Thursday, 30 August 2012

PERSELISIHAN PAULUS & BARNABAS


Kisah Para Rasul 16.37-39

Setelah pertobatan Paulus, orang-orang Kristen masih sangat takut padanya karena dia telah banyak menganiayai orang-orang percaya. Barnabas yang kemudian menjelaskan kepada murid-murid yang lain bahwa Paulus sudah bertobat (Kis 9.26). Dari situlah persahabatan Paulus dan Barnabas terjalin. Nah, pada perjalanan misi pertama Paulus dan Barnabas, Markus, kemenakan Barnabas juga ikut serta (Kol 4.10). Di tengah perjalanan, Markus memutuskan untuk kembali ke rumahnya di Yerusalem (Kis 13.13) (Alkitab tidak menjelaskan alasannya). Kemudian ketika perjalanan kedua direncanakan, Barnabas memutuskan untuk membawa Markus sebagai penolong, tetapi Paulus menolak ide tersebut sehingga terjadilah perselisihan yang tajam antara kedua rasul ini (Kis 15.36-41). Karena tidak mencapai kesepakatan maka mereka berpisah dan kita tidak menemukan catatan di Alkitab bahwa mereka kembali bersama di dalam pelayanan.

Perselisihan Paulus dan Barnabas merupakan perbedaan pendapat tentang Yohanes Markus. Paulus yang task-oriented tidak mengingini Yohanes Markus yang tidak berkomitmen dan sulit diandalkan. Sedangkan Barnabas bersikap terbuka dan memberikan kesempatan bagi Yohanes Markus seperti yang pernah ia berikan kepada Paulus saat orang-orang pada takut padanya. Namun walupun berselisih, kedua orang ini tidak membiarkan perselisihan mereka menghalangi pelayanan mereka. Apa yang menjadi perbedaan kedua orang ini? Paulus bertindak berdasarkan pengalaman dan logika sedangkan Barnabas bertindak berdasarkan kasih, pengampunan dan tali persaudaraan. Apakah Paulus menyesal? Tidak bisa dipastikan namun di kemudian hari Paulus mengemukakan bahwa pelayanan Markus penting baginya (2 Tim 4.11 & Kolose 4.10).

Perbedaan pendapat akan selalu terjadi di dalam pelayanan akan tetapi yang terpenting adalah tetap berfokus dalam melaksanakan kehendak Tuhan. Penanganan perbedaan pendapat yang baik merupakan cermin dari kedewasaan rohani. Konflik Paulus dan Barnabas tidak membuahkan kepahitan. Dia juga menyebutkan di suratnya kepada jemaat di Korintus bahwa Barnabas berhak menerima bantuan keuangan (1 Kor 9.6). Saya yakin dokter Lukas mencatat peristiwa tersebut untuk menyadarkan kita akan adanya potensi konflik di tengah pelayanan namun kedewasaan rohani sangat dibutuhkan di dalam penangangan persoalan secara dewasa dan bukan secara emosional.

Rasa dendam dan kepahitan meraup kebahagiaan seseorang. Kepahitan juga menjadi beban hidup seseorang. Rasa dendam dan kepahitan yang berkepanjangan berpotensi menjadi sumber gangguan jiwa seseorang. Kasih dan kedewasaan rohanilah yang dapat membebaskan seseorang dari belenggu rasa dendam dan kepahitan. Setiap kita tahu akan pentingnya pengampunan akan tetapi kita mungkin bertanya, tetapi bagaimana? Pengampunan terjadi apabila dimulai dengan sebuah “niat” untuk mengampuni, tidak menghakimi dan bersedia untuk “menggeser kamera”. Dengan menggeser kamera, kita mengubah sudut pandang kita kepada perspektif orang yang tidak kita sukai. Plato mengatakan, “Be kind, everyone you meet is fighting a hard battle”. Seseorang bisa salah paham pada kita karena ia belum bisa memahami kita. Ia belum mampu melihat dari sudut pandang kita. Kita juga perlu mengakui keterbatasan kita untuk memahami segala sesuatu.

No comments:

Post a Comment