Monday, 10 August 2020

GOD STILL LOVES US

Will Smith berperan sebagai seorang ahli virus, dokter militer bernama Robert Neville dalam film I am Legend (2007). Sebuah outbreak pandemi yang melumpuhkan dunia. Gedung-gedung ditinggalkan, jalanan menjadi sepi, mobil-mobil berserakan di jalan. Orang-orang yang terinfeksi virus sudah menjadi dark seeker alias zombie yang menyerang dengan agresif dan kemudian menginfeksi yang bersangkutan dengan virus yang menjadikan yang terinfeksi berubah menjadi dark seeker.

Saudara, situasi sulit berpotensi membuat kita tertekan, putus asa dan bahkan menyerah. Dalam keadaan sulit, Robert tetap berjuang. Dia juga menyediakan tempat tinggal untuk Anna dan Ethan yang baru dia kenal. Perkataan Robert kepada Anna di dalam laboratorium, "God didn't do this. We did” menunjukkan imannya yang tidak menyalahkan TUHAN atas kondisi sulit yang dia alami.

Perkataan Anna, “If we listen, we can hear God’s plan” mengingatkan kita tentang firman TUHAN yang berbunyi, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!” (Yeremia 7:23).

Dalam kekesalannya, anjing kesayangannya, Robert mengatakan, “All right, let me tell you about your "God's plan". Six billion people on Earth when the infection hit. KV had a 90 percent kill rate, that's five point four billion people dead. Crashed and bled out. Dead. Less than one-percent immunity. That left 12 million healthy people, like you, me, and Ethan. The other 588 million turned into your dark seekers, and then they got hungry and they killed and fed on everybody. Everybody! Every single person that you or I has ever known is dead! DEAD! THERE IS NO GOD! (Baiklah, biar saya beritahu kamu rancangan TUHAN…virus tersebut memiliki tingkat mematikan sebesar 90%..dunia ini kini hanya tertinggal lebih sedikit dari 12 juta penduduk, seperti engkau, aku dan Ethan…sisanya sudah menjadi zombie…Setiap orang yang kita kenal sudah meninggal dunia. Mati! Tidak ada TUHAN!)

Mengapa Robert tiba-tiba berubah? Sebenarnya, Robert tidak berubah, tetapi dia sedang mengungkapkan sakit hatinya yang mendalam karena kehilangan Sam, anjing kesayangannya. Namun Robert tidak tenggelam di dalam kesedihannya, melainkan dia tetap memberikan perlindungan buat Anna dan Ethan serta berjuang menyembuhkan para dark seekers.

Jika Saudara menonton dengan teliti, Saudara juga akan menemukan poster bertulisan, “God still loves us.” Seperti tertulis dalam firman TUHAN, “Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga MENYAYANGI menurut kebesaran kasih setia-Nya” (Rat. 3:32). TUHAN tetap menyayangi kita, meskipun dalam situasi sulit.

Firman TUHAN mengatakan, “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita SEKETIKA lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin” (1 Pet. 5:10). Kiranya kita tetap kuat dan melayani kemanusiaan dalam situasi yang berat ini! God still loves us!

MENGGULUNG PAKAIAN

Bella dan Wisanti, dua anak berusia 9 tahun sedang melipat pakaian ketika mereka mengikuti himbaun “dirumahaja” (stay at home). Wisan bertanya, “Bel, tahukah kamu mengapa di saat ini orang-orang tidak berbelanja pakaian?” Bella berespon, “Ya, San, berpakain cantik untuk dilihat siapa, toh semua orang tinggal di rumah saja?”

Setelah selesai membantu mama melipat pakaian, Bella dan Wisan. memutuskan untuk mencari TUHAN Yesus.

TUHAN mengajak mereka ke sebuah tempat yang rimbun penuh dengan pepohonan dan terdengar suara aliran air sungai. Mereka disambut seekor kelinci berwarna abu-abu. yang terkesan malu-malu melihat kedatangan TUHAN, lalu melompat pergi.

TUHAN membawa mereka ke dalam sebuah pondok kecil. Lalu TUHAN mempersiapkan makanan buat Bella dan Wisan. Bella bertanya, “TUHAN, mengapa Engkau selalu menyajikan makanan buat kami?” TUHAN menjawab, “Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat” (Yes. 55:2b).

Setelah makan, TUHAN mengajak Bella dan Wisan keluar dari rumah kayu tersebut. Mereka melintasi sebuah jembatan kayu. Terdengar suara sungai dan burung berkicau. Bella menyeletuk, “TUHAN, mengapa Engkau tidak segera menghentikan COVID-19?”

TUHAN berkata, “Perhatikan sungai, polusi dan sampah telah menyebabkan binatang ciptaan-Ku hidup sengsara. Perhatikan es di kutub yang meleleh dengan cepat sehingga tempat tinggal beruang kutub kian hari kian mengecil. Perhatikan kejahatan manusia yang terus merusak ciptaan-Ku dari hari ke hari.”

Kemudian TUHAN memanggil Wisanti, “Wisan, apakah kamu melihat tanaman anggur ini?” “Ya, TUHAN” jawab Wisanti. TUHAN melanjutkan, “Apakah kamu melihat ranting-ranting anggur ini terlepas dari pokoknya?” Wisanti memohon, “TUHAN, bolehkah Engkau mengampuni manusia yang tidak mencari Engkau karena kekerasan hati mereka?”

Kemudian TUHAN Yesus menyambungkan ranting-ranting itu ke pokoknya. TUHAN berkata, “Jika mereka mengaku salah, dan bersedia sungguh-sungguh mencari Aku, mereka pasti akan tersambung ke pokoknya. TUHAN berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh. 15:4). TUHAN melanjutkan, “Ada banyak yang berdoa, tetapi tidak berdoa karena mereka hanya berkata-kata kepada angin. Mereka tidak mau berdiam diri, mereka hanya mengucapkan kata-kata doa setelah itu mereka melanjutkan kesibukan mereka. Mereka tidak mencari Aku.”

Bella bertanya, “TUHAN, apa yang Engkau ingin sampaikan kepada manusia?” TUHAN menjawab, “Bella, sudahkah kamu merenungkan Yeremia 2-4 yang Kuberikan kemarin? Bacalah secara perlahan dan renungkanlah.”

Wisan memohon, “TUHAN, bolehkah Engkau memberikan kami firman-Mu? Please!” “Anak-Ku, bacalah Ibrani 1:12.” Wisan langsung membuka Alkitabnya dan membaca, “seperti jubah akan Engkau gulungkan mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.”

Pandemi COVID-19 mengubah kehidupan manusia. Kiranya rasa sakit bersalin ini menyadarkan manusia akan betapa manusia telah merusak dunia ini. Kiranya manusia sungguh-sungguh memperbaiki diri, mencari TUHAN dalam keseharian-Nya dan memelihara ciptaan-Nya dengan setia.

Azazel

Min Min sedang bermain dengan boneka dombanya ketika Ming Li, mamanya mengajak dia membaca Alkitab bersama. Sambil menggendong dombanya, Min Min menyimak bacaan Alkitab yang dipimpin mamanya. Setelah selesai berdoa, Min Min bertanya, “Mama, mama (sambil menggendong dombanya erat-erat), apa arti Azazel?” Maka Ming Li menjelaskan…

Harun maupun keturunannya yang menjabat sebagai imam besar harus mempersiapkan dua ekor kambing jantan yang tidak bercacat. Harun harus mengundi menggunakan dua kotak. Kotak yang satu berisi tulisan. “Persembahan untuk TUHAN” dan kotak yang satu lagi berisi tulisan “Untuk Azazel” (Imamat 16:8). Kambing untuk Azazel umumnya dikenal dengan istilah “the scape goat”.

Kambing untuk Azazel yang sudah ditandai dengan tali merah ini akan dibawa dan dilepaskan ke padang gurun - “Harun harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kambing jantan yang hidup itu dan mengakui di atas kepala kambing itu segala kesalahan orang Israel dan segala pelanggaran mereka, apapun juga dosa mereka; ia harus menanggungkan semuanya itu ke atas kepala kambing jantan itu dan kemudian melepaskannya ke padang gurun dengan perantaraan seseorang yang sudah siap sedia untuk itu” (16:21). Kambing tersebut sebagai simbol menanggung segala kesalahan dan pelanggaran orang Israel. Tali yang berwarna merah akan menjadi putih karena terekpos sinar matahari seperti yang dikatakan oleh nabi Yesaya (1:18).

“Kambing hitam” atau Azazel tersebut harus diasingkan, ditolak, disingkirkan. Kamu sudah mengerti mengapa Tuhan Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Karena Yesus sedang menanggung dosa sehingga Dia harus mengalami dibuang, dikucilkan, diasingkan, ditolak Bapa yang di sorga. Yesus bagaikan “Azazel” yang dibuang demi kita.” Min Min mengangguk-angguk sambil memegang erat dombanya.

Kitab Ibrani memberitahukan bahwa “tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa” (10:4). “Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal” (Ibr. 9:12).

Dalam peristiwa penyaliban Kristus, kita bagaikan diperlihatkan dua ekor kambing. Kristus yang dikorbankan dan Barabas yang dilepaskan (Mat. 27:15-23). Menarik, bukan?

Setelah selesai mendengarkan penjelasan mamanya, Min Min bertanya, “Mama, mama hari ini kita masak apa?” Ming Li menjawab, “Hari ini kita membuat roti untuk dihadiahkan kepada orang-orang yang membutuhkan makanan. Sore ini, Raymond, kokomu akan mengajak kamu membagikan roti-roti ini.”

TERSERAH

Beberapa waktu yang lalu media diramaikan dengan berita “Indonesia? Terserah!” Tenaga medis telah berjuang keras demi Indonesia, tetapi banyak yang tidak peduli dengan protokol kesehatan. Hal tersebut pasti sangat menimbulkan sakit hati tenaga medis serta orang-orang yang mengharapkan agar Indonesia dapat segera bangkit dari pandemi ini bersama dengan beberapa negara lain yang sudah bangkit dengan The New Normal. COVID-19 dapat dikalahkan, tetapi kedegilan hati? Terserah!!!

Bagaimana jika TUHAN berkata, “Terserah!”? Saudara, dalam Bilangan 14 terdapat kisah di mana TUHAN seolah-olah berkata, “Terserah!” Dari 12 pengintai yang diutus Musa, hanya 2 di antaranya yang percaya bahwa TUHAN akan menyerahkan negeri yang dijanjikan-Nya kepada bangsa Israel. Mayoritas memutuskan untuk memilih seorang pemimpin baru dan kembali ke Mesir. Ketika Yosua dan Kaleb berusaha meyakinkan bangsa Israel bahwa TUHAN pasti akan menepati janji-Nya, orang banyak malah hendak melontari dua orang itu dengan batu (Bil. 14:10).

Maka TUHAN berkata kepada Musa, "Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka! Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka” (Bil. 14:11-12). TUHAN bagaikan berkata, “Terserah!” dan hendak menekan tombol reset.

Namun Musa memahami hati TUHAN sehingga dia memohon pengampunan kepada TUHAN - “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari” (Bil. 14:19). Dan TUHAN menjawab Musa, ”Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu“ (Bil. 14:20).

Namun TUHAN menegaskan bahwa mereka yang berusia 20 tahun ke atas tidak ada yang dapat memasuki Tanah Perjanjian karena ketidakpercayaan mereka. Perjalanan yang hanya membutuhkan waktu 2-4 minggu pun berubah menjadi 40 tahun. TUHAN sampai mengatakan kepada bangsa Israel yang keras hati itu, “Supaya kamu tahu rasanya” (Bil. 14:34).

Dengan teguran dari TUHAN, apakah mereka sudah menyadari kesalahan mereka? Mereka berkata, "Sekarang kita hendak maju ke negeri yang difirmankan TUHAN itu; memang kita telah berbuat dosa” (Bil. 14:40). Ya mereka menyadari, tetapi mereka kembali menyakiti hati TUHAN dengan pelangggaran berikutnya. Meskipun Musa berkata, “Janganlah maju, sebab TUHAN tidak ada di tengah-tengahmu, supaya jangan kamu dikalahkan oleh musuhmu, …sebab kamu berbalik membelakangi TUHAN, maka TUHAN tidak akan menyertai kamu” (Bil. 14:42-43). Mereka melakukan “double mistakes”. Nah, di sini TUHAN bagaikan kembali berkata, “Terserah!” karena mereka tidak mau mendengarkan perintah TUHAN, mereka diserang orang Amalek habis-habisan (Bil. 14:45). Menolak mendengarkan TUHAN adalah kebodohan. Hikmat TUHAN berkata, “Oleh sebab itu, hai anak-anak, dengarkanlah aku, karena BERBAHAGIALAH mereka yang MEMELIHARA jalan-jalanku” (Amsal 8:32).

BAGAIKAN SEORANG ANAK KECIL

Viona Shi berjalan di atas salju, itu merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya. Salju yang berwarna putih sangat menarik perhatiannya. Tiba-tiba dia melihat seekor kelinci putih berukuran besar (sekitar 1 meter. tingginya). Viona merasa heran karena dia belum pernah melihat kelinci sebesar itu. Dia juga melihat banyaknya telur paskah berukuran besar. Dia baru menyadari bahwa Hari Paskah sudah dekat. Dengan penuh sukacita dia berlari bermain dengan kelinci putih besar tersebut, sambil berlari mengitari telur-telur paskah. Viona melihat Kristus tersenyum kepadanya sambil duduk di atas sebuah batu besar. Viona kecil tersenyum kembali dan dia melompat-lompat gembira bersama kelinci tersebut. Dia merasa aman di bawah pengawasan Kristus. Setelah bermain, Kristus memanggil Viona untuk membaca 1 Yohanes 3. Kemudian Kristus menyentuh kepala Viona dengan lembut sambil memberkati dirinya.

Viona membaca, “kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2). Viona bersukacita karena firman TUHAN menegaskan bahwa dia “sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup” (1 Yoh. 3:14). Membaca ayat 17 yang berbunyi “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”, Viona langsung menyiapkan 5 biji telur, 1 kg beras, dan satu bungkus biskuit, lalu memesan Gofood. Ketika Ojol tiba dengan pesanan, Viona langsung menghadiahkan apa yang baru dia persiapkan kepada supir Ojol tersebut. Hati Viona dipenuhi dengan sukacita. Viona jadi mengerti mengapa dia “mempunyai keberanian percaya untuk MENDEKATI ALLAH” (1 Yoh. 3:21). Viona berdoa kiranya TUHAN memelihara setiap orang terutama pada masa yang sulit ini. Viona percaya bahwa Allah ada di dalam dia melalui Roh yang telah Ia karuniakan kepadanya (1 Yoh. 3:24).

Saya percaya setiap kita sangat sedih menyaksikan penderitaan akibat pandemik COVID-19 ini. Mungkin banyak yang merasa heran mengapa umumnya anak-anak tidak terinfeksi COVID-19. Memang ada anak-yang terinfeksi, tetapi persentasenya sangat kecil. Saya percaya para ahli akan melakukan lebih banyak penelitian untuk mencari tahu penyebab mengapa COVID-19 sepertinya tidak mengincar anak-anak.

Saya jadi teringat akan firman-Nya, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak. akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 18:3). Menjadi seperti anak-anak bukan berarti menjadi kekanak-kanakan, tetapi mempunyai karakter yang tulus dan polos di hadapan-Nya.

BELAJAR DARI NEHEMIA

Berita korban pandemi COVID-19 yang bertambah dari hari ke hari membuat hati kita sedih. Belum lagi berita tentang semakin banyaknya orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja, kehilangan penghasilan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berita buruk sungguh memberatkan hati. Nehemia juga menerima berita buruk dari Yerusalem saat dia bekerja sebagai seorang juru minuman raja. Nehemia memilih untuk berdoa puasa (1:4).

Dalam doanya Nehemia percaya akan kuasa TUHAN serta berpegang pada kesetiaan-Nya dalam memegang janji-Nya (1:5). Nehemia berdoa siang dan malam bagi bangsanya. (1:6). Dia mengaku dosa dan memohon pengampunan dosa dari TUHAN. Di dalam doanya, dia mengingat akan janji TUHAN kepada nenek moyang bangsanya (1:8-9).

Teladan Nehemia mengajarkan kita akan pentingnya doa, pengakuan dosa serta mempelajari firman-Nya. Firman TUHAN merupakan fondasi penting dalam berelasi dengan-Nya. Kita belajar bagaimana berelasi dengan TUHAN dari firman-Nya. Kita belajar mengenal dan terhubung dengan hati-Nya juga melalui firman-Nya.

SUPAYA KAMU BERBAHAGIA

Pernahkah Anda menyampaikan sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak ada yang mau mendengarkan dan memperhatikan? Apa perasaanmu jika Anda meminta orang-orang mengenakan masker, sering menyuci tangan dan menjaga jarak, tetapi Anda tidak didengar?

TUHAN pernah memperingatkan bangsa Yehuda, “Terimalah penghajaran, hai Yerusalem, supaya Aku jangan menarik diri dari padamu, supaya Aku jangan membuat engkau sunyi sepi” (Yer. 6:8). Namun “mereka tidak dapat mendengar!…Mereka tidak menyukaimya!” (Yer. 6:10). Bangsa Yehuda menghiraukan TUHAN, mereka mengejar keuntungan pribadi dan mencari damai sejahtera palsu (Yer. 6:14).

TUHAN menawarkan jalan keluar agar mereka mendapatkan ketenangan (Yer. 6:16), tetapi mereka berkata, “Kami tidak mau menempuhnya!” (Yer. 6:16b). TUHAN memberikan petunjuk, tetapi mereka berkata, “Kami tidak mau memperhatikannya!” (Yer. 6:17). TUHAN sampai mengatakan, “mereka tidak memperhatikan perkataan-perkataan-Ku dan menolak pengajaran-Ku” (Yer. 6:19). “Sebab itu, katakanlah kepada mereka: Inilah bangsa yang tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan yang tidak mau menerima penghajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus dari mulut mereka” (Yer. 7:28).

TUHAN memberikan solusi kepada mereka, “Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, MAKA AKU MAU DIAM BERSAMA-SAMA KAMU DI TEMPAT INI” (Yer. 7:3). “Jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan KEADILAN…tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah…MAKA AKU MAU DIAM BERSAMA-SAMA KAMU DI TEMPAT INI” (Yer. 7:7).

Keadilan sosial mendapatkan porsi penting dalam Alkitab. Yakni keadilan yang berlandaskan pada gambar Allah pada diri manusia. Sebagai penyandang gambar Allah, setiap kita dipanggil untuk mengasihi sesama dan menyediakan kebutuhan sesama, terutama dalam situasi sulit seperti sekarang ini. Setiap kita dipanggil untuk berperan serta dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada sesama.

TUHAN berkata, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!” (Yeremia 7:23).

BELAJAR DARI BURUNG

Dalam bacaan yang singkat (Matius 6:25-34), empat kali Yesus mengatakan “Jangan kamu kuatir!” Orang banyak pada zaman Yesus bergumul dengan kebutuhan hidup seperti makanan dan pakaian. Sedangkan umumnya orang zaman sekarang lebih menguatirkan tidak bisa makan enak dan berpakaian keren.

Yesus tidak hanya mengatakan “Jangan Khawatir!”, tetapi Dia memberikan alasan mengapa kita tidak perlu khawatir. Pertama, TUHAN adalah TUAN atas hidupmu (Mat. 6:24). TUHAN adalah Bapamu yang di sorga (Mat. 6:26). Percaya bahwa TUHAN adalah TUAN atas hidupmu berarti percaya Dia memegang kendali atas hidupmu. Percaya bahwa TUHAN adalah Bapamu berarti berserah pada pemeliharaan dan kasih sayang-Nya.

TUHAN mengatakan, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (Mat. 6:26). Pernahkah Saudara melihat burung yang sangat mengkhawatirkan hidupnya ketika dia sedang bertengger di pohon? Burung-burung tidak khawatir, juga tidak bermalas-malasan. Burung-burng tidak mengkhawatirkan wabah virus Corona. Burung-burung tidak mengkhawatirkan masa depan mereka karena BAPAMU (bukan bapa mereka) memelihara mereka. Bukankah kita LEBIH BERHARGA daripada burung-burung itu karena kita adalah anak-anak Bapa yang di sorga?

Kedua, kekhawatiran kita tidak mendatangkan manfaat. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Mat. 6:27). Kekhawatiran kita tidak memperpanjang hidup kita.

Kita mengkhawatirkan banyak hal dalam hidup ini. Kita mengkhawatirkan perekonomian, tinggi badan dan berat badan kita, menu makan kita. Kita tidak bisa berhenti khawatir. Kita sepertinya menderita wabah penyakit yang memperpanjang daftar kekhawatiran kita. Kita selalu merasa bahwa kita harus memegang kendali, kita dapat baru berhenti khawatir. Namun yang TUHAN inginkan adalah kita memercayakan hidup kita kepada-Nya. Biarlah TUAN dan Bapa kita memegang kendali hidup kita.

Ketiga, arahkan perhatianmu kepada TUHAN! Kekhawatiran muncul karena kita berfokus dan berpusat pada diri kita. TUHAN memberikan solusi terhadap kekhawatiran, yaktu arahkan hati kepadanya dan memprioritaskan Kerajaan-Nya. God demands a full and complete surrender.

Keempat, berdoalah! Firman TUHAN mengatakan, “Janganlah khawatir akan hidupmu!” (Mat. 6:25). Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6). Singkat kata, Janganlah kamu khawatir, tetapi berdoalah!

MEMINJAM PALU THOR

Penculikan, perdagangan manusia, perampokan dan kejahatan lainnya membuat kita geram. Kalau dimungkinkan, kita pinjam palu Thor untuk menghajar para pelaku kejahatan.

Penonton senang ketika menyaksikan keadilan ditegakkan, menyaksikan seorang mantan CIA, Bryan Mills (Liam Neeson) mengobrak-abrik sarang mafia Albania yang menculik dan memperdagangkan perempuan (Taken). Atau ketika Robert McCall (Denzel Washington), seorang mantan Defense Intelligence Agency menghajar para mafia Rusia yang mempekerjakan gadis remaja sebagai wanita penghibur.

Nahum (artinya: penghiburan) adalah sebuah kitab yang bernubuat tentang kejatuhan Asyur. Nah, jika kita adalah orang Yehuda atau orang-orang yang mengalami penindasan oleh kerajaan Asyur, kita akan sangat berharap nubuat kitab Nahum dapat segera terjadi.

Sekitar tahun 760 SM, TUHAN mengutus Yunus ke Niniwe, ibukota Asyur. Setelah mendengarkan, Yunus mereka bertobat. Namun sekitar seratus tahun kemudian, Asyur kembali ke kejahatan mereka. Jika Yunus adalah film serial, maka Nahum merupakan sekuel dari Yunus. Kitab Yunus berisi tentang pengampunan TUHAN (sekitar 800 SM), sedangkan kitab Nahum tentang penghakiman TUHAN (sekitar 650 SM).

Asyur tertarik dengan Yehuda karena letak geografis mereka yang strategis. Raja Hizkia memberontak terhadap Asyur serta memperkuat benteng Yerusalem (2 Taw. 32:5) mengantisipasi serangan Asyur.

Asyur dikenal sebagai teroris masa lalu. Dengan keyakinan mengandalkan kuasa para dewa, kerajaan Asyur menyerang dan mengalahkan banyak bangsa. Asyur terkenal dengan kesadisan mereka. Ketika menaklukkan sebuah kota, mereka membakar kota tersebut hingga ke fondasinya menyebabkan kota tersebut sulit dibangun kembali. Mereka juga mendeportasi mayoritas orang yang mereka taklukkan ke wilayah yang berbeda untuk mengantisipasi pemberontakan terhadap kerajaan Asyur di kemudian hari. Mereka memotong hidung, telinga, tangan, kaki atau mencungkil mata anggota militer yang mereka kalahkan. Mereka memenggal kepala dan menggantungkannya di pohon sebagai bentuk “warning” buat yang lain. Mereka sering mengirim pesan yang menakutkan ke negeri yang akan mereka serang. Dengan kata lain, mereka mengirim teror sebelum mendatangkan serangan militer.

Nahum adalah orang Elkosh (1:1). Kita tidak tahu Elkosh itu mana, tetapi sebagian orang percaya bahwa Elkosh itu adalah nama kuno dari Kapernaum. Nahum menyebut kejatuhan kota Amon atau Tebe (3:8) yang terjadi pada tahun 663 SM. Nahum bernubuat tentang kejatuhan Niniwe. Kota yang didirikan oleh Nimrod ini (Kej. 10:8-12) kemudian dihancurkan pada tahun 612 SM. Hal ini berarti Nahum berkhotbah di antara tahun 663-612 SM.

TUHAN berfirman, “Kehangatan amarah-Nya tercurah” (1:6). “Celakalah kota penumpah darah itu!” (3:1). TUHAN akan melenyapkan mereka dengan banyak kematian - “Tidak habis-habisnya mayat-mayat, orang tersandung jatuh pada mayat-mayat!” (3:3). “Ninewe sudah rusak! Siapakah yang akan meratapi dia?” (3:7). “Tiada pengobatan untuk cederamu, lukamu tidak tersembuhkan” (3:19). Sesuai dengan nubuat Nahum (1:14), raja Sennacherib dibunuh oleh dua putranya ketika dia sedang beribadah.

Kita ketahui dari Nahum bahwa “TUHAN itu panjang sabar” (1:3). “TUHAN itu baik” (1:7). Namun Dia bukan TUHAN yang lemah yang membiarkan kejahatan terus merajalela. TUHAN adalah Raja atas semesta. Raja yang kuat dan Mahakuasa. Percayakah Saudara kepada-Nya?

KETENANGAN HATI DI TENGAH PANDEMI

Krisis psikologis telah menjadi sebuah wabah dalam pandemi COVID-19 ini. Karena isolasi mandiri yang berkepanjangan, ketakutan menjadi sakit, kepedihan melihat anggota keluarga atau saudara yang sedang dirawat di ruang ICU, kekhawatiran bahkan kecemasan terhadap keterpurukan perekonomian global.

Berita-berita di media dan yang disebarkan melalui media seperti Whatsapp dan Facebook cenderung bersifat negatif. Media sosial yang cenderung berfokus pada berita-berita negatif meningkatkan kecemasan bagi penerima. Semoga media dapat memilih Constructive journalism atau solutional constructive reporting yang berfokus pada berita yang memberitakan solusi. Berita-berita yang berfokus pada perjuangan kemanusiaan dan nilai-nilai positif.

Solitusi dan keheningan merupakan solusi penting untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Kiranya kita juga berkata “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2). Kini kesempatan kita untuk belajar bersolitusi untuk memperoleh istirahat di dalam TUHAN (restedness).

KEMBALILAH!

Tuhan berkata, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin” (Yer. 2:2).

Ketika kita baru percaya kepada TUHAN, kita sangat bersemangat mencari Dia seperti orang yang baru berpacaran. Namun kasih kita pada masa muda kitapun kian hari kian pudar. Kita tidak mencari TUHAN (Yer. 2:6), dan para pendetapun tidak (Yer. 2:8).

TUHAN mengatakan, “umat-Ku menukarkan kemuliaannya dengan apa yang tidak berguna” (Yer. 2:11). TUHAN menegaskan bahwa kita menghabiskan banyak waktu mengerjakan yang tidak berguna. Kita sibuk mengisi air, padahal kolam kita bocor (Yer. 2:13). Kita sibuk mengejar kesia-siaan.

Ketika TUHAN menasihati, kita malah menjawab, “Percuma saja! Percuma!” (Yer. 2:25). Ketika TUHAN menegur, kita menjawab, “Aku tidak bersalah! …Aku tidak berdosa!” (Yer. 2:35). Dalam kesedihan-Nya, TUHAN bertanya, “Bukankah baru saja engkau memanggil Aku: Bapaku!?” (Yer. 3:4). Sehingga TUHAN berkata, “Kejahatanmu akan menghajar engkau” (Yer. 2:19). Engkau yang adalah “pokok anggur pilihan”, kini menjadi “pohon berbau busuk” (Yer. 2:21).

Cuci tangan dengan sabun selama 20 detik dapat menghancurkan virus corona, tetapi “sekalipun engkau. mencuci dirimu dengan. air abu, dan dengan banyak sabun, namun noda kesalahanmu tetap ada di depan mata-Ku” (Yer. 2:22).

TUHAN berkata, “Pikir-Ku: Sesudah melakukan semuanya ini, ia akan kembali kepada-Ku, tetapi ia tidak kembali” (Yer. 3:7). Sekalipun kita kembali, kita tidak kembali dengan tulus, melainkan dengan berpura-pura (Yer. 3:10).

TUHAN menegaskan bahwa Dia tidak akan murka selamanya, jika kita mengakui kesalahan kita (Yer. 3:12-13). Namun kita tidak mau mendengarkan suara-Nya (Yer. 3:13) dan malah memilih kebodohan (Yer. 4:22) serta membanggakan diri dengan kekayaan dan perhiasan untuk menarik perhatian orang. Sia-sia, kita mempercantik diri kita (Yer. 4:30). Kita akan dipermalukan karena “kita tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kita” (Yer. 3:23). “Seluruh negeri ini akan menjadi sunyi sepi” (Yer. 4:27).

Berulangkali TUHAN berseru, “Kembalilah!” (Yer. 3:14), anak-anak-Ku! Ikutlah Aku! (Yer. 3:19b). Aku akan “mengangkat gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku” (Yer. 3:15) “Aku akan menyembuhkan engkau” (Yer. 3:22). “Lilitlah kain kabung, menangis dan merataplah sebab murka TUHAN yang menyala-nyala tidak surut dari pada kita” (Yer. 4:8). Kembalilah kepada-Ku! (Yer. 4:1). Bersihkanlah hatimu! (Yer. 4:14). Kembalilah!

Kekuatan Kelemahlembutan - Bilangan 12