Sunday, 3 February 2013

AKU MENGENAL ENGKAU!



Yesus hadir di rumah ibadat di Nazaret dan membaca dari kitab Yesaya 61:1-2. Orang-orang heran akan kata-kata indah yang ia ucapkan kemudian ada yang bertanya, “Bukankah ini anak Yusuf? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Bukankah saudara-saudaranya yang perempuan ada bersama kita? (baca Markus 6.3). Mereka tidak mampu mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar sebab mereka dikendalikan oleh “pra-pengetahuan” mereka. Mereka mengenal Yesus sebagai anak Yusuf, “Yesus si tukang kayu”. Mereka mengenal Yesus yang dibesarkan oleh Maria, yang membuat lemari, duduk makan bersama saudara-sauadaranya, bermain dengan mainan kayu, ingusan, belajar merangkak dan belajar berjalan.

Mereka tidak mampu mengubah pengenalan mereka terhadap Yesus, mereka bahkan berpikir dalam hati mereka, “Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu” (Luk 4.23). Mereka menganggap Yesus gila - perlu disembuhkan. Sulit bagi seseorang untuk mengubah pra-pengetahuan dirinya terhadap seseorang. Karena di dalam pra-pengetahuan kita memberikan “label” pada seseorang, sekali ia dilabel sulit untuk mengubah label yang telah kita berikan. Suatu kali, ketika saya berada di dalam angkot ada seorang ibu bersama dengan kedua anaknya. Yang besar, laki-laki, sudah SMA dan yang kecil perempuan, SMP. Ibunya telah mencarikan pekerjaan buat putranya yang akan segera tamat SMA tetapi anaknya berkata tidak cocok kalau ia harus bekerja di sana. Mamanya langsung marah “Kamu anak kecil, tidak mengerti soal orang dewasa. Kamu kalau tidak mengerti jangan sembarangan bicara. Orang Chinese itu sangat pantang, tahu?” tegas mamanya. Karena malu dimaki-maki di dalam angkot, anaknya berkata, “Sudahlah… sudahlah”. Pada waktu anaknya turun dari angkot, ibunya berpesan, “你要乖乖“ (baca ni yao guai guai) artiya “jangan nakal”. Tidak lama kemudian giliran putrinya turun dan mamanya mengatakan hal serupa. Sebentar kemudian, ibu ini menerima telepon dari putranya menyampaikan bahwa dia sudah berada di dalam kelas. Ibunya kembali berkata, “乖乖”. Sebentar setelah putranya telepon, putrinya menelpon untuk melaporkan hal serupa dan ibu ini kembali mengatakan, “乖乖”. Padahal jarak antara tempat menurunkan penumpang dengan ruang kelasnya paling hanya 200 meter (atau bahkan kurang). Ibu ini masih memperlakukan anak mereka yang besar seolah-olah mereka masih TK.

Pengetahuan lama kita berpotensi untuk mengalami konflik dengan pengetahuan baru kita. Ketika konflik pengetahuan terjadi maka kita dalam posisi meng-update pengetahuan atau tetap berpegang pada pengetahuan lama. Pra-pengetahuan orang-orang Nazaret menghalangi mereka untuk mengenal Yesus sebagai Mesias. Pengetahuan mereka tentang Yesus si tukang kayu telah terukir dalam benak mereka. Mereka mengenal seseorang hanya dari hal-hal yang kelihatan (eksternal) dan tidak mengenal jiwa seseorang (internal). Oleh sebab itu tidak heran, apabila kita mendengar komentar orangtua tentang anak-anak mereka. “Anak saya suka ini, suka itu, tidak suka ini dan tidak suka itu, anak saya begini” Kemungkinan besar apa yang diungkapkan oleh sang orangtua tidak mencerminkan jiwa anaknya. Banyak anak-anak yang mengeluh, “Orangtuaku tidak mengenalku, mereka selalu tidak mempercayaiku. Siapakah yang dapat memahamiku?”

Mereka merasa sudah sangat kenal Yesus, justru mereka tidak mengenal Yesus. Oleh sebab itu Yesus berkata, “Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Luk 4.24). Orang-orang Nazaret berpikir, “TIDAK MUNGKIN!” Saya melihat dia bertumbuh besar dari keluarga sederhana, bahkan dia bukan keturunan imam. Tidak mungkin Dia adalah Mesias, tidak mungkin Dia ini TUHAN.” Mereka tidak dapat menerima TUHAN yang bersolidaritas, TUHAN yang hidup sederhana di tengah-tengah manusia. Tidak logis, tidak sesuai birokrasi dan bahkan membahayakan status quo agama.

Pada masa saya masih di bangku SD, saya tidak suka belajar, setiap pulang sekolah saya akan bermain sepeda, main kelereng, main layangan, main di dalam gua-gua, di tengah pepohonan dan juga di dalam selokan besar untuk melihat ikan-ikan kecil. Komentar orangtua saya tentang saya adalah, “setiap pulang sekolah, yang terlihat hanya tas sekolah saya tetapi orangnya ntah kemana”. Jangan harap bisa mendapatkan juara kelas, mau masuk sepuluh besar saja sulit. Karena saya tidak pernah memperhatikan penjelasan guru. Ketika guru mengajar, saya bermain atau memikirkan hal yang lain. Kemudian sewaktu di SMK saya memutuskan untuk mengubah, saya mempersiapkan diri dengan membaca satu bab lebih cepat sebelum diajarkan oleh guru. Saya memilih untuk mendengarkan penjelasan guru dengan penuh konsentrasi. Setiap kali ada diskusi atau perdebatan kelompok saya memilih untuk menguasai materi yang akan dibahas. Dari nilai rata-rata saya yang selalu parah tiba-tiba bisa menjadi tiga besar di kelas. Teman saya sejak kelas 1 SD bahkan berkomentar, “kok, kamu tiba-tiba jadi pintar?” Saya yakin dalam benaknya ia pasti berpikir, “MANA MUNGKIN!”. Benar bahwa sangat sulit bagi seseorang untuk bisa mengubah perspektifnya tentang seseorang. Hal ini karena kita memberikan “label” atau “cap” pada seseorang dan kita tidak mampu mengubah sudut pandang kita terhadap seseorang. Sehingga tidak heran apabila tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.

Pepatah Yahudi mengatakan seseorang dapat dikenal melalui koso (cup), kiso (pocket) dan ka’aso (temper) (Bonder, 2001, 1), artinya seseorang dapat dikenal melalui selera makannya, pola penggunaan uangnya dan temperamen atau amarahnya. Kita juga bisa mengenal seseorang dari pakaiannya, cara bicaranya, sikapnya, pola pikirnya tetapi tetap saja kita tidak mengenal dengan baik. Manusia itu seperti sebuah puzzle. Kita hanya mengenal sebagian dari diri seseorang. Kita tidak mampu mengenal seseorang secara utuh. Hati kita yang sombong mengatakan, “aku sudah mengenal orang itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Aku kenal dia sampai ke tulang-tulangnya”. Apakah kita sudah benar-benar mengenal seseorang? BELUM!. Kita sering mendengar ungkapan, “orang lain tidak mengetahui penderitaanku” 没有人不懂我的痛苦. Oleh sebab itu kita sering mendengarkan ungkapan, “karena tidak mengenal maka menikah dan karena terlalu kenal kemudian bercerai”.

Hanya TUHAN yang dapat mengenal kita secara utuh. Ia bahkan sudah mengenal kita sejak kita di  dalam rahim ibu kita (baca Yer 1.5). TUHAN mengenal hatimu yang sesak, tekanan dalam batinmu, keletihan hatimu dan segala pergumulan dirimu. Yesus mengenal orang-orang di Nazaret, Yesus mengenal hati mereka sehingga Ia berkata “Engkau membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengenal hatimu” (Lukas 16.15). Orang-orang Nazaret ini menuntut pembuktian, mereka mendesak Yesus untuk melakukan berbagai mujizat yang Ia lakukan di Kapernaum. Tetapi Yesus menolak, Yesus mengetahui pikiran jahat mereka. Yesus mengenal hati mereka yang keras dan tidak percaya. Mereka bahkan ingin membunuh Yesus tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka. Apabila seseorang sudah menutup hatinya maka sekalipun ada seorang yang bangkit dari antara orang mati yang berbicara kepada mereka, tetap saja mereka tidak mempercayai (baca Luk 16.31).

Yesus ditolak di kampung halaman-Nya sendiri dan tidak akan heran apabila Yesus ditolak oleh gereja-Nya Sendiri. Gereja mengklaim sedang menjalani misi Kristus tetapi tidak melihat Kristus di dalam diri orang-orang yang sengsara. Gereja tidak membebaskan orang-orang sengsara tetapi malah menambahkan beban di pundak orang-orang yang sengsara. Gereja dijadikan sebagai tempat “kompetisi ego”. Anthony De Mello pernah bercerita bahwa seseorang datang kepada pastur dan berkata, “Bapa, saya harapkan Anda mengadakan kebaktian untuk anjing saya”. Pastur menjawab, “ Kami tidak mengadakan kebaktian binatang peliharaan di sini. Bagaimana kalau Anda tanyakan ke gereja denominasi lain yang ada di sekitar sini, mungkin mereka akan mengadakan kebaktian buat binatang peliharaan.” Ketika orang itu hendak pergi ia berkata, “Sayang sekali pastur, padahal saya ingin mempersembahkan 1 juta dollar untuk kebaktian tersebut”. Dan pastur berkata, “Eitss tunggu dulu, Anda tidak pernah memberitahu saya bahwa anjingmu Katolik.” (Mello, 1990, 25). 

Apabila suatu hari Yesus hadir di gereja, gereja tidak akan mengenal-Nya. Gereja sudah semakin komersial. Gereja menjadikan dirinya korporasi dan saling bersaing. Gereja menggunakan “label” misi Kristus untuk mengerjakan proyek-proyek pribadi. Gereja merancang dan mencopy-paste program untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang semakin konsumtif. Malangnya para konsumen ini semakin tidak rindu mempelajari kebenaran firman maupun hidup dalam persekutuan Kristiani dan berdiakonia tetapi hanya ingin dihibur. Maka gereja demi mempertahankan jumlah kehadiran pun juga harus menjadikan dirinya sebagai “entertaining church”. Apabila Yesus hadir di gereja masa kini, mungkin Yesus akan ditolak dan diusir. Sehingga, seorang nabi tidak hanya tidak dihargai di tempat asalnya tetapi juga dalam gerejanya”. 

Kiranya Gereja tidak lupa bahwa Roh Tuhan ada pada Gereja. Roh Tuhan telah mengurapi Gereja. Sampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin (orang kaya juga miskin, miskin perhatian, miskin kasih sayang..), beritakan pembebasan kepada orang-orang tawanan (ditawan berbagai keinginan, ditawan sakit hati, ditawan penyesalan, ditawan kepahitan…), penglihatan bagi orang-orang buta (tidak melihat kebenaran…), membebaskan orang-orang yang tertindas (dimanipulasi, dieksploitasi, dijahatin…) dan memberitahukan tahun rahmat kedatangan Tuhan (pertolongan, pengharapan, anugerah, kasih karunia…) (baca Luk 4.18-19).

Monday, 28 January 2013

FLIGHT 2012





Kapten William Whitaker (Denzel Washington) adalah seorang alkoholik, juga pecandu narkoba. Dia selalu mengkonsumsi kokain untuk tetap sadar. Tidak lama setelah lepas landas pesawat goncang keras akibat cuaca buruk. Kapten Whitaker menggunakan caranya yang ekstrim yakni dengan kecepatan tinggi melewati awan badai. Setelah itu, dia sempat meneguk alkohol dan tertidur di tengah penerbangan.  Pada saat tertidur karena kelelahan, tiba-tiba mekanisme steering rusak sehingga pesawat jatuh dengan kecepatan tinggi dalam posisi hidung pesawat menghadap ke bawah. Whip menenangkan ko-pilot yang panik dan dengan tetap tenang berjuang untuk mendaratkan pesawat dengan selamat. Sekali lagi ia menggunakan cara ekstrimnya yakni membalikan pesawat dan terbang dalam kondisi terbalik sebelum pendaratan emergensi di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa pesawat memang dalam kondisi sudah harus diperbaiki dengan kata lain permasahan ada pada masalah pesawat dan bukan human error (baca kesalahan manusia). Whip dapat dikenal sebagai pahlawan seumur hidupnya tetapi Whip tidak mau terus hidup dalam kebohongan. Dia mengaku bahwa dirinya dalam kondisi mabuk pada hari itu dan dia jugalah yang meneguk habis dua botol vodka yang ditemui dalam tong sampah. Padahal dia dapat menuduh Katerina (pramugari yang sudah meninggal) yang menghabisi dua botol vodka sebab hasil penyelidikan menemukan kandungan alkohol dalam darah Katerina (Nadine Velazquez). Whip memilih untuk menghadapi realita dan berhenti hidup di dalam kebohongan. Di dalam penjara, ia memberikan kesaksian bagi para narapidana, salah satu kalimatnya ia mengatakan bahwa walaupun berada di dalam penjara, ia merasa sangat bebas.

Denzel Washington dan John Goodman mendapatkan nominasi sebagai pemeran terbaik dan pemeran pendukung terbaik oleh Golden Globe Award dan Satelite Award. Sutradara Flights Robert Zemeckis yang juga menyutradarai Cast Away, The Polar Express, Beowulf, A Christmas Carol menampilkan pesawat dalam keadaan terbang terbalik, adegan yang bisa dikatakan paling ekstrim. Mungkin setelah menonton film ini, ada orang-orang yang semakin takut bepergian dengan pesawat.

Sunday, 27 January 2013

LEBIH DARI EMAS 比金可贵


Mazmur 19.8-12 & Lukas 1.1-4 & 4.14-21



Daud mengatakan bahwa Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa, memberikan hikmat, menyukakan hati, membuat mata bercahaya, lebih indah daripada emas, lebih manis daripada madu (baca Mazmur 19.8-12). Apakah sebagian besar orang Kristen menyakini kebenaran tersebut? Jika ya, mengapa pada umumnya, orang Kristen tidak mempelajari firman TUHAN sendiri melainkan lebih memilih untuk menyerahkannya kepada para professional untuk menjelaskannya bagi mereka? Apakah karena takut menghadapi diri sendiri di saat membaca Alkitab? Di sisi lain, setiap orang membaca Alkitab dengan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang membaca Alkitab demi tantangan intelektual, melakukan riset dan mendalami Alkitab. Ada juga yang membaca Alkitab demi hal-hal praktis seperti untuk memperoleh petunjuk untuk hidup sehat, menjadi kaya dan berhasil. Ada juga yang membaca Alkitab demi inspirasi sebab Alkitab mengandung inspirasi yang sangat kaya. Yang pasti, membaca Alkitab bukan untuk mengumpulkan informasi atau menambah pengetahuan. Juga bukan untuk menguasai Alkitab, menjadi ahli Alkitab atau mempunyai diploma atau master Alkitab melainkan untuk membaca secara partisipatif untuk melihat ke dalam kehidupan interior kita melalui interaksi dengan Sang Pengwahyu Alkitab yaitu TUHAN Sendiri.


Ketika TUHAN memilih untuk menggunakan “penulisan” untuk mengkomunikasikan firman-Nya, Ia sedang mengambil resiko. Bahasa selalu melekat atau tertanam pada budaya. Saya sering mendengar orang Tionghoa yang meresponi ucapan 谢谢 (baca xie xie) dengan kata 不用谢 (baca bu yong xie) artinya tidak perlu mengucapkan terima kasih atau terima kasihnya ditolak. Orang Indonesia sering meresponi ucapan “terima kasih” dengan “sama-sama” atau “kembali”. Artinya terima kasihnya tidak diperlukan tetapi di kembalikan kepada pemberi ucapan terima kasih. Budaya Barat agak berbeda, ucapan “thank you” dibalas dengan “you are welcome”, ucapan terima kasihmu diterima dengan baik. Begitu juga dengan budaya Jepang, “Arigato gozaimasu” (terima kasih banyak) direspon dengan “dou itashimashite” (ini kesenangan saya).
 

Pernahkah Anda berpikir mengenai etimologi kata “sate” dan “tahu”? Dalam bahasa hokkien sate (sha teh) mengandung arti “tiga potong” sebab sate terdiri dari tiga potong daging sehingga disebut (sha teh – tiga potong). Sedangkan “tahu” (bahasa Tiochiu tao hu), tao berarti kacang dan hu berarti “busuk” / “fermentasi”. Pada masa kecil saya sering mendengarkan orang mengatakan “balikut” kepada anak-anak nakal yang terjatuh atau mainan mereka rusak. Akhirnya saya baru sadar ternyata yang dimaksud dengan “balikut” adalah “very good”. Pernah ketika saya naik bus bersama dengan teman saya dari Puncak menuju Bandung, di tengah perjalanan ada seorang anak muda naik ke atas bus dan berjualan buah salak. Ia berbicara panjang lebar memperkenalkan buah salaknya dalam bahasa Sunda. Saya hanya mendengar kata “salak”, “manis”, “Garut”, “murah” dan sisanya asing bagi saya. Saya kira anak muda ini sedang memperkenalkan salak dari Garut dengan panjang lebar dan setelah saya tanyakan kepada teman saya yang mengerti bahasa Sunda baru saya sadar bahwa ternyata anak muda tersebut bukan sedang mempromosi buah salak dari Garut melainkan sedang memarah-marahi penumpang karena tidak ada yang mau membeli buah salaknya. Karena tidak mengerti bahasanya, saya jadi salah memahami. TUHAN tidak menggunakan bahasa sorgawi untuk berkomunikasi dengan manusia melainkan Ia memilih untuk menggunakan bahasa yang dimengerti oleh manusia namun dengan demikian Ia harus menghadapi resiko salah interpretasi. Jika mau aman, TUHAN bisa menggunakan ilmu pasti seperti rumus aljabar, algoritma atau rumus perkalian untuk berkomunikasi namun rumus matematika tidak dapat menyampaikan pesan tentang kasih TUHAN bagi umat manusia.


Pepatah bahasa Inggris mengatakan, “one man’s tool is another man’s weapon” (alat di tangan seseorang dapat menjadi senjata di tangan orang lain). Kalimat ini juga muncul dalam film The Dark Knight Rises oleh Bruce Wayne. Setiap orang membaca Alkitab dengan praduga masing-masing. Seorang ilmuwan cenderung membaca Alkitab dengan sudut pandang ilmiah sedangkan seorang ahli sejarah akan memperhatikan berbagai unsur sejarah dalam Alkitab. Seorang ahli komputer mungkin akan membaca Alkitab dari sudut pandang komputerisasi. Diakui atau tidak, setiap kita mulai dengan sebuah “praduga”. Jadi, tidak heran ketika para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sangat menguasai kitab Taurat menolak dan bahkan hendak membunuh Yesus. Oleh sebab itu, seseorang dapat membaca Alkitab dan menjadi semakin rohani sedangkan yang lainnya menjadi semakin berhati keras dan cenderung mencari-cari kesalahan orang lain dan memanfaatkan pengetahuan Alkitab yang telah ia kuasai seperti yang dikatakan oleh Yesus, “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yoh 16.2).


Ada yang pernah mengatakan bahwa BIBLE singkatan dari “Basic Instructions Before Leaving Earth” yang artinya instruksi dasar sebelum meninggalkan bumi. Tetapi Alkitab bukan buku magic dan juga bukan Fortune Cookies (kue keberuntungan). Kita tidak dapat mengundi ayat firman TUHAN untuk memperoleh petunjuk dari-Nya. Seseorang mungkin berkata, “TUHAN saya mau bunuh diri, bolehkah? Dan ternyata ayat yang terundi adalah Yohanes 13.27 “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah segera”. Alkitab tidak dapat dibaca dengan sembarangan dipenggal. Pembagian Alkitab menjadi pasal dan ayat dilakukan dikemudian hari untuk mempermudah pencarian dan pengutipan. Ada yang karena membaca Wahyu 12:3 kemudian menyimpulkan bahwa naga itu sama dengan iblis tanpa memperhatikan bahwa naga yang dimaksudkan oleh Yohanes berkepala tujuh. Bagaimana dengan naga yang memuji TUHAN di Mazmur 148:7? Alkitab banyak menggunakan bahasa metafora seperti “TUHAN adalah batu”, bukan berarti setiap batu adalah TUHAN. Yesus adalah Singa Yehuda, tidak berarti singa itu Juruselamat sehingga kita harus menyembah singa di kebun binatang. TUHAN juga memerintahkan Yohanes, Yehezekiel dan Yeremia untuk memakan kitab (Why 10.9-10, Yeh 2.8-3.3, Yer 15.16), tentunya kita tidak diminta untuk memakan dan mengunyah Alkitab secara harafiah. Alkitab harus dibaca secara menyeluruh. 


Pada tahun 1966, Guinness World records mencatat Paul Getty sebagai orang terkaya di dunia dengan kekayaan sebesar 2 miliar dollar AS. Namun demikian, Paul Getty adalah orang yang sangat pelit, ia bahkan memasang telepon umum di dalam rumahnya sehingga setiap orang yang hendak meminjam telepon pada saat di rumahnya harus membayar saat menggunakan telepon. Pada saat anaknya diculik, ia menolak membayar 17 juta tuntutan penculik hingga telinga cucunya dipotong. Setelah tawar menawar yang cukup lama akhirnya ia membayar 2,2 juta kepada para penculik. Guinness World Records juga mencatat Henrietta “Hetty” sebagai orang terkikir di dunia, dengan kekayaan melebihi 100 juta dollar US pada tahun 1700-an (sekitar 2 miliyar US pada saat ini). Pada saat anak laki-lakinya patah tulang, Hetty menolak membawanya ke rumah sakit, melainkan ia membawa anaknya ke klinik kesehatan gratis khusus orang miskin. Sebaliknya TUHAN peduli dan secara ontologis ia hadir bagi umat manusia dan menanggung malu, derita serta mengorbankan Diri-Nya di atas kayu salib.


Firman TUHAN tidak hanya bersifat abstrak, filosofis maupun konseptual tetapi juga ontologis “Firman menjadi manusia”. Firman TUHAN memberitakan kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, kebebasan bagi yang tertindas dan ini semua digenapi dalam diri Yesus Kristus melalui Diri-Nya dan karya-Nya. TUHAN hadir bagi les miserables (baca orang-orang yang menderita). Tema besar Alkitab adalah “kasih” dimana TUHAN bersolidaritas, TUHAN menyamakan Diri-Nya dengan orang-orang yang menderita. Ia menyimpan air mata kita dalam kirbat-Nya (baca botol air) (Mazmur 56.9). Barangsiapa memberikan pertolongan kepada yang lemah, yang terkecil, yang tertindas, yang terbelenggu telah melakukannya pada Diri TUHAN. Ia mengajak kita untuk melihat wajah-Nya pada sesama seperti yang diungkapkan oleh Yakub kepada Esau yang kemudian juga muncul di dalam dialog film Les Miserables. Yakub berkata kepada Esau, “melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah” (Kejadian 33.10). 


Alkitab tidak untuk dipajang di rak buku tetapi untuk dikonsumsi secara spiritual. Ia lebih berharga dari emas karena ia dapat menyegarkan jiwa kita dan membuat mata kita bercahaya. Membuka hati untuk firman TUHAN juga berarti masuk ke dalam Cerita Allah dan klimaks dari Cerita tersebut adalah Firman menjadi manusia. Cerita tersebut di mulai di taman Eden dan akan berakhir di kota kudus, dimulai dengan pohon kehidupan dan akan diakhiri dengan pohon kehidupan. Inilah Cerita Sang Alfa dan Omega. Cerita ini masih berlangsung…



Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.  (Mazmur 19.8)









"Without Divine assistance I cannot succeed;  With it I cannot fail!" ~ Abraham Lincoln
"There are more sure marks of authenticity in the BIBLE than in any profane history." ...
I have a fundamental belief in the BIBLE as the Word of G-D, written by men who were inspired.  I study the BIBLE daily." ~ Sir Isaac Newton
"Suppose a nation in some distant Region should take the BIBLE for their only law Book,  and every member should regulate his conduct by the precepts there exhibited!   Every member would be obliged in conscience, to temperance, frugality,  and industry;  to justice, kindness,  and charity towards his fellow men;  and to piety, love,  and reverence toward  Almighty  G-D ...  What a Utopia,  what a Paradise would this region be" ~ John Adams

Kekuatan Kelemahlembutan - Bilangan 12