that the human spirit is expressed or
manifested in arts, music, literature, sculpture, painting, drama, dance and
the like explains “the expansiveness, transcendence, inclusiveness and
inspiration” visible in human existence. Loder attempts to provide two
vignettes to explain his first approach (from below). These two vignettes are
Wolfhart Pannenberg’s “exocentricity” (the human spirit) and Wilder Penfield
“strange loops in the brain” (the transcendence of the “I”). Loder parallels
the universe with human nature which he calls “the two infinities” – “the big
infinity” and “the little infinity” (p.7). In his parallelization, Loder
presents four points of relevant connectivity, first “the emergence of order in
the universe and of congruent orders of mind in human development”, second,
“the analogical connection between entropy and death” third, “transformation
and new order” and last, “relationality as ontologically prior to rationality” (p.7-8).
All these point toward the Creator-God.
Let us turn to
Loder’s second view, the view from above. Loder explains that the Author God
enters His own Creation by revealing Himself in Jesus Christ as well as
continuing to work in the Creator Spirit in order to bring ultimate harmony
between the created and contigent order with the divine order. As human spirit
is separated from its ultimate ground in the Spirit of God therefore human
spirit is constantly in the state of “bewilderment, blundering briliance”
crying for wisdom to an “unknown God” (p.10). Only the Creator-Spirit is
capable of freeing the human spirit from “self-inflation, self-doubt,
self-absorption and self-destruction” (p.10).
These two views
are complimentary and it is asymmetry as well. Loder proposes, the view from
above should serve as the priority or basis for the bipolar relationship of
these two views. The Creator Spirit is working to “transform the negation, the
nothingness, the frightening abyss that pervades and haunts human development
as a whole” (p.14). The dark side, the fatalism, the nihilism, the emptiness
and meaninglessness of human spirit needs total transformation solely provided
by the Creator Spirit.
Distinguishing from traditional approach
of human development that tend to “focus on defining and mapping stages”, Loder
offers to “focus on the dynamics of development within and beyond the context
of stages” (p.18). Loder prefers to concentrate on “how” the environment and
persons interact resulting the personality of a human person (p.20). Loder
thinks that psychological approach is too preoccupied with adaptation which may
prevent a better understanding on the more profound issues of human existence
(pp.26-27). And hence, he suggests incorporating theological anthropological
perspective into the study of human development.
Loder sets out by laying out a succinct
summary of four fundamental theological arguments by Wolfhart Pannenberg, Karl
Barth, T. F. Torrance and George Hendry. Loder’s argument bases on many aspects
of Pannenberg’s theology without rejecting Barth’s contribution. He grounds his
argument on “what God means by human and what God means by God” (p.30). What
distinguishes Loder’s approach to Pannenberg’s approach is that Pannenberg
takes the approach of methods supplies material whilst Loder’s prefers the
material supplies method.
Loder vividly states his theological
stance as follows:
- He takes the method and material from below and above at the same time
- Science may inform theology as subscience and theology serves as the basis to understand and even to transform the understanding of science.
- The expansive self-transcending power of human spirit drives toward the transformation of every obstacle in human development.
- Differentiation of the Creator Spirit with human spirit.
- The analogia spiritus – the analogy between the human spirit (creativity) and the Holy Spirit (transformation).
- The new creation in Christ (I not I but Christ or I not I but God).
Loder’s methology is based on three
crucial points:
- Human science serves as subscience to the science of theology meaning its rejection of theology must undergo transformation.
- The bipolar unity of science and theology must be based on the person of Christ who is both fully divine and fully human as the living reality.
- The essential character of this bipolar relational unity is what Karl Barth describes as “Indissoluble differentiation”, “inseparable unity” and “indestructible order”.
Loder uses his counseling experience for
a girl named Hellen to demonstrates the interaction between human spirit and
Creator spirit. Using neurological terms, Loder defines the two into two
systems. The first system is the ergotropic system (ET) which “combines the
left hemisphere, which is analytical, linguistic, and linear, with the
sympathetic nervous system and the central nervous system”. The second system
is trophotropic (TT), a combination of “the right hemisphere which is holistic,
analogical, and spatial with the parasympathetic and central nervous systems”
(p.57).
This practice of spirituality will
consequently deepen the sense of a dialectical identity in which the Divine
Presence becomes the fundamental basis for one’s identity. “I-not I-but Christ
becomes the way one thinks of oneself” (p.60).
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
“Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri ...
-
Reading Kazoh Kitamori’s “Theology of the pain of God” may raise a number of striking questions such as “Can God feel pain? How can...


