Perayaan “春节” (baca chun jie) atau lebih dikenal dengan sebutan “imlek” lebih
tepatnya “festival musim semi” dimulai dengan berkumpul bersama anggota keluarga.
Setiap anggota keluarga mengharapkan pembaharuan dan berkat dari Yang Maha
Kuasa “上帝” (baca shang di). Biasanya ibu akan memasak makanan yang banyak untuk
dinikmati sekeluarga. Makanan tersebut merupakan pertanda “kasih” atau sebut
saja dengan “love-feast” (baca perjamuan kasih). Pada saat
keluarga berkumpul di meja makan, ayah akan memulai memberikan lauk kesukaan
ibu kepada ibu sambil mengucapkan doa berkat. Ayah juga memberikan lauk kepada
anak-anak lainnya setelah itu dilanjutkan oleh ibu untuk memberikan lauk ke
piring anak-anak sambil mengucapkan doa berkat seperti “新年进步” (baca xin nian jin bu –
semakin maju di tahun baru), “身体健康” (baca shen ti jian kang – tubuh
yang sehat). “除夕” (baca chu xi – sehari sebelum imlek) merupakan hari bahagia bagi
keluarga untuk berkumpul, berbagi cerita, saling menguatkan, saling menghibur,
saling memberkati, saling mendoakan. Ini merupakan momen yang sangat
menghangatkan atau momen yang penuh dengan sukacita.
Setelah makan malam, orangtua
memberikan “红包” (baca hong bao) kepada anak-anak sebagai ucapan doa berkat buat
anak-anak. Orangtua mengharapkan doa mereka didengarkan oleh “上天” (baca shang tian) TUHAN Yang
Mahatinggi. Harapan orangtua bagi anak-anak adalah semoga putera-puteri mereka
dilindungi, diberkati, dijaga dan diberikan masa depan yang cerah oleh Yang
Mahatinggi. Dan Ang Pao merupakan doa berkat dan tanda kasih sayang mereka
untuk anak-anak atau saya akan menyebutnya dengan “love-blessings” (baca
berkat kasih).
Di momen imlek, sanak famili
dan sahabat akan saling mengunjungi untuk saling memperhatikan, menanya kabar
dan saling mendoakan. Menurut saya “拜年” (baca bai nian) atau lebih
dikenal dengan kata “pai cia” lebih baik digantikan dengan “kunjugan kasih” (love-visit). Kiranya momen saling
mengunjungi menjadi momen “pertemuan jiwa dengan jiwa” (baca soul meeting soul fellowship).
Imlek “Chinese New Year” yang
seringkali dibumbui dengan takhyul, rasa takut pada monster nian, pantangan (seperti tidak boleh menyapu, harus mengenakan pakaian merah) dapat
diberikan “pemaknaan baru” menjadi
momen yang penuh kehangatan, kasih sayang, perhatian, persahabatan dan
keramahtamahan.